Blora 29 Mei 2026 | Draft Rakyat Newsroom – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menegaskan komitmennya untuk menyerap tebu petani di Kabupaten Blora guna menyelamatkan hasil panen di tengah belum beroperasinya Pabrik Gula Gendhis Multi Manis (PG GMM). Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan antara perwakilan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), petani tebu Blora, dan jajaran PG Rendeng PT SGN pada Kamis (28/5).
Dalam pertemuan itu, PT SGN melalui PG Rendeng menyatakan kesiapan menyerap tebu petani Blora dengan kapasitas sekitar 150 hingga 200 rit per hari. Langkah tersebut dilakukan sebagai solusi jangka pendek agar tebu petani tidak terlambat digiling, yang berpotensi menurunkan rendemen dan kualitas gula.
“Hari ini, Kamis 28 Mei, dilaksanakan pertemuan antara perwakilan APTRI, petani tebu Kabupaten Blora, dan PG Rendeng PT SGN. Kami berkomitmen menyerap tebu petani Blora dengan kemampuan 150–200 rit per hari untuk menyelamatkan hasil panen petani karena belum beroperasinya PG GMM,” ujar Edy Purnomo, perwakilan Regional Head 1 Jawa Tengah PT SGN.
Selain pertemuan teknis bersama petani dan APTRI, pada hari yang sama juga digelar audiensi dengan Bupati Blora dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Pendopo Kabupaten Blora. Dalam audiensi tersebut, PT SGN kembali menegaskan dukungannya terhadap keberlangsungan musim giling petani tebu di wilayah tersebut.
“PT SGN juga berkomitmen menyerap tebu petani Blora melalui beberapa pabrik gula SGN terdekat di Madiun dan Jawa Tengah secara bertahap sesuai jadwal giling, serta berkoordinasi dengan PG GMM maupun Bulog,” lanjut Edy.
Kondisi yang dihadapi petani tebu Blora saat ini dinilai cukup kompleks. Belum beroperasinya PG GMM memaksa petani mencari alternatif pabrik gula lain untuk menggiling hasil panennya. Namun, persoalan jarak angkut dan nilai bagi hasil menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Edy, jarak PG Rendeng dengan PG GMM mencapai sekitar 70 kilometer. Kondisi tersebut menyebabkan meningkatnya biaya distribusi tebu yang harus ditanggung petani.
“Petani berharap ada penyesuaian jaminan rendemen agar tetap kompetitif dan menguntungkan. APTRI bersama petani meminta skema nilai sesuai ketetapan pemerintah sehingga petani tidak mengalami kerugian akibat tambahan biaya distribusi,” jelasnya.
Direktur Operasional PT SGN, Kuntoro Boga Andri, menegaskan pihaknya terus berupaya memastikan hasil panen petani tetap terserap dan musim giling berjalan optimal di tengah berbagai tantangan operasional.
“PT SGN berupaya memberikan solusi terbaik bagi petani tebu Blora agar hasil panen tetap terselamatkan. Kami terus melakukan koordinasi lintas pabrik gula untuk mengatur kapasitas giling dan distribusi tebu secara bertahap sehingga pelayanan kepada petani tetap berjalan optimal,” ujarnya.
Langkah PT SGN tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Blora. Bupati Blora menyambut positif komitmen perusahaan dalam menyerap tebu petani melalui sejumlah pabrik gula milik SGN. Sementara itu, APTRI berharap upaya penyelamatan tebu petani mendapat dukungan dari seluruh pihak terkait.
Bupati Blora juga menugaskan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Blora untuk memetakan potensi tebu petani di setiap kecamatan dan desa agar dapat diakomodasi oleh PT SGN.
Pemerintah daerah bersama Forkopimda mendorong agar proses penyerapan tebu dilakukan secepat mungkin guna menghindari penumpukan hasil panen di lahan petani. Keterlambatan tebang dan giling dikhawatirkan dapat menurunkan kadar gula serta menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani.
Secara nasional, industri gula masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penurunan produktivitas lahan, meningkatnya biaya produksi, hingga kebutuhan modernisasi pabrik gula. Pemerintah pun terus mendorong percepatan swasembada gula konsumsi melalui revitalisasi pabrik gula dan penguatan kemitraan dengan petani tebu.
Jawa Tengah sendiri merupakan salah satu sentra produksi tebu nasional. Kabupaten Blora dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan tebu rakyat, sehingga keberlangsungan musim giling menjadi hal penting untuk menjaga produktivitas dan kesejahteraan petani.
Tahun ini menjadi momentum penting dalam menjaga stabilitas produksi gula nasional. Karena itu, langkah cepat yang dilakukan PT SGN dinilai sebagai bentuk nyata komitmen BUMN gula dalam mendukung petani tebu di tengah kondisi industri yang belum sepenuhnya ideal.
Melalui penyerapan tebu secara bertahap oleh PG Rendeng serta sejumlah pabrik gula milik SGN lainnya di wilayah Jawa Tengah dan Madiun, hasil panen petani tebu di Kabupaten Blora diharapkan tetap terserap optimal. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari menjaga keberlangsungan rantai pasok dan ketahanan gula nasional.(myo)
