Surabaya, 25 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Menangani orang telantar (OT) tidak hanya membutuhkan kepedulian, tetapi juga ketelitian dalam memastikan setiap pelayanan diberikan sesuai prosedur dan tepat sasaran. Dinas Sosial (Dinsos) Jatim melalui inovasi Sistem Informasi Manajemen Pemulangan Orang Telantar yang Terintegrasi dan Teredukasi (Sahabat Pulang) melakukan asesmen, verifikasi identitas, serta penelusuran riwayat pelayanan sebelum menentukan penanganan bagi setiap OT yang datang.
Tantangan tersebut kembali dihadapi petugas, Kamis (24/9/2026), ketika seorang perempuan datang untuk meminta bantuan pemulangan ke daerah asal. Dari hasil pemeriksaan awal, perempuan tersebut diketahui sebelumnya pernah mendapatkan pelayanan di Dinsos Jatim.
Saat menjalani asesmen, perempuan tersebut tidak membawa dokumen identitas diri dan menyampaikan bahwa dokumennya telah hilang. Kondisi ini membuat petugas perlu melakukan klarifikasi dan penelusuran lebih lanjut sebelum menentukan langkah penanganan.
“Kalau tidak membawa identitas, kami perlu melakukan pengecekan terlebih dahulu. Kami tidak bisa langsung memberikan pelayanan pemulangan hanya berdasarkan keterangan yang disampaikan, karena identitas dan riwayat pelayanan harus dipastikan,” ujar Sub Koordinator Penanganan Korban Bencana Sosial Dinsos Jatim, Liawati Suntiana.
Menurutnya, penelusuran riwayat menjadi bagian penting dalam proses asesmen, terutama ketika seseorang datang kembali dan sebelumnya sudah pernah mendapatkan pelayanan. Data tersebut menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
“Kami harus melihat terlebih dahulu apakah yang bersangkutan pernah mendapatkan pelayanan sebelumnya. Data tersebut menjadi bahan pertimbangan kami dalam menentukan tindakan selanjutnya,” jelasnya.
Untuk mendukung proses tersebut, Dinsos Jatim memanfaatkan Sahabat Pulang. Sistem ini membantu petugas melakukan pendataan, identifikasi, serta penelusuran riwayat pelayanan OT.
Inovasi Sahabat Pulang menjadi bagian dari upaya Dinsos Jatim agar proses penanganan tidak hanya mengandalkan informasi yang disampaikan oleh OT. Petugas dapat melakukan pencocokan data dan melihat riwayat pelayanan sebagai bahan dalam menentukan bentuk bantuan yang sesuai.
“Kami tetap harus memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan, tetapi pelayanan juga harus mengikuti prosedur. Jadi, setiap kasus harus dilihat berdasarkan hasil asesmen dan data yang ada,” tambah Liawati.
Dinsos Jatim juga memastikan bahwa ketiadaan dokumen identitas tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan akses terhadap penanganan. Dalam kondisi tertentu, petugas dapat melakukan proses identifikasi dan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk memastikan identitas serta daerah asal yang bersangkutan.
Namun, proses tersebut tetap membutuhkan waktu dan tahapan yang harus dilalui. Hal ini menjadi bagian dari tanggung jawab petugas agar pelayanan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan sekaligus mencegah terjadinya kesalahan dalam proses pemulangan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pelayanan OT memiliki tantangan yang beragam. Petugas tidak hanya dituntut memiliki kepedulian dan empati, tetapi juga harus mampu melakukan asesmen secara cermat, memeriksa data, serta mengambil keputusan berdasarkan kondisi dan informasi yang terverifikasi.
Melalui penguatan pendataan dan pemanfaatan inovasi Sahabat Pulang, Dinsos Jatim terus berupaya memastikan pelayanan bagi orang telantar berjalan secara humanis, terukur, dan sesuai prosedur. Dengan demikian, setiap penanganan dapat diberikan berdasarkan kebutuhan serta kondisi masing-masing OT.(wt)
