More
    BerandaUncategorizedTim PKM UNAIR Gagas Revitalisasi Ruang Apung bagi Perempuan dalam Budaya Petik...

    Tim PKM UNAIR Gagas Revitalisasi Ruang Apung bagi Perempuan dalam Budaya Petik Laut

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 8 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Di balik meriahnya budaya Petik Laut yang telah diwariskan turun-temurun di Pulau Bawean, terdapat peran penting perempuan dalam membantu menyiapkan ritual sebelum nelayan melaut. Namun sayangnya, peran tersebut jarang mendapat sorotan. Hal itu menarik perhatian lima mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam tim Ruang Apung.

    Dari kondisi tersebut, tim Ruang Apung mengajukan gagasan dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Sosial Humaniora (RSH) 2026 dan berhasil lolos pendanaan Kemdiktisaintek. Mereka mengusung penelitian bertajuk Revitalisasi Ruang Apung untuk Perempuan Pulau Bawean sebagai Gatekeeper Budaya Petik Laut melalui Feminist Expressive Arts dan Visibilitas Gender.

    Tim tersebut terdiri atas Dina Fadiah (FISIP), Ezza Rafiekaningrum (FISIP), Muhammad Aqeel Ramadhan Nurcahyo (FEB), Malikah Qurrota Aini (FISIP), dan Muhammad Yasir Dharmawan Diniy (FISIP). Tim ini di bawah bimbingan Nur Syamsiyah SSosio MSc.

    Perempuan sebagai Penjaga Tradisi

    Dina selaku ketua tim mengungkapkan, meskipun perempuan memiliki kontribusi besar dalam pelestarian budaya lokal. Mereka masih memiliki keterbatasan untuk terlibat dalam ruang publik dan proses pengambilan keputusan.

    “Kami melihat bahwa perempuan memiliki peran penting dalam budaya Petik Laut, seperti mewariskan pengetahuan budaya kepada anak-anak, membantu persiapan ritual, hingga menjadi penjaga nilai-nilai tradisi. Namun, peran tersebut belum banyak terlihat di ruang publik,” ungkapnya.

    Aqeel menyebutkan ketertarikan tim terhadap isu ini didukung oleh berbagai data mengenai peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan di kawasan pesisir, termasuk di Pulau Bawean. “Kami ingin menghadirkan ekosistem pesisir yang lebih inklusif dengan melibatkan perempuan sebagai aktor penting dalam pembangunan masyarakat,” jelasnya.

    Ruang Apung: Wadah Visibilitas Gender

    Salah satu konsep yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah revitalisasi ruang apung. Dina menjelaskan bahwa konsep tersebut dirancang sebagai ruang aman yang memungkinkan perempuan berdiskusi, berekspresi, dan memperkuat visibilitasnya di ranah publik tanpa terlepas dari identitas budaya yang dimiliki.

    “Ruang apung yang kami gagas bukan hanya ruang fisik, tetapi ruang yang aman dan nyaman bagi perempuan untuk bersuara, berekspresi, serta berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tanpa adanya dominasi patriarki,” terangnya.

    Dorong Pemberdayaan Perempuan Pesisir

    Tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya Petik Laut, Yasir memaparkan bahwa penelitian itu bertujuan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan pesisir. Dalam penelitiannya, mereka kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga perlindungan perempuan dan anak.

    “Kami berharap perempuan Pulau Bawean dapat menjadi gatekeeper budaya Petik Laut yang mampu mewariskan tradisi melalui ekspresi dan suara mereka. Selain itu, ruang apung ini diharapkan dapat menjadi wadah penguatan ekonomi sekaligus visibilitas gender di masyarakat pesisir,” jelasnya. Melalui penelitian ini, mereka berharap dapat menghasilkan ruang yang aman dan terlindungi bagi perempuan di Pulau Bawean serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (rin)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru