Surabaya 23 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – – Pakar Media dan Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Rachmah Ida PhD menjadi pembicara dalam MACE CONNECT 2026: International Symposium in Communication & Media Research pada Selasa (21/4/2026) yang berlangsung secara daring. Dalam kegiatan tersebut, ia memaparkan pentingnya integrasi kearifan lokal dalam pengembangan Kecerdasan Buatan (AI) di Asia Tenggara (ASEAN).
Pada forum bertajuk Communication Future in Asia: Trends, Challenges, and Collaborative Pathways, ia menekankan bahwa kawasan Asia Tenggara (ASEAN) kini bukan lagi sekadar konsumen, melainkan telah menjadi produsen dan inovator AI.
“Saya pikir seluruh negara di ASEAN juga demikian, mereka sudah mencoba menerapkan konten generatif AI dan teknologi tersebut di semua bidang kita, termasuk ruang publik,” ungkapnya.
Kekuatan Komunal di Era Digital
Poin penting lain yang disoroti Prof Ida adalah kekuatan nilai-nilai komunal yang masih eksis di Asia Tenggara. Meskipun teknologi terus berkembang, representasi media yang menekankan harmoni, keluarga, dan nilai komunitas terbukti jauh lebih efektif dibandingkan melakukan pendekatan individualis.
Representasi media yang selaras dengan nilai harmoni dan keluarga terus menghasilkan resonansi emosional yang kuat bagi konsumen. Ia memberikan contoh tentang perusahaan e-commerce seperti Grab dan Lazada dalam menghadirkan iklan atau layanan menggunakan AI untuk menceritakan kisah lokal melalui bahasa daerah dan pengaruh regional, namun tetap menggunakan standar desain konten global.
Ancaman Potensial AI dalam Media Berita
Prof Ida memperingatkan adanya risiko AI dalam memaparkan stereotip berbahaya. Ia menyebutkan bahwa data AI seringkali kekurangan konteks budaya lokal yang beragam, sehingga memerlukan pengawasan untuk memastikan representasi yang tetap otentik.
Mengacu pada studi BBC Media Action, ia menyoroti penggunaan AI di ruang media berita Indonesia. Sebanyak 75 persen jurnalis di Indonesia tercatat telah menggunakan tools AI seperti ChatGPT dan Gemini dalam pekerjaan sehari-hari. Sikap mereka juga menunjukkan bahwa hadirnya AI dianggap sebuah peluang, namun sebagian juga memandangnya sebagai ancaman potensial.
“Ini menjadi tantangan teknis sekaligus budaya yang harus dipecahkan agar teknologi tidak menciptakan jarak dengan realitas masyarakat,” tuturnya.
Prof Ida juga menyampaikan bahwa AI juga sebagai gerakan komunikasi politik baru di mana masyarakat menggunakan AI generated content untuk mengekspresikan kepedulian nasional. “Tantangan kita adalah memastikan kedaulatan digital ini tetap terjaga di tengah kesenjangan literasi teknologi, agar identitas lokal tetap otentik dan tidak tergerus standarisasi global,” tutup Prof Ida.(rin)
