Surabaya, 26 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menghadiri Sadalaras, Soundbank of East Java yang digelar di Hotel Grand Inna Tunjungan Surabaya, Minggu (25/10).
Wagub Emil menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya pengarsipan bunyi-bunyian khas Jawa Timur.
“Istilah Sadalaras itu kita jadikan itu sebagai soundbank of east Java tapi juga bisa untuk nusantara, nah kami berterima kasih setelah seharian workshop dengan para seniman musik dari Ponorogo dan juga Trenggalek, seniman musik Reyog kemudian berkolaborasi dengan para audio engineer dan para etnomusikolog dari UNESA dari Wilwatikta,” kata Wagub Emil Dardak.
Sadalaras sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif yang menginisiasi penyusunan “Soundbank of East Java”. Dimana Sadalaras ini dirancang sebagai pangkalan data bunyi yang memuat rekaman instrumen, pola ritmis, vokal, karakter musikal serta bunyi yang merepresentasikan kekayaan dan identitas wilayah Jawa Timur.
Sadalaras ini digelar selama dua hari, 24-25 Oktober 2026 di Hotel Grand Inna Tunjungan Surabaya. Hari pertama diisi dengan workshop seni musik meliputi pengantar Buku Sadalaras I-III, kelas praktik, dialog budaya, musikal dan evaluasi. Hari Kedua diisi dengan paparan hasil workshop, penampilan Jaranan Turonggo Yakso, Reyog Ponorogo versi klasik dan Reyog Ponorogo Kyai Lodra versi garap.
“Hari ini Pak stafsus mas Yovie berkenan untuk kemudian mendengarkan hasilnya dan memberikan masukan,” katanya.
Wagub Emil Dardak menyampaikan bahwa ini Sadalaras adalah langkah awal untuk pengarsipan bunyi-bunyian khas Jawa Timur yang ternyata sangat kaya. Pengarsipan ini dimulai dari instrumen musik pengiring pertunjukan Reyog Ponorogo klasik asli Kabupaten Ponorogo.
“Jadi masih banyak PRnya, karena dari 1 instrumen saja ditemukan lebih dari 200 kekhasan yang bisa diinventarisasi sebagai data bunyi-bunyian maka ini sekarang sedang dicari sebuah target, penentuan target yang nanti kita laporkan ke mas Yovie,” ujarnya.
“Dan ini awal, masih baru, saya sendiri aja banyak belajar dari para pakar etnomusikologi dan teman-teman yang mendalami apa metadata audio tadi,” ungkapnya.
Workshop ini, lanjut Emil Dardak menghasilkan sesuatu yang diatas ekspektasi nya tentang pengarsipan bunyi khas Jawa Timur. Menurutnya upaya ini harus didukung penuh, tidak hanya untuk pelestarian musik khas Jawa Timur tetapi juga untuk memberikan nilai ekonomi bagi seniman-seniman Jawa Timur terhadap karyanya.
“Setelah itu kita sudah mulai bisa memanfaatkan sudah mulai bisa meluncurkan mensosialisasikan ke stakeholder,” ucapnya.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengatakan bahwa adanya Sadalaras ini membuat dirinya semakin yakin Jawa Timur memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Ia menyebut instrumen Reyog Ponorogo menjadi salah satu instrumentasi musik yang sangat unik.
“Ini adalah kekayaan Jawa Timur dan kekayaan Indonesia yang harus kita lestarikan dan kita banggakan, dengan ini juga Siapa tahu akan menjadi jembatan untuk bisa mendapatkan hasil ekonomi yang baik itu untuk para senimannya,” terang Yovie.
Ia menambahkan dengan metadata nantinya akan dapat teridentifikasi siapa senimannya, komposisinya dan ketika itu menjadi satu kesatuan menurutnya akan dapat memberikan keuntungan secara ekonomi bagi para seniman.
“Kita nggak tahu dengan soundbank itu, tiba-tiba di sebuah film dari negeri mana pun, bahkan dari film Hollywood yang menggunakan itu ada hak dan nilai ekonomi yang bisa didapatkan oleh para seniman-seniman itu,” pungkasnya. (her)
