Surabaya 10 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Tingginya permintaan ikan nila dan lele di tengah keterbatasan lahan budidaya menjadi tantangan bagi pembudidaya sektor akuakultur air tawar. Hal tersebut membuat lima mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan inovasi budidaya yang lebih efisien melalui sistem Aquaspiral Nexus.
Inovasi tersebut mereka usung dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Eksakta (RE) 2026 dan berhasil lolos pendanaan Kemdiktisaintek. Penelitian yang diangkat berjudul Efektivitas Sistem RAS dan IMTA melalui Aquaspiral Nexus pada Budidaya Nila-Lele.
Tim INARISE terdiri dari Muhammad Iqbal Ferdhiansyach Kharits, Muhammad Ganiknow Tranadi, Fikri Syufi Ramadhan, Dania Martini, dan Sabiyla Azzahra dengan bimbingan Muhammad Hanif Azhar SPi MSi PhD.
Integrasi RAS dan IMTA untuk Budidaya Optimal
Iqbal, selaku ketua tim, menjelaskan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem budidaya nila dan lele yang lebih efektif pada lahan terbatas tanpa mengurangi produktivitas. Mereka mengombinasikan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) dan Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA).
“Kami ingin menciptakan sistem budidaya yang lebih ekonomis dan efektif, khususnya untuk komoditas nila dan lele yang memiliki permintaan pasar tinggi. Melalui kombinasi RAS dan IMTA, kami berharap dapat mengoptimalkan penggunaan air sekaligus meningkatkan kualitas budidaya,” ujarnya
Aquaspiral Nexus: Budidaya Lebih Efisien
Nino juga mengungkapkan bahwa sistem RAS konvensional memiliki sejumlah keterbatasan, terutama filtrasi. Oleh karena itu, mereka mengembangkan Aquaspiral Nexus, inovasi yang menggabungkan filtrasi mekanis dan biologis untuk meningkatkan kualitas air budidaya.
“Aquaspiral Nexus merupakan sistem yang memanfaatkan aliran air berbasis gravitasi yang membentuk pola spiral sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien. Sistem ini juga dilengkapi filter yang mampu menyerap zat-zat toksik sehingga pembuangan air dapat diminimalkan,” jelasnya.
Selain mengintegrasikan filtrasi mekanis dan biologis, inovasi ini juga menerapkan konsep IMTA melalui integrasi tanaman kangkung sebagai filter biologis. Mereka akan mengukur berbagai parameter seperti kualitas air dan pertumbuhan ikan untuk mengetahui efektivitas sistem yang mereka kembangkan.
Melalui penelitian ini, tim INARISE menyampaikan harapan agar hasil penelitian berdampak bagi para pembudidaya. “Kami berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat nyata bagi para pembudidaya. Khususnya dalam menekan biaya produksi dan mempermudah proses monitoring budidaya. Harapannya, inovasi ini tidak hanya lolos hingga Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), tetapi juga menarik perhatian berbagai pihak agar bisa berkembang lebih luas,” pungkasnya. (rin)
