More
    BerandaUncategorizedSport Center Labruk Kidul, Model Ruang Publik Desa Penggerak Ekonomi dan Sosial

    Sport Center Labruk Kidul, Model Ruang Publik Desa Penggerak Ekonomi dan Sosial

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Lumajang 23 April 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pembangunan desa kini dituntut melampaui penyediaan infrastruktur dasar. Desa ditantang menghadirkan ruang publik yang tidak hanya layak guna, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi, memperkuat kohesi sosial, serta membentuk kualitas generasi muda. Inilah yang tengah diupayakan Pemerintah Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, melalui pengembangan sport center sebagai ruang terbuka ramah keluarga.

    Gagasan tersebut mengemuka dalam Talkshow Jelita (Jelajah Informasi dan Berita) LPPL Radio Suara Lumajang, Kamis (23/4/2026), yang menghadirkan Ketua Komisi A DPRD Lumajang Reza Hadi Kurniawan, Sekretaris Desa Labruk Kidul Samsul Huda, dan Kasi Kesejahteraan Wachyudi Rosad.

    Sekretaris Desa Labruk Kidul, Samsul Huda, menjelaskan bahwa pembangunan sport center merupakan bagian dari strategi desa dalam mengoptimalkan pemanfaatan tanah kas desa berbasis kebutuhan masyarakat. Dimulai sejak 2020 dan sempat terhenti akibat pandemi, proyek ini kembali dilanjutkan pada 2023 dan kini berkembang menjadi pusat aktivitas publik.

    Namun, yang membedakan bukan sekadar fasilitasnya, melainkan pendekatan yang dibangun: integrasi fungsi sosial, ekonomi, dan olahraga dalam satu kawasan.

    “Ini bukan hanya lapangan, tetapi ruang tumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.

    Dengan lanskap persawahan terbuka di perbatasan Kecamatan Sumbersuko dan Lumajang, kawasan ini menghadirkan pengalaman ruang publik yang menyatu dengan alam. Aktivitas warga pun berkembang dinamis, dari olahraga rutin, interaksi keluarga, hingga kegiatan komunitas.

    Lebih jauh, sport center mulai berfungsi sebagai pengungkit ekonomi lokal. Pemerintah desa melibatkan PKK untuk mengorganisir pelaku UMKM, sehingga tercipta ruang usaha berbasis komunitas yang terintegrasi dengan aktivitas publik.

    Model ini menunjukkan bahwa ruang terbuka desa dapat menjadi simpul ekonomi baru tanpa kehilangan fungsi sosialnya.

    “Lapak UMKM, pojok baca, hingga ruang interaksi kami hadirkan dalam satu ekosistem,” kata Samsul.

    Dari sisi tata kelola, pembiayaan dilakukan secara adaptif. Belum ada pungutan resmi, namun biaya penggunaan lapangan sebesar Rp170 ribu diterapkan untuk menjaga keberlanjutan perawatan fasilitas. Skema ini dinilai sebagai bentuk transisi menuju tata kelola mandiri yang tetap berpihak pada aksesibilitas masyarakat.

    Sementara itu, Kasi Kesejahteraan Desa Labruk Kidul, Wachyudi Rosad, menyebut pengembangan kawasan telah mencapai sekitar 70 persen. Sejumlah penguatan tengah dirancang, termasuk penambahan playground sebagai respons terhadap kebutuhan ruang ramah anak dan keluarga.

    Fasilitas yang tersedia saat ini mencakup CCTV 24 jam, musala, jogging track, hingga area terapi kesehatan. Pengembangan diarahkan pada peningkatan kualitas layanan publik desa berbasis kenyamanan dan keamanan.

    “Ruang publik desa harus inklusif, bisa diakses semua kelompok usia,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD Lumajang, Reza Hadi Kurniawan, menilai langkah Desa Labruk Kidul sebagai contoh konkret transformasi pembangunan desa berbasis nilai tambah (value creation). Menurutnya, keberhasilan sport center tidak hanya diukur dari fisik, tetapi dari dampaknya terhadap masyarakat.

    “Ruang publik desa harus mampu menciptakan nilai sosial dan ekonomi secara bersamaan,” tegasnya.

    Ia mengapresiasi penguatan legalitas melalui penetapan peraturan desa atas pemanfaatan tanah kas desa. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi konsep agar pengembangan tidak keluar dari arah awal.

    Reza juga menyoroti pentingnya standar ruang publik ramah keluarga, termasuk penyediaan ruang laktasi serta desain fasilitas yang fleksibel dan tidak permanen.

    Lebih jauh, ia menilai keunggulan Labruk Kidul terletak pada kemampuannya mengintegrasikan potensi lokal ke dalam pengembangan kawasan. Lanskap persawahan, latar Gunung Semeru, serta potensi kuliner khas seperti Tempe Wedok menjadi identitas yang dapat memperkuat daya saing desa.

    Dalam konteks yang lebih luas, model ini dinilai relevan untuk direplikasi di desa lain, terutama dalam menjawab tantangan pembangunan yang tidak lagi sektoral, melainkan berbasis ekosistem.

    “Keberlanjutan menjadi kunci. Program seperti ini harus melampaui satu periode kepemimpinan,” ujarnya.

    Pengembangan sport center Labruk Kidul menunjukkan bahwa desa memiliki kapasitas untuk menghadirkan ruang publik berkualitas yang berdampak langsung pada masyarakat. Tidak hanya sebagai tempat berolahraga, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial, penggerak ekonomi lokal, dan wahana pembinaan generasi muda.

    Jika dikelola secara konsisten dan adaptif, model ini berpotensi menjadi rujukan nasional dalam pembangunan ruang terbuka desa yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan. (MC Kab. Lumajang)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru