Surabaya 3 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berkolaborasi dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Timur dan Generasi Z Islami (GenZi) menggelar Pelatihan Dasar Kepemimpinan Remaja Islam (PDKRI) pada 30–31 Mei 2026 bertempat di Balai Diklat Industri Surabaya.
Kegiatan ini menjadi wadah penguatan kapasitas kepemimpinan sekaligus pengembangan peran dakwah generasi muda di tengah tantangan era digital.
Ketua BEM Unesa 2026, Birbik Arya Fairuzzamani, mengatakan bahwa kolaborasi antara kampus, masjid, dan komunitas pemuda menjadi langkah strategis dalam membangun generasi muda yang memiliki pondasi akademik, spiritual, dan sosial yang kuat.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan dunia akademik, tetapi juga derasnya arus digital, krisis moral, dan melemahnya solidaritas sosial. Karena itu, penguatan kapasitas kepemimpinan remaja Islam menjadi penting agar mereka mampu menjadi motor dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.
Birbik juga menambahkan bahwa pemimpin muda muslim perlu memiliki integritas, keberanian moral, kemampuan beradaptasi terhadap teknologi, serta visi dakwah yang inklusif.
“Harapan kami, peserta tidak berhenti pada sertifikat atau pengalaman sesaat, tetapi menjadikan pelatihan ini sebagai titik awal perjalanan kepemimpinan. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa dakwah Islam ke ruang-ruang kreatif, digital, dan sosial masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, panitia acara, M. Irsyadul Ibad menjelaskan remaja merupakan aset umat yang harus dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan. Karena itu, kepemimpinan menjadi pondasi penting dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Islam sekaligus adaptif terhadap perkembangan sosial, budaya, dan teknologi.
Ia menilai tantangan terbesar remaja muslim saat ini adalah menjaga keseimbangan antara nilai spiritual dan tuntutan modernitas. Arus globalisasi, distraksi media sosial, serta minimnya teladan kepemimpinan membuat generasi muda perlu memiliki keteguhan prinsip, kemampuan komunikasi, dan kecerdasan emosional.
“Program ini akan memiliki tindak lanjut berupa pembinaan lanjutan, mentoring, serta forum alumni. Hal ini penting agar peserta tidak berhenti pada pelatihan dasar, tetapi terus berkembang melalui jaringan, kegiatan dakwah, dan proyek sosial yang berkelanjutan,” terang mahasiswa FPsi Unesa itu.
Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah narasumber, yakni Imam Maliki selaku Koordinator Gusdurian Jawa Timur dengan materi penguatan organisasi dakwah, Mufarrihul Hazin dosen Unesa yang membahas tantangan dakwah kontemporer.
Selanjutnya, Derida Achmad Bil Haq, Ketua Umum PMMBN RI yang mengupas kepemimpinan pemuda Islam, serta Altruis Bizurai Chillyness, Konten Kreator Dakwah yang membawakan materi strategi dan produksi konten dakwah.
Salah satu peserta, M. Al Muhaqqiq Muasshom dari PD DMI Tuban, mengungkapkan mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. Baginya, pelatihan ini memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai pengelolaan organisasi dakwah sekaligus memperkuat kapasitas kepemimpinan generasi muda.
Ia menambahkan bahwa sesi strategi dan produksi konten dakwah menjadi materi yang paling berkesan karena mampu menjawab kebutuhan dakwah di era digital. Menurutnya, generasi muda tidak hanya menjadi objek dakwah, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak dakwah di masyarakat melalui berbagai platform dan ruang kreatif yang tersedia.
“Saya memperoleh pengetahuan baru tentang bagaimana mengelola organisasi dakwah secara profesional, serta pengalaman berharga dalam berinteraksi dengan pemuda dari berbagai daerah,” ungkapnya.(her)
