Surabaya 17 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Malang Raya selama ini dibanggakan sebagai kota pendidikan. Ratusan ribu mahasiswa datang, belajar, dan bergerak setiap hari. Namun di balik geliat akademik itu, ada satu hal yang jarang dibicarakan: jejak energi yang dihasilkan dari mobilitas mahasiswa.
Dengan jumlah mahasiswa yang diperkirakan mencapai lebih dari 300 ribu orang di Malang Raya, aktivitas perkuliahan bukan hanya urusan akademik, tetapi juga soal transportasi, konsumsi BBM, dan emisi karbon. Jika sebagian besar mahasiswa menggunakan kendaraan pribadi—terutama sepeda motor—maka mobilitas harian ini menjelma menjadi konsumsi energi dalam skala besar.
Mari kita gunakan pendekatan sederhana. Jika 60% mahasiswa menggunakan kendaraan pribadi dengan konsumsi rata-rata 1 liter BBM per hari, maka potensi konsumsi mencapai sekitar 180.000 liter BBM setiap hari. Dalam sebulan aktif perkuliahan, angka ini bisa menembus jutaan liter. Padahal, sektor transportasi sendiri merupakan penyumbang utama konsumsi energi nasional, sebagaimana dicatat oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam laporan statistik energinya.
Pertanyaannya, apakah pola ini harus terus dipertahankan?
Di sinilah gagasan Work From Home (WFH) atau pembelajaran daring parsial di perguruan tinggi menjadi relevan. Bukan sebagai warisan pandemi, tetapi sebagai strategi rasional menghadapi tantangan energi dan ekonomi hari ini.
Jika separuh aktivitas perkuliahan dialihkan ke daring—misalnya 2–3 hari dalam seminggu—maka potensi pengurangan konsumsi BBM bisa mencapai 90.000 liter per hari. Dalam sebulan, penghematan bisa mencapai sekitar 1,8 juta liter BBM. Jika dikonversi ke emisi karbon, dengan asumsi 1 liter BBM menghasilkan sekitar 2,3 kg CO₂, maka terdapat potensi pengurangan emisi hingga lebih dari 4.000 ton CO₂ per bulan.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah gambaran bahwa kebijakan pendidikan dapat berkontribusi langsung terhadap isu energi dan lingkungan.
Namun, resistensi terhadap WFH di perguruan tinggi sering muncul dengan satu argumen klasik: belajar harus tatap muka. Pandangan ini sebenarnya perlu ditinjau ulang.
Dalam perspektif pendidikan modern, belajar tidak lagi dipahami sebagai kehadiran fisik semata. Teori konstruktivisme yang dikembangkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky menegaskan bahwa pengetahuan dibangun melalui proses aktif—melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi—yang tidak selalu bergantung pada ruang kelas formal.
Lebih jauh, pemikiran Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membatasi. Dalam konteks ini, WFH justru membuka ruang baru: fleksibilitas belajar, akses terhadap sumber global, serta kemandirian intelektual mahasiswa.
Jika ditarik ke tujuan pendidikan yang lebih mendasar, WFH justru dapat memperkuat tiga hal penting:
pertama, how to make a living, karena mahasiswa dapat mengakses peluang kerja dan magang digital;
kedua, how to make meaningful, karena belajar tidak lagi sekadar hadir, tetapi menjadi proses reflektif;
dan ketiga, how to make a noble, karena kesadaran untuk menghemat energi dan menjaga lingkungan adalah bagian dari nilai moral pendidikan itu sendiri.
Bagi Kabupaten Malang, relevansi WFH bahkan lebih kuat. Wilayah yang luas dengan jarak tempuh panjang membuat mahasiswa dari daerah pinggiran harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar. Dalam situasi ini, WFH bukan hanya kebijakan pendidikan, tetapi juga kebijakan sosial dan ekonomi yang meringankan beban masyarakat.
Tentu, WFH bukan tanpa kelemahan. Kesenjangan akses internet, potensi menurunnya interaksi sosial, serta disiplin belajar menjadi tantangan nyata. Namun solusi bukanlah menolak WFH, melainkan merancang model yang lebih adaptif.
Di sinilah konsep hybrid learning menjadi jalan tengah: sebagian kegiatan dilakukan secara daring untuk efisiensi, sementara kegiatan yang membutuhkan interaksi intens tetap dilakukan secara tatap muka. Pendekatan ini juga didukung oleh studi dari UNESCO yang menekankan pentingnya kombinasi fleksibilitas dan kualitas dalam sistem pendidikan pasca pandemi.
Akhirnya, kita perlu jujur melihat kenyataan: pendidikan tidak berdiri di ruang hampa. Ia selalu terkait dengan ekonomi, energi, dan masa depan lingkungan.
Di Malang Raya, dengan ratusan ribu mahasiswa yang bergerak setiap hari, mempertahankan pola lama tanpa inovasi bukan hanya tidak efisien, tetapi juga tidak relevan dengan tantangan zaman.
WFH di perguruan tinggi bukanlah kemunduran. Ia adalah evolusi cara kita belajar.
Dan mungkin, di tengah krisis energi dan perubahan global, pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi “apakah kita siap WFH?”, tetapi: apakah kita masih bisa bertahan tanpa berubah?
Rujukan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Statistik Energi Indonesia.
UNESCO. (2020). Education in a post-COVID world.
Jean Piaget. (1972). The Psychology of the Child.
Lev Vygotsky. (1978). Mind in Society.
Paulo Freire. (1970). Pedagogy of the Oppressed
Penulis :
Ir. Priska Wulan Ndari, ST, MT dan M. Isa Ansori, M.Psi
Dosen di STT Multimedia Internasinal Malang
