Surabaya, 25 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin masif, berbagai sektor kehidupan harus turut beradaptasi. Tidak terkecuali sektor pertanian dan peternakan. Berbagai sistem yang semula berjalan secara manual, kini dapat lebih efektif dan efisien dengan bantuan teknologi. Sistem rekording sapi perah berbasis digital bernama DairyTrack yang dikenalkan oleh drh Ali Saifudin MSc menjadi salah satu buktinya.
Melalui paparannya dalam pengabdian masyarakat bersama tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) di Dusun Karanganyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, ia menuturkan bahwa rekording sangat penting bagi peternak. “Jika kita tidak dapat mencatat dan mengukurnya, kita tidak akan bisa me-manage-nya (mengatur, red),” ucapnya di Balai Dusun Karanganyar, Sabtu (24/10/2026).
Perkembangan Sistem Rekording
Semula, para peternak masih menggunakan rekording manual dalam mencatat pengelolaan ternaknya. Namun, rekording manual menggunakan kertas rentan mengalami berbagai kendala. Misalnya, catatan kertas rentan mengalami basah, robek, atau bahkan tertinggal di kandang. Akibatnya, riwayat produksi yang berharga dari satu sapi bisa hilang seluruhnya dalam sekejap.
Sistem rekording, kata drh Ali, kini telah mengalami berbagai perkembangan, termasuk integrasi dengan teknologi. “Dunia sudah berubah, maka cara kerja kita juga harus berubah,” katanya.
Persoalan yang kerap muncul dalam sistem rekording manual ternak sapi menjadi pendorong lahirnya aplikasi DairyTrack. DairyTrack yang drh Ali kenalkan memiliki berbagai keunggulan. “DairyTrack ini ringan, tanpa proses instalasi yang rumit. Hanya 68 KiB, menggunakan teknologi PWA (Progressive Web App), dan selalu tersedia versi terbaru,” imbuhnya.
Berbagai Catatan dalam Satu Genggaman
Keunggulan lainnya dari DairyTrack adalah bahwa aplikasi ini tetap mencatat dengan lancar walau sinyal tidak stabil atau lemah. Melalui DairyTrack, seluruh riwayat sapi akan terangkum dalam satu genggaman. Mulai dari pakan dan suplemen, diagnosis penyakit, produksi susu, hingga jadwal reproduksi.
DairyTrack bersifat mengubah data menjadi informasi, pengetahuan, dan kebijakan. Dengan kata lain, aplikasi ini membantu peternak sapi untuk menentukan sebuah kebijakan dalam pengelolaan ternaknya dengan berdasarkan data dan informasi yang akurat. Melalui pengenalan aplikasi tersebut, drh Ali berharap, Poktan Wonosari yang menjadi sasaran pengmas FKH UNAIR ini dapat menjadi contoh bagi poktan dan peternak lainnya di Indonesia. “Harapannya tentu nanti poktan Wonosari bisa menjadi percontohan poktan lainnya. Harapannya dari Dusun Karanganyar bisa jadi mendunia,” pungkasnya. (rin)
