Surabaya, 29 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah tingginya risiko penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di kawasan permukiman padat, Tim LARVACLE dari Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil menciptakan solusi berbasis bahan alami lokal dan teknologi digital. Langkah inovatif itu mengantarkan mereka lolos ke ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39.
Tim LARVACLE beranggotakan empat mahasiswa lintas fakultas, yaitu Kayla Alpha Hanundita Suli (FKG), Atikah Kurniawati (FKP), Fahruriza Nayla Aura Mahendra (FKP), dan Kevin Yehezkiel Harianja (FTMM). Mereka mengusung program Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) berjudul LARVACLE: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Daun Kelor dan Biji Pepaya sebagai Biolarvasida Pengendali Jentik Nyamuk di Pogot Baru Surabaya.
Inovasi Serbuk Kelor-Pepaya
Program pengabdian ini berawal dari penelusuran lapangan yang dilakukan oleh tim bersama Kader Surabaya Hebat (KSH). Ketua tim, Kayla Alpha Hanundita Suli, menjelaskan bahwa wilayah mitra menghadapi ancaman peningkatan DBD akibat keterbatasan pasokan abate dari Pemerintah Kota Surabaya sejak tahun 2025. Di sisi lain, sebagian warga masih enggan menerima pemeriksaan hunian secara langsung oleh petugas.
“Melihat ketersediaan bahan alam yang melimpah di lokasi mitra, kami berdiskusi dan menyepakati pemanfaatan daun kelor serta biji pepaya untuk diolah menjadi serbuk biolarvasida alami pengendali jentik nyamuk,” terang Kayla.
Sistem Monitoring QR Code
Lebih lanjut, tak hanya mengandalkan olahan biolarvasida, tim LARVACLE juga menghadirkan inovasi berupa situs pelaporan mandiri. Tim menempelkan stiker kode QR pada pintu kamar mandi setiap rumah warga guna mempermudah pengawasan jentik nyamuk tanpa harus menunggu kedatangan kader.
Pendampingan dan pelatihan pembuatan serbuk biolarvasida terpusat di Balai RW setempat dengan melibatkan peran aktif mitra KSH dan warga. “Respons masyarakat sangat positif. Pelaporan kondisi sanitasi kini jauh lebih praktis karena warga cukup memindai kode QR yang terpasang di rumah masing-masing kapan saja,” tutur Kayla.
Dampak nyata dari program ini terlihat pada perubahan perilaku masyarakat. Warga yang semula enggan diperiksa kini berinisiatif secara mandiri memantau dan melaporkan keberadaan jentik nyamuk di lingkungannya.
Optimalisasi Persiapan PIMNAS 39
Saat ini, Tim LARVACLE tengah mengoptimalkan persiapan teknis serta mempertajam kemampuan presentasi di bawah bimbingan intensif dari para dosen UNAIR. Pembagian porsi bicara dan kekompakan seluruh anggota tim dalam merespons pertanyaan dewan juri menjadi fokus utama pematangan materi saat ini.
“Tantangan terbesar kami adalah membangun kepercayaan diri setiap anggota saat sesi tanya jawab nanti. Namun,dengan pendampingan dosen yang luar biasa, kami terus melatih kekompakan tim,” ungkap Kayla. Di akhir, Kayla menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. “Pengabdian ini memberikan pelajaran berharga bahwa ilmu dari ruang kuliah harus kembali ke masyarakat. Kami berharap perjalanan ini dapat menginspirasi mahasiswa UNAIR lainnya untuk terus berkontribusi menyongsong Indonesia Emas 2045,” pungkas Kayla. (naf)
