More
    BerandaUncategorizedArumi Bachsin Ajak Generasi Muda Bangga dan Lestarikan Batik Jawa Timur

    Arumi Bachsin Ajak Generasi Muda Bangga dan Lestarikan Batik Jawa Timur

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya, 13 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak generasi muda untuk terus mengenal, mencintai, menggunakan, sekaligus melestarikan batik dan wastra Jawa Timur sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

    Pesan tersebut disampaikan Arumi saat menghadiri  Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur yang diselenggarakan di Gedung Q Universitas Kristen Petra (UK Petra) Surabaya, Sabtu (12/9)

    Menurutnya, pameran dan edukasi batik merupakan ruang untuk memperkenalkan kekayaan batik Jawa Timur kepada generasi penerus. Upaya pelestarian tersebut, lanjutnya, harus dilakukan secara berkelanjutan agar batik tidak hanya hidup dan dikenal oleh generasi saat ini, tetapi juga tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi mendatang.

    “Harapan kami, adik-adik mahasiswa yang saat ini duduk sebagai peserta, suatu saat nanti justru menjadi generasi yang berada di panggung untuk meneruskan dan melestarikan budaya serta wastra batik yang ada di Jawa Timur,” ujarnya.

    Arumi juga menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan merupakan tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari perguruan tinggi, komunitas, pemerhati budaya, perajin, hingga masyarakat sebagai konsumen.

    “Kalaupun tidak terlibat dalam produksi, tidak apa-apa. Yang penting terlibat dalam membeli dan memakai batik,” katanya.

    Lebih lanjut, Arumi menekankan bahwa batik tidak dapat dipandang sekadar sebagai kain atau produk sandang. Di dalam setiap karya batik terdapat sejarah, filosofi, kearifan lokal, serta identitas bangsa.

    Menurutnya, apa yang dikenakan seseorang, termasuk batik dan wastra, merupakan bagian dari identitas yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain.

    Karena itu, Arumi berharap perkembangan budaya populer di kalangan generasi muda tidak membuat mereka kehilangan kebanggaan terhadap budaya sendiri.

    “Anak-anak zaman sekarang tentu mengikuti perkembangan zaman. Musiknya bisa K-Pop, tariannya juga berbeda. Tetapi pada momen-momen tertentu, ketika harus memakai batik, harapan kita mereka tidak merasa malu,” tuturnya.

    Ia melihat perkembangan tren penggunaan wastra di kalangan anak muda saat ini sebagai sebuah harapan positif bagi keberlanjutan batik dan wastra Indonesia. Batik yang sebelumnya kerap diasosiasikan dengan acara formal maupun pernikahan, kini mulai hadir dalam berbagai desain busana yang mengikuti perkembangan tren dan gaya hidup generasi muda.

    Fenomena tersebut menunjukkan bahwa batik dan wastra semakin memiliki ruang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai bagian dari gaya berpakaian generasi muda.

    Namun demikian, Arumi mengingatkan bahwa inovasi dalam penggunaan batik tetap perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap pakem dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

    “Anak-anak muda patut mengikuti perkembangan zaman, tetapi dalam keadaan tertentu tetap harus menghormati dan melestarikan budaya yang kita miliki,” katanya.

    Di kesempatan yang sama, Arumi juga menyambut baik keberadaan Batik Corner di Perpustakaan Universitas Kristen Petra. Menurutnya, fasilitas tersebut merupakan bentuk nyata dukungan perguruan tinggi terhadap upaya edukasi dan pelestarian batik.

    Batik Corner diharapkan dapat menjadi ruang belajar sekaligus sumber referensi bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengenal batik secara lebih dekat, baik dari sisi sejarah, filosofi, motif maupun perkembangannya.

    “UK Petra tidak hanya mendukung melalui kegiatan-kegiatan tertentu, tetapi sudah dibuktikan dengan aksi nyata dengan menghadirkan Batik Corner sebagai ruang untuk belajar langsung tentang batik,” ungkapnya.

    Ia berharap keberadaan Batik Corner juga dapat dikembangkan menjadi ruang pengalaman bagi mahasiswa untuk mengenal proses dan kekayaan batik secara lebih mendalam.

    Selain aspek budaya, Arumi juga menegaskan bahwa Dekranasda Jawa Timur juga terus mendorong agar batik tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi mampu memiliki daya saing sebagai bagian dari industri kreatif dan penggerak ekonomi daerah.

    Menurutnya, ekosistem batik membutuhkan penguatan tidak hanya dari sisi kemampuan produksi, tetapi juga dari aspek bisnis, pemasaran, pengembangan pasar, hingga kemampuan membaca tren konsumen.

    Arumi menyebut, para perajin memiliki kemampuan produksi dan kualitas karya yang sangat baik. Namun, sebagian di antaranya masih membutuhkan penguatan dalam kemampuan bisnis dan pemasaran.

    “Seni memproduksi dan seni berbisnis itu berbeda. Banyak perajin yang kualitas produksinya sangat baik, tetapi masih membutuhkan kemampuan dalam berbisnis,” jelasnya.

    Karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan keterampilan para pelaku usaha batik, baik keterampilan produksi maupun kemampuan dalam pengelolaan bisnis dan pemasaran.

    Dekranasda Jawa Timur, lanjut Arumi, memiliki mandat untuk turut memfasilitasi para perajin dalam menemukan dan memperluas pasar, salah satunya melalui penyelenggaraan pameran dan berbagai kegiatan promosi.

    Namun, ia menegaskan bahwa upaya tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

    “Ini bukan pekerjaan satu orang saja, tetapi seluruh pihak dan seluruh lini yang menekuni batik harus bisa berkontribusi,” ujarnya.

    Arumi berharap kolaborasi yang terbangun melalui Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi terus berlanjut dalam berbagai kegiatan berikutnya.

    Menurutnya, keberlanjutan batik tidak hanya berkaitan dengan bagaimana budaya tersebut tetap dikenal dan digunakan, tetapi juga bagaimana ekosistem batik mampu memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin dan seluruh pihak yang terlibat di dalam proses produksinya.

    Ia mengajak masyarakat untuk memberikan rasa bangga kepada mereka yang mengenalkan, mempelajari, mendukung, membeli, dan menggunakan produk-produk kerajinan lokal.

    “Dari setiap lembar batik ada banyak orang yang terlibat dan menggantungkan hidupnya. Mudah-mudahan kita bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menyejahterakan seluruh orang yang terlibat dalam prosesnya,” tegas Arumi.

    Di tengah perkembangan teknologi dan semakin terbukanya interaksi antarbudaya, Arumi menilai generasi muda tidak perlu menutup diri dari budaya dunia. Sebaliknya, generasi muda perlu mengenal berbagai budaya untuk kemudian semakin percaya diri memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia.

    “Harapannya bukan memberhentikan generasi muda untuk melihat budaya lain. Justru dengan mengenal budaya orang lain, kita dapat semakin memperkenalkan identitas kita sebagai warga, masyarakat, dan individu di Indonesia,” jelasnya. Atas terselenggaranya Pameran dan Edukasi Batik Jawa Timur ini, Ketua Dekranasda Jatim ini memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi termasuk KIBAS, Himpunan Wastraprema, Komunitas Cinta Berkain, serta Universitas Kristen Petra. (her)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru