BerandaUncategorizedAlumnus Unesa Tutus Setiawan Berdayakan Penyandang Tunanetra Lewat LPT

Alumnus Unesa Tutus Setiawan Berdayakan Penyandang Tunanetra Lewat LPT

Penulis

Tanggal

Kategori

Surabaya, 18 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pengalaman menghadapi keterbatasan tidak membuat Tutus Setiawan berhenti memperjuangkan masa depannya. Alumnus S-1 dan S-2 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu justru menjadikan pengalaman hidupnya sebagai pijakan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas netra melalui Lembaga Pemberdayaan Tunanetra (LPT).

LPT merupakan lembaga nonformal yang didirikan Tutus bersama sejumlah kawannya pada 2003. Lembaga tersebut lahir dari kegelisahan melihat masih banyak penyandang tunanetra yang dipandang sebelah mata.

“Banyak siswa yang ditolak sekolah di tempat reguler, banyak teman-teman tunanetra ketika mengurus ATM ada aja hambatannya. Dari situ akhirnya kami berpikir perlu ada upaya untuk mendobrak dan menujukkan pembuktian bahwa kami bisa,” ungkapnya.

Sejak awal berdiri, LPT menjalankan tiga program utama, yakni pendidikan dan pelatihan, advokasi, serta riset. Melalui pendidikan dan pelatihan, LPT memberikan berbagai pembekalan untuk meningkatkan kapasitas penyandang tunanetra, seperti pelatihan komputer bicara, jurnalistik, hingga pemahaman hak asasi manusia.

 Sementara melalui advokasi, LPT mendampingi penyandang tunanetra yang menghadapi diskriminasi, termasuk ketika mengakses pendidikan dan layanan publik. Adapun riset dilakukan untuk mengkaji aksesibilitas fasilitas publik bersama berbagai elemen kampus dan komunitas.

Gagasan pemberdayaan tersebut tidak terlepas dari pengalaman Tutus sebagai penyandang tunanetra. Saat berusia delapan tahun, ia mengalami kecelakaan di sekolah yang menyebabkan penglihatannya terus menurun hingga akhirnya menjadi tunanetra.

Kondisi tersebut sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri hingga menganggap cita-citanya untuk menjadi guru telah berakhir. Titik balik hidupnya terjadi ketika Tutus bersekolah di YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta).

Di sana, ia melihat teman-teman tunanetra dapat belajar dan beraktivitas, termasuk sejumlah guru tunanetra yang tetap dapat mengajar dan berkarya. Pengalaman itu kembali menumbuhkan keyakinannya untuk melanjutkan pendidikan hingga sekolah reguler dan perguruan tinggi.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Ketika melanjutkan pendidikan di SMA Kemala Bhayangkari II Surabaya, Tutus sempat mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang mayoritas bukan penyandang disabilitas. Namun, pengalaman itu justru mengajarkannya bahwa kepercayaan diri dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting bagi penyandang tunanetra untuk dapat berinteraksi dan berkembang di masyarakat.

Keyakinan untuk menjadi guru kemudian membawanya memilih Prodi Pendidikan Luar Biasa Unesa. Tutus diterima melalui jalur UMPTN dan menyelesaikan pendidikan S-1 pada 2004. Setelah lulus, ia kembali mengabdi sebagai guru di YPAB. Perjalanan pendidikannya berlanjut pada 2013 ketika ia memperoleh kesempatan menempuh pendidikan S-2 Pendidikan Luar Biasa di Unesa melalui beasiswa P2TK.

Di tengah perjalanan sebagai mahasiswa, Tutus juga mulai menjalankan gagasan pemberdayaan yang kemudian berkembang menjadi LPT. Perjuangan LPT kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman, Tutus bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Surabaya mengembangkan Radio Braille Surabaya (RBS) pada 2022.

Media tersebut menjadi sarana edukasi dan advokasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai cara berinteraksi dan mendampingi penyandang tunanetra, sekaligus menyuarakan persoalan aksesibilitas fasilitas publik.(her)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Artikel Terbaru