Surabaya, 27 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong perluasan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperkuat sektor produktif yang menciptakan nilai tambah, khususnya industri pengolahan dan hilirisasi hasil pertanian. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas usaha, memperluas kesempatan kerja, serta membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas.
Dorongan tersebut disampaikan Wagub Emil saat menghadiri Rapat Koordinasi Penyaluran KUR Tahun 2026 Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang diselenggarakan Kementerian UMKM Republik Indonesia di Kantor Pusat Bank Jatim, Surabaya, Selasa (27/10).
Dalam kesempatan tersebut, Emil memaparkan bahwa penyaluran KUR di Jawa Timur mencapai Rp49,06 triliun kepada 1.065.986 debitur berdasarkan data Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) per 23 Oktober 2026. Capaian itu menempatkan Jawa Timur pada peringkat pertama secara nasional, baik dari sisi jumlah debitur maupun nilai penyaluran.
Menurut Emil, besarnya penyaluran tersebut perlu diikuti penguatan kualitas pembiayaan dan perluasan jangkauan penerima. Dengan demikian, KUR dapat membuka kesempatan bagi semakin banyak pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya pembiayaan yang mendukung pengolahan bahan baku menjadi produk bernilai tambah. Dukungan tersebut diharapkan memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian, industri pengolahan, dan pemasaran produk UMKM.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya mendorong pembiayaan ke sektor yang menciptakan nilai tambah, khususnya industri pengolahan dan hilirisasi hasil pertanian. Artinya, permodalan KUR tidak boleh berhenti pada perdagangan bahan mentah saja, melainkan harus mendanai proses pengolahan produk lokal, seperti pengolahan hasil Tani dan komoditas unggulan daerah, agar memiliki daya saing tinggi dan nilai jual yang jauh lebih besar di pasaran,” tegas Wagub Emil.
“Maka kami akan berkoordinasi nantinya untuk syarat-syarat perizinan akan dipermudah agar bermunculan debitur potensial baru yang mendongkrak sektor hilirasi pertanian ini dan lebih tepat sasaran juga,” lanjutnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Emil menguraikan empat aspek yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni akses, distribusi, kualitas, dan graduasi atau peningkatan kelas usaha.
Pada aspek akses, perhatian diarahkan pada kemudahan persyaratan dan persoalan riwayat kredit calon debitur. Sementara itu, aspek distribusi berkaitan dengan pemerataan pembiayaan antarwilayah dan sektor usaha.
Adapun aspek kualitas mencakup pengendalian risiko dan pengelolaan portofolio pembiayaan. Pada aspek graduasi, pendampingan diperlukan agar penerima KUR mampu meningkatkan kapasitas, memperkuat pengelolaan usaha, dan berkembang ke skala yang lebih besar.
Wagub Emil juga menyoroti tantangan yang dihadapi pelaku usaha ketika mengembangkan kegiatan dari perdagangan menuju industri kecil. Kompleksitas perizinan dan pemenuhan standar industri perlu direspons melalui pendampingan serta koordinasi lintas pemangku kepentingan.
“Kalau ditanya hari ini ada keluhan, ya ada, secara jangka panjang perlu kita benahi bersama. Orang kalau berdagang syarat perizinannya tidak terlalu rumit, tapi begitu masuk sektor industri kecil, mereka harus memenuhi banyak standar. Ini yang perlu kita rumuskan bersama agar penyaluran tetap berjalan sehat tanpa membebani pelaku usaha,” ungkap Emil.
Sebagai langkah konkret menghadapi tantangan tersebut, Wagub Emil mendorong agenda aksi melalui pengukuran keberhasilan KUR yang berfokus pada penambahan debitur baru, kualitas portofolio dan risiko per sektor, serta pengukuran dampak nyata terhadap omzet, kapasitas, dan penambahan tenaga kerja.
Wagub Emil mengusulkan adanya dashboard KUR tingkat kabupaten/kota yang terintegrasi langsung dengan pihak perbankan, OJK, dan pendamping UMKM.
“Kami siap mengambil peran antara lain melalui penyediaan data UMKM yang potensial, pendampingan usaha, serta membantu kelancaran koordinasi pembiayaan,” ujar Emil.
Rangkaian kegiatan rapat koordinasi ini kemudian dilanjutkan dengan penerimaan arahan strategis dari Wakil Menteri UMKM Republik Indonesia, Helvi Yuni Moraza. Melalui arahan tersebut, Wagub Emil dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk menyelaraskan langkah pusat dan daerah dalam memperkuat tata kelola, ketepatan sasaran, serta keberlanjutan program pembiayaan bagi para pelaku usaha.
Besarnya penyaluran dana KUR yang mendekati angka Rp50 triliun ini tentu memberikan dampak yang sangat nyata bagi perekonomian di daerah. Dengan melibatkan lebih dari satu juta pelaku usaha yang aktif memutar modalnya, perputaran ekonomi di tingkat bawah akan bergerak semakin cepat dan memperluas lapangan kerja bagi masyarakat.
Menutup rangkaian pemaparan tersebut, Wagub Emil berpesan kepada para pelaku usaha agar memanfaatkan bantuan permodalan ini secara bijak dan disiplin dalam pengembaliannya. Wagub Emil berharap sinergi yang kuat antara pusat dan daerah ini mampu menjadi solusi nyata dalam meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta mengantar UMKM di Indonesia semakin naik kelas.(her)
