Bojonegoro, 19 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro membuka peluang kolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB) dalam pengembangan dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Ini mengemuka saat digelar International Community Development Thematic Sustainable Development Goals (SDGs) di Ruang Rapat Creative Room Lt. 6 Gedung Pemkab Bojonegoro, Jumat (18/09/2026).
Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro Cantika Wahono mengapresiasi atas kegiatan SDGs yang digelar UB.
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pengembangan UMKM.
“Harapan kami tidak hanya dengan Timor-Leste, tetapi peluang kerja sama ini juga dapat diperluas ke negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan negara lainnya,” bebernya.
Cantika menjelaskan sejumlah perajin batik Bojonegoro telah memiliki pengalaman memasarkan produknya ke luar negeri.
Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga mampu membuka jejaring dan akses pasar baru bagi produk unggulan daerah.
Ia menyebut sejumlah aspek yang perlu terus diperkuat agar UMKM Bojonegoro mampu naik kelas.
Di antaranya desain produk, kualitas, kemasan, branding, pemasaran digital, fotografi produk, storytelling, hingga kemampuan membaca tren dan kebutuhan pasar.
“Kami akan menerima dan menyerap ilmu apa pun yang dapat mendukung pengembangan UMKM. Kita memang harus terus belajar dan meningkatkan kapasitas,” jelasnya.
Dekranasda Bojonegoro sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dalam pengembangan filosofi batik Bojonegoro.
“Setiap motif harus memiliki keterkaitan dengan identitas lokal kita di Kabupaten Bojonegoro. Kerja sama tersebut sudah berjalan dan tentu kami selalu membuka peluang untuk kerja sama di bidang lainnya,” katanya.
Selain batik, pengembangan UMKM juga mencakup berbagai sektor industri kecil dan menengah lainnya. Produk turunan batik Bojonegoro, misalnya, telah dikembangkan dalam bentuk sepatu, tas, aksesori, dekorasi hingga suvenir.
“Kami tidak membatasi. Ke depan, produk turunan batik Bojonegoro dapat dikembangkan sesuai dengan kreativitas dan kebutuhan pasar,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Pengabdian Masyarakat Internasional Community Development Thematic SDGs UB, Setyo Tri Wahyudi, menyampaikan ini komitmen UB untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program yang berbasis kebutuhan masyarakat dan pencapaian SDGs.
“Kami ingin kegiatan ini tidak sekadar berbicara atau berkunjung, tetapi benar-benar menghasilkan kerja sama yang dapat dirasakan manfaatnya. Karena fokusnya adalah pengembangan masyarakat, tentu harus melibatkan berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujarnya.
Kolaborasi Dekranasda Bojonegoro dan UB tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM yang semakin kuat.
Melalui peningkatan kapasitas, inovasi produk, penguatan manajemen, pemanfaatan pemasaran digital, serta perluasan jejaring pasar, UMKM Bojonegoro diharapkan mampu tumbuh lebih kompetitif dan naik kelas, baik di pasar nasional maupun internasional. (exo)
