More
    BerandaUncategorizedKisah Pedagang Tahu Keling di Bratang Gede; 23 Tahun Pulang Pergi Jombang–Surabaya

    Kisah Pedagang Tahu Keling di Bratang Gede; 23 Tahun Pulang Pergi Jombang–Surabaya

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 28 Februari 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di antara hiruk pikuk Kota Pahlawan, sosok Saiful (45) melintas dengan sepeda motor bersirine khas berbunyi “tolilet-tolilet”. Dua blek seng berisi tahu kotak, tahu bulat, dan tahu susu terpasang di kanan-kiri motornya. Ia menyusuri gang-gang di kawasan Bratang Gede, mendatangi para pelanggan setianya—kebanyakan ibu-ibu rumah tangga.

    Saiful sehari-hari berjualan di sekitar Jalan Ngagel Tirto, Bratang, dan Bratang Gede, Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Ia juga memiliki langganan di Surabaya Barat, tepatnya kawasan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.

    Tak banyak yang tahu, setiap hari Saiful menempuh perjalanan panjang dari Desa Sumobito, Kabupaten Jombang, menuju Surabaya demi mengais rezeki untuk keluarga kecilnya.

    “Saya asal Sumobito, Jombang. Tiap hari berangkat sekitar pukul 02.00 dini hari dari desa, membawa tahu di dua blek yang dibonceng motor. Sampai Surabaya pagi hari, langsung jualan,” ujar Saiful saat ditemui di Jalan Bratang Gede, Sabtu (28/02/2026).

    Sepeda motornya dimodifikasi sederhana. Dua blek berbahan seng menempel di sisi kanan dan kiri, serta satu galon untuk menyimpan tahu dagangannya. Meski sederhana, perlengkapan itu menjadi penopang utama usahanya selama puluhan tahun.

    Setiap hari ia menyusuri jalur alternatif pedesaan, melewati hamparan sawah dan jembatan Kali Brantas, melintasi rute Jombang–Mojokerto–Krian hingga Surabaya. Sore harinya, ia kembali pulang ke Sumobito dengan rute yang sama.

    Ritme tersebut telah dijalaninya selama 23 tahun, sejak masih bujang, bahkan sejak era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

    “Dulu awalnya jualan di Surabaya Barat, daerah Pakis, Putat Gede, Putat Jaya, Dukuh Kupang, Kembang Kuning, Kecamatan Sawahan. Karena terlalu jauh, akhirnya pindah ke wilayah Bratang yang lebih dekat,” tuturnya.

    Tahu yang dijual Saiful bukan produksi sendiri. Ia mengambil setoran dari produsen tahu di Jombang, lalu menjajakannya di Surabaya. Harga jualnya pun terjangkau: tahu kotak Rp2.500 per biji, tahu susu dan tahu bulat Rp2.500 per bungkus.

    Penghasilannya tak menentu. Kadang laris manis, kadang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, dari hasil jualan itulah ia membiayai dua anaknya hingga menyelesaikan pendidikan.

    “Tidak masalah, meskipun hasilnya sedikit tapi barokah dan halal. Daripada banyak tapi tidak barokah, buat apa,” ungkapnya.

    Kini, di usia hampir setengah abad, Saiful yang beristrikan warga asli Bratang Perintis Surabaya masih setia menembus jarak Sumobito–Surabaya setiap hari dengan motor tuanya.

    “Sampai kapan saya jalani? Hanya Allah SWT yang tahu,” ucapnya lirih.

    Di balik tahu dagangan yang sederhana, tersimpan kisah ketekunan, keuletan, dan kesederhanaan. Perjalanan panjang setiap dini hari menjadi bukti perjuangannya menjaga dapur tetap mengebul dan keluarga tercinta tetap tersenyum.(myo)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru