Lumajang, 15 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kesiapsiagaan menghadapi aktivitas Gunung Semeru terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Lumajang dengan memadukan teknologi pemantauan, sistem peringatan dini, kapasitas masyarakat, dan kearifan lokal.
Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, pemantauan kawasan rawan bencana dilakukan dengan mengoptimalkan kamera CCTV dan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang didukung kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Penguatan tersebut dilakukan melalui Pos BPBD Unit Oro-Oro Ombo dan Unit Curah Kobokan. Kedua pos tidak hanya menjadi titik pemantauan, tetapi juga berperan sebagai unit berbasis masyarakat yang membantu memantau kondisi kawasan sekaligus mempercepat penyampaian informasi kepada warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho mengatakan, keberadaan pos tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan sistem kesiapsiagaan dengan masyarakat di kawasan rawan bencana.
“Kedua pos tersebut merupakan unit BPBD yang berbasis masyarakat dan didukung potensi penanggulangan bencana untuk membantu pemantauan serta penyampaian informasi kepada masyarakat,” ujar Isnugroho, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, teknologi menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat deteksi terhadap perubahan kondisi Gunung Semeru. Kamera CCTV digunakan untuk pemantauan visual, sedangkan EWS dikembangkan agar dapat bekerja secara otomatis dengan memanfaatkan data getaran Gunung Semeru.
“Kami juga mengembangkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang bekerja secara otomatis dengan dukungan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) berdasarkan data getaran Gunung Semeru,” jelasnya.
Bagi masyarakat, sistem tersebut diharapkan dapat mendukung penyampaian informasi secara lebih cepat ketika terdapat perubahan kondisi yang perlu diwaspadai. Namun, teknologi tetap menjadi bagian dari sistem yang lebih luas karena kesiapsiagaan juga membutuhkan masyarakat yang memahami risiko dan mengetahui langkah yang harus dilakukan.
Karena itu, BPBD Lumajang tidak hanya mengandalkan perangkat digital. Pengetahuan masyarakat dan kearifan lokal juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan yang sesuai dengan karakter warga di sekitar kawasan Semeru.
“Selain menggunakan pendekatan modern dan sistematis, karena kita berada di tanah Jawa, kita juga menggunakan pendekatan spiritual,” kata Isnugroho.
Pendekatan tersebut berjalan berdampingan dengan edukasi dan pemahaman kebencanaan, sehingga kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada alat, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengenali informasi dan merespons risiko di lingkungannya.
Dalam memastikan informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru, BPBD Lumajang juga terus berkoordinasi dengan lembaga yang memiliki kewenangan di bidang kegunungapian, yakni Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), termasuk melalui Pos Pengamatan Gunung Api Semeru di Gunung Sawur.
Koordinasi tersebut penting agar informasi yang diterima dan diteruskan kepada masyarakat memiliki dasar pemantauan dari lembaga yang berwenang. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dan terhindar dari informasi yang tidak jelas sumbernya.
Perpaduan teknologi, kesiapan masyarakat, kearifan lokal, dan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan warga di kawasan Gunung Semeru. Sistem peringatan dini pada akhirnya bukan hanya tentang kemampuan mendeteksi perubahan secara cepat, tetapi juga memastikan informasi dapat dipahami dan ditindaklanjuti masyarakat dengan tepat. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
