Surabaya 7 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memaparkan berbagai program pelestarian lingkungan saat menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia bersama Menteri Lingkungan Hidup di kawasan Ampel, Surabaya, Sabtu (6/6/2026).
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Se Dunia 2026 ini, Kementerian Lingkungan Hidup mengadakan teleconference ke 7 Provinsi di Indonesia terkait perkembangan upaya pelestarian lingkungan yang telah dilakukan Pemerintah Daerah. Salah satunya dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
Di hadapan menteri Lingkungan Hidup Gubernur Khofifah, menegaskan bahwa gerakan mewujudkan Indonesia yang asri harus dilakukan secara menyeluruh melalui langkah promotif, preventif, dan kuratif.
Menurutnya, kegiatan bersih-bersih lingkungan menjadi bagian dari upaya kuratif, sementara berbagai program pelestarian alam yang dijalankan pemerintah daerah merupakan langkah promotif dan preventif.
Gubernur Khofifah menjelaskan, salah satu program yang terus diperkuat adalah rehabilitasi dan penanaman mangrove. Ia menyebut mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida hingga lima kali lebih besar sehingga berperan penting dalam menjaga kualitas lingkungan.
“Festival mangrove telah kami lakukan selama tiga tahun terakhir. Dari total luasan mangrove di Pulau Jawa, sekitar 51 persen berada di Jawa Timur. Ini menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif yang kami lakukan bersama berbagai elemen masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov Jatim juga mengembangkan program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan yang telah diusulkan dalam ajang Innovative Government Award (IGA) Kementerian Dalam Negeri.
Melalui program tersebut, area belakang sekolah yang sebelumnya menjadi lokasi penumpukan sampah kini diubah menjadi lahan produktif untuk budidaya sayuran, buah-buahan, dan perikanan. Untuk sekolah yang memiliki keterbatasan lahan, kegiatan bercocok tanam dilakukan menggunakan polybag.
“Bagaimana sampah bisa diolah menjadi pupuk, kemudian dimanfaatkan untuk menanam sayur, buah maupun mendukung sektor perikanan. Program ini sudah berjalan di Jawa Timur,” katanya.
Di sektor pengelolaan sampah, Gubernur Khofifah juga mendorong percepatan implementasi program PSL yang mengubah sampah menjadi energi listrik. Menurutnya, skema yang saat ini mensyaratkan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari perlu dikaji agar daerah dengan produksi sampah sekitar 500 ton per hari juga dapat memperoleh akses program tersebut.
Ia mencontohkan kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya yang memenuhi kapasitas 1.000 ton per hari. Namun, wilayah lain seperti Kediri Raya dan Mataraman juga dinilai layak mendapatkan dukungan pembangunan fasilitas serupa meski volume sampahnya lebih kecil.
“Saya mengusulkan agar daerah dengan kapasitas sekitar 500 ton per hari juga bisa masuk program PSL. Jangan menunggu sampai 1.000 ton karena proses pembangunan infrastruktur bisa memakan waktu bertahun-tahun,” ujarnya.
Gubernur Khofifah menambahkan, pada 28 Maret lalu telah dilakukan penandatanganan komitmen bersama tujuh bupati dan wali kota di Jawa Timur dengan Kementerian Lingkungan Hidup terkait pengembangan program tersebut.
Ia berharap kerja sama antara pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dan Danantara dapat segera dituntaskan sehingga proyek PSL di Jawa Timur dapat segera direalisasikan.
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dan pengelolaan sampah yang dinilai telah menjadi gerakan bersama di berbagai daerah.
“Alhamdulillah, Ibu Gubernur memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap lingkungan hidup dan juga persoalan sampah. Bahkan telah menjadi gerakan di berbagai tempat untuk menjaga lingkungan menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah perlu terus diperkuat untuk mencari berbagai solusi pengolahan sampah yang efektif, termasuk bagi daerah yang volume sampahnya masih berada di bawah 1.000 ton per hari.
“Mudah-mudahan apa yang dilakukan di Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi provinsi-provinsi lain di seluruh Indonesia,” pungkasnya. (pca)
