Surabaya, 4 Nopember 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Surabaya adalah kota yang tumbuh dari keberagaman. Berbagai suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial hidup berdampingan dalam ruang kota yang sama. Keberagaman itu merupakan kekuatan sekaligus identitas Surabaya. Namun, hidup berdampingan tidak selalu berarti saling memahami. Kerukunan tidak hadir dengan sendirinya. Ia harus dirawat melalui perjumpaan, kepedulian, dan kesediaan untuk saling menghormati.
Di tengah dinamika sosial dan politik nasional yang belakangan memperlihatkan berbagai ketegangan, Surabaya perlu memperkuat daya rekat sosial warganya. Peristiwa-peristiwa yang berpotensi memunculkan kecurigaan, prasangka, dan polarisasi harus menjadi pengingat bahwa persatuan tidak cukup dijaga melalui imbauan. Persatuan membutuhkan kerja nyata sampai ke lingkungan terkecil masyarakat.
Di sinilah Kampung Pancasila menemukan relevansinya.
Kampung Pancasila harus ditempatkan sebagai instrumen perekat warga, bukan sekadar program seremonial, papan nama, atau kegiatan perlombaan antarkampung. Ia harus menjadi ruang hidup tempat nilai-nilai Pancasila hadir dalam hubungan sehari-hari: warga yang berbeda agama saling menghormati, tetangga yang berbeda latar belakang saling membantu, persoalan diselesaikan melalui dialog, dan mereka yang lemah tidak dibiarkan menghadapi kesulitan sendirian.
Sebab, ukuran keberhasilan Pancasila bukan seberapa sering ia diucapkan, melainkan seberapa jauh ia dirasakan dalam kehidupan masyarakat.
Surabaya sedang membangun diri sebagai kota metropolitan yang global, humanis, dan berkemajuan. Namun, kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari gedung tinggi, infrastruktur modern, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang membuat warganya merasa aman, dihargai, memiliki tempat, dan tidak kehilangan rasa persaudaraan di tengah perbedaan.
Kota global harus memiliki akar kemanusiaan yang kuat. Dan akar itu tumbuh dari kampung-kampungnya.
Karena itu, Kampung Pancasila perlu segera diperkuat sebagai ekosistem sosial di tingkat RT dan RW. Setidaknya ada lima agenda penting.
Pertama, membangun ruang perjumpaan antarwarga lintas agama, suku, budaya, dan kelompok sosial. Kerja bakti, kegiatan kebudayaan, olahraga, pertemuan warga, dan aktivitas sosial harus menjadi ruang untuk saling mengenal. Sering kali prasangka tumbuh bukan karena kebencian, melainkan karena tidak adanya kesempatan untuk berjumpa.
Kedua, mengembangkan budaya empati dan kepedulian sosial. Kampung Pancasila harus mampu mengenali keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, anak-anak yang membutuhkan perlindungan, lansia yang hidup sendiri, serta warga yang rentan terhadap kekerasan dan diskriminasi. Tidak boleh ada warga yang merasa sendirian ketika menghadapi persoalan hidup.
Ketiga, memperkuat mekanisme penyelesaian konflik di lingkungan warga. Perbedaan pendapat, persoalan sosial, hingga gesekan antarwarga harus diselesaikan melalui dialog, mediasi, dan pendekatan yang adil. Ketua RT/RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan perlu menjadi bagian dari kekuatan pemelihara kerukunan.
Keempat, melibatkan generasi muda sebagai penjaga persatuan, termasuk di ruang digital. Mereka perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, mengenali hoaks, menolak ujaran kebencian, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu identitas. Persaudaraan hari ini tidak hanya diuji di ruang pertemuan warga, tetapi juga di layar telepon genggam.
Kelima, pemerintah kota harus hadir sebagai fasilitator dan penggerak. Implementasi Kampung Pancasila perlu melibatkan kelurahan, kecamatan, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas warga. Keberhasilannya harus diukur melalui partisipasi lintas kelompok, meningkatnya kepercayaan sosial, kepedulian terhadap warga rentan, serta kemampuan masyarakat menyelesaikan persoalan secara damai.

Menjelang Natal dan Tahun Baru, penguatan kerukunan memang menjadi semakin penting. Namun, Kampung Pancasila tidak boleh hanya aktif ketika ada momentum tertentu atau ketika situasi nasional sedang memanas. Ia harus menjadi sistem sosial yang bekerja setiap hari, sepanjang tahun.
Kita tidak ingin perbedaan menjadi sumber kecurigaan. Kita ingin perbedaan menjadi alasan untuk saling mengenal dan memperkaya kehidupan bersama. Toleransi memang penting, tetapi Surabaya membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: empati. Bukan hanya membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya, melainkan juga bersedia membantu ketika tetangga membutuhkan pertolongan, tanpa bertanya apa agama, suku, atau golongannya.
Inilah sesungguhnya wajah Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Surabaya memiliki modal sosial dan tradisi gotong royong yang kuat. Semangat arek Suroboyo mengajarkan keberanian, solidaritas, dan kesediaan berdiri bersama. Modal itu perlu dirawat dan diterjemahkan menjadi gerakan warga yang nyata.
Pada akhirnya, Kampung Pancasila bukan sekadar agenda pemerintah, melainkan gerakan bersama untuk memastikan bahwa setiap warga merasa menjadi bagian dari Surabaya. Pemerintah memfasilitasi, tokoh masyarakat menggerakkan, dan warga menjadi pelaku utama.
Jangan menunggu perbedaan berubah menjadi pertengkaran. Jangan menunggu kecurigaan tumbuh menjadi permusuhan. Kampung Pancasila harus segera diwujudkan sebagai instrumen perekat warga, benteng sosial dari politik kebencian, sekaligus fondasi bagi masa depan Surabaya.
Sebab, visi global harus berakar pada kemanusiaan lokal. Surabaya yang mendunia harus dimulai dari kampung-kampung yang warganya saling menghormati, saling peduli, dan saling memanusiakan.
Surabaya, 4 November 2026
M. Isa Ansori
Dosen, Anggota FPK Kota Surabaya, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya dan Wakil Ketua ICMI Jatim
