Surabaya, 29 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Ayah…maafkan aku ya ? aku tak mengerti katanya pendidikan itu gratis, nyatanya aku hari ini ditagih oleh sekolah atas SPP yang belum terbayar.
Ayah…. seandainya hari itu aku tak sampaikan tagihan sekolah, mungkin aku masih bisa malam ini bercengkrama dan berpelukan denganmu ayah.
Ayah….karena permintaanku itulah hari ini aku tak lagi bisa melihat wajah ayah.
Ayah….maafkan aku ya !
Sejak hari itu, aku tidak pernah berani lagi menyebut kata “SPP”.
Aku takut.
Karena setiap kali mendengar kata itu, yang terbayang bukan lagi sekolah, bukan lagi cita-cita, tetapi wajah Ayah yang berpamitan pagi itu.
“Ayah berangkat dulu, ya. Doakan hari ini ada rezeki.”
Aku masih ingat. Sebelum berangkat, Ayah mengusap kepalaku. Aku malah mengejarnya sampai depan pintu.
“Yah… Bu Guru bilang besok terakhir bayar SPP. Kalau belum bayar, aku sama Kakak nggak boleh ikut pelajaran.”
Ayah diam.
Aku melihat senyumnya, tetapi sekarang aku tahu… itu bukan senyum orang yang tenang. Itu senyum seorang ayah yang sedang menyembunyikan kepanikan.
Ayah hanya mengangguk pelan.
“Iya, Nak. Nanti Ayah usahakan.”
Kalimat itu terus terngiang di telingaku.
Aku tidak tahu kalau ternyata “Ayah usahakan” adalah kalimat terakhir sebelum Ayah memilih memikul beban sendirian.
Kalau saja waktu bisa diputar…
Aku ingin menarik kembali kata-kataku.
Aku ingin bilang kepada Ayah, “Tidak apa-apa, Yah. Aku tidak sekolah dulu.”
Aku ingin bilang kepada Bu Guru, “Maaf, Bu. Orang tuaku sedang tidak punya uang.”
Aku ingin memeluk Ayah lebih lama pagi itu.
Karena ternyata… itu pelukan terakhir.
Siang harinya orang-orang berteriak.
“Maling… maling…!”
Aku ikut berlari.
Aku melihat banyak orang memukul seseorang.
Mereka menendang.
Mereka melempar batu.
Mereka memukul dengan kayu.
Aku menerobos kerumunan.
Lalu dunia berhenti.
Orang yang mereka pukuli itu…
Ayahku.
“Ayah…!”
Aku menjerit sekuat tenaga.
Tapi tidak ada yang berhenti.
Tidak ada yang bertanya mengapa Ayah melakukan itu.
Tidak ada yang bertanya apakah Ayah sedang lapar.
Apakah anak-anaknya belum membayar sekolah.
Apakah di rumah sudah tidak ada beras.
Yang mereka tahu hanya satu kata.
“Maling.”
Seolah kata itu menghapus semua kebaikan Ayah selama hidupnya.
Padahal Ayah bukan pencuri.
Ayah adalah orang yang setiap hari mengangkat semen, memikul pasir, dan pulang dengan tubuh penuh debu demi kami bisa tetap sekolah.
Hari itu…
Entah karena putus asa atau karena terlalu mencintai kami, Ayah mengambil jalan yang salah.
Seekor ayam.
Hanya seekor ayam.
Bukan untuk pesta.
Bukan untuk kaya.
Bukan untuk berjudi.
Tetapi karena Ayah tidak ingin dua anaknya dipulangkan dari sekolah hanya karena belum mampu membayar SPP.
Ayah memang salah.
Aku tahu.
Mengambil milik orang lain tetaplah salah.
Tetapi apakah kesalahan itu pantas dibayar dengan nyawa?
Aku masih kecil.
Aku belum mengerti hukum.
Tetapi aku tahu…
Tidak ada ayam yang lebih berharga daripada seorang ayah.
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi berani meminta apa pun kepada Ibu.
Aku takut setiap permintaanku berubah menjadi beban.
Aku takut ada orang tua lain yang pergi bekerja dengan wajah penuh kecemasan.
Aku takut ada ayah lain yang merasa harga dirinya hancur hanya karena tidak mampu membayar sekolah anaknya.
Aku takut ada anak lain yang tanpa sadar mengantar ayahnya menuju kematian hanya karena membawa secarik surat tagihan.
Sekarang aku tidak lagi bermimpi menjadi dokter.
Tidak lagi bercita-cita menjadi guru.
Aku hanya punya satu doa.
Semoga tidak ada lagi anak yang harus hidup dengan pertanyaan yang menghantuinya seumur hidup:
“Kalau waktu itu aku tidak menyampaikan tagihan SPP kepada Ayah…
Apakah Ayah masih hidup hari ini?”
Dan kepada negeri ini, aku hanya ingin bertanya…
Kapan kita mulai membangun sistem yang tidak memaksa seorang ayah memilih antara melanggar hukum atau melihat anaknya kehilangan masa depan?
Karena ketika pendidikan menjadi beban yang tak sanggup dipikul keluarga miskin, yang sesungguhnya sedang gagal bukan hanya seorang ayah, melainkan kita semua sebagai sebuah bangsa.
Selamat jalan, Ayah…
Aku akan terus belajar.
Bukan agar menjadi orang kaya.
Tetapi agar suatu hari nanti tidak ada lagi anak yang kehilangan ayahnya hanya karena sebuah tagihan sekolah.
Semoga Allah memelukmu dengan kasih sayang-Nya, sebagaimana engkau telah memeluk kami dengan seluruh pengorbananmu.
Surabaya, 28 Juli 2026
M. Isa Ansori
Kolumnis , Dosen Psikologi Komunikasi dan Pegiat Transaksional Analisis, Wakil Ketua ICMI Jatim, Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah dan Koordinator Pegiat Pendidikan Ramah Anak Indonesia
