Banyuwangi, 2 Nopember 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyuwangi membekali 20 warga Desa Bimorejo dan Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo, dengan keterampilan membangun dan memperkuat rumah agar lebih aman terhadap gempa bumi. Pelatihan Retrofitting atau Pemodelan Rumah Aman Gempa ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat yang tinggal di kawasan Sesar Wongsorejo.
Pelatihan berlangsung di Balai Desa Bimorejo ini diikuti 20 peserta yang terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat desa, anggota Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT), dan tukang lokal mengikuti kegiatan tersebut. Pemilihan Desa Bimorejo dan Bajulmati didasarkan pada posisi kedua wilayah yang berada di pesisir utara Banyuwangi dan berdekatan dengan zona Sesar Wongsorejo. Sesar tersebut merupakan salah satu dari 82 segmen sesar aktif di Jawa Timur.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang dirilis BMKG, BRIN, dan Pusat Studi Gempa Nasional, Sesar Wongsorejo merupakan sesar aktif darat dengan mekanisme geser mendatar (strike-slip fault) dan berpotensi memicu gempa dangkal. Gempa yang bersumber dari sesar darat memiliki risiko kerusakan tinggi karena pusat guncangannya relatif dekat dengan permukiman. Kondisi tanah sedimen lunak di wilayah Wongsorejo juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Camat Wongsorejo, Muhammad Mahfud, dalam keterangan tertulis, Senin (2/11/2026) menegaskan pentingnya pelatihan tersebut sebagai bekal masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan dengan serius sehingga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh bisa diterapkan serta disebarluaskan kepada masyarakat. “Pelatihan retrofitting atau rumah aman gempa dari PMI Banyuwangi diikuti oleh tokoh masyarakat, perangkat desa, SIBAT, dan tukang lokal. Jadi tolong kegiatan ini diikuti secara baik, karena ilmu baru ini kiranya agar bisa diaplikasikan di masyarakat, apalagi kita berada di wilayah rawan gempa Sesar Wongsorejo,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua PMI Kabupaten Banyuwangi, Nurhadi, saat membuka kegiatan menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari Program Kesiapsiagaan dan Penanggulangan Bencana. Fokusnya tidak hanya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap ancaman gempa, tetapi juga mengurangi risiko korban akibat bangunan rumah yang tidak memenuhi prinsip keamanan gempa.
“Gempa tidak membunuh manusia, rumah yang tidak amanlah yang membunuh. Setelah pelatihan ini kami akan membuat Prototype Rumah Aman Gempa di dua desa ini, yaitu Bimorejo dan Bajulmati masing-masing satu unit,” jelas Nurhadi.
Menurutnya, penguatan konstruksi rumah menjadi salah satu langkah penting untuk membangun ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana. Karena itu, pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan dalam pembangunan maupun perbaikan rumah warga.
Selama pelatihan, 20 peserta didampingi empat fasilitator retrofitting berpengalaman. Mereka mendapatkan materi sekaligus praktik dua teknik penguatan bangunan, yakni teknik ferrosemen menggunakan wiremesh atau kawat anyam serta teknik konvensional melalui penguatan tiang kolom, ring balok, dan kolom praktis.
Perwakilan SIBAT Bimorejo, Umy Nasikhah, mengaku bersyukur dapat mengikuti pelatihan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat relevan dengan kondisi geografis desanya yang berada dekat Sesar Wongsorejo.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada masyarakat agar semakin banyak warga memahami pentingnya konstruksi rumah yang aman terhadap gempa. “Melalui pelatihan ini, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman baru mengenai pentingnya membangun serta memperkuat rumah agar lebih aman terhadap risiko gempa bumi, apalagi desa kami dekat dengan Sesar Wongsorejo,” ujarnya.
Umy berharap ilmu dan pengalaman selama pelatihan dapat diterapkan dan disebarluaskan, khususnya kepada masyarakat Desa Bimorejo. Melalui pelatihan ini, PMI Banyuwangi mendorong terbentuknya masyarakat yang tidak hanya memahami ancaman gempa, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk mengurangi risiko bencana dari lingkungan tempat tinggal sendiri. (hjr)
