More
    BerandaUncategorizedPenggunaan Media Sosial Kian Dominan di Kalangan Anak-Anak, Pakar UNAIR Ingatkan Risikonya

    Penggunaan Media Sosial Kian Dominan di Kalangan Anak-Anak, Pakar UNAIR Ingatkan Risikonya

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 11 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah meningkatnya polarisasi di ruang digital, media sosial turut membawa konsekuensi terhadap cara masyarakat berinteraksi dan membangun relasi sosial. Anak-anak menjadi kalangan yang rentan mengalami dampak buruk dari interaksi yang terbangun melalui media virtual itu. 

    Pada momen Hari Media Sosial Nasional yang jatuh pada 10 Juni, Guru Besar Media Prof Dra Rachmah Ida MComms PhD mengingatkan adanya risiko penggunaan media sosial di kalangan anak-anak. Saat ini, katanya, banyak anak mengenal media sosial sejak usia sangat dini. Bahkan, sebagian orang tua telah memperkenalkan anak pada dunia digital sebelum mereka memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami berbagai risiko yang ada di dalamnya.

    “Anak-anak sekarang tumbuh bersama media sosial. Padahal, orang tua merupakan role model utama yang seharusnya membentuk nilai, karakter, dan cara anak memahami lingkungan sosialnya,” ujarnya.

    Risiko Digital dan Alienasi Sosial

    Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR itu menjelaskan bahwa ruang digital menyimpan berbagai risiko yang sering luput dari perhatian masyarakat. Salah satunya adalah ancaman predator digital dan eksploitasi anak yang dapat memanfaatkan berbagai informasi pribadi yang tersebar di internet. Selain itu, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental generasi muda. 

    Menurutnya, banyak anak dan remaja merasa nyaman berada di ruang digital, tetapi perlahan kehilangan kesempatan untuk membangun interaksi sosial yang lebih luas. “Media sosial membuat sebagian anak merasa cukup dengan dunia digitalnya. Akibatnya, mereka berisiko mengalami alienasi sosial karena berkurangnya interaksi langsung dengan lingkungan sekitar,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan anak dalam membangun relasi sosial, empati, serta keterampilan komunikasi yang mereka butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam jangka panjang, paparan interaksi digital yang tidak terkontrol juga berpotensi membentuk pola hubungan yang lebih individualistis. Sehingga anak cenderung mengalami kesulitan dalam memahami emosi.

    Peran Keluarga, Sekolah, dan Literasi Digital

    Prof Ida menekankan bahwa keluarga memegang peran utama dalam membangun kebiasaan bermedia sosial yang sehat. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping sekaligus pengawas yang membantu anak memahami manfaat dan risiko penggunaan media sosial.

    Selain keluarga, sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat interaksi sosial secara langsung melalui berbagai aktivitas pembelajaran dan pengembangan karakter. Menurutnya, lembaga pendidikan perlu mendorong siswa untuk aktif berkomunikasi dan berkolaborasi di dunia nyata. Bukan hanya di ruang digital.

    Dalam konteks yang lebih luas, Prof Ida menilai literasi digital menjadi kemampuan yang wajib masyarakat miliki. Kemampuan tersebut mencakup keterampilan memilah informasi, mengenali sumber yang kredibel, menjaga keamanan data pribadi, serta membangun resiliensi diri terhadap hoaks dan manipulasi informasi.

    “Gunakan media sosial secara bijak, seperlunya, dan dengan kesadaran penuh terhadap risiko yang ada. Bijak bermedia sosial menjadi kunci agar tetap menjadi ruang yang sehat, bukan ruang yang mengendalikan penggunanya,” pungkasnya. (naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru