More
    BerandaUncategorizedUniversitas Wijaya Putra Perkuat Pendidikan Inklusif di TK DWP Karangan melalui APE...

    Universitas Wijaya Putra Perkuat Pendidikan Inklusif di TK DWP Karangan melalui APE dan Aplikasi Deteksi Dini ABK

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya, 12 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini, Universitas Wijaya Putra (UWP) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di TK Dharma Wanita Persatuan (DWP) Karangan, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik. Kegiatan ini berfokus pada penguatan kemampuan guru dalam mengenali dan memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK), melalui penerapan aplikasi deteksi dini ABK dan pemanfaatan Alat Peraga Edukatif.

    Program pengabdian ini memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong implementasi inovasi pendidikan yang dapat memberikan manfaat langsung bagi sekolah, guru, anak, dan orang tua.

    TK DWP Karangan memiliki peserta didik dengan kondisi perkembangan yang beragam. Sebelumnya, sekolah menghadapi sejumlah kendala dalam memberikan layanan yang sesuai bagi anak yang menunjukkan indikasi kebutuhan khusus. Guru masih membutuhkan penguatan pengetahuan dalam mengidentifikasi karakteristik ABK, sementara proses skrining awal dan media pembelajaran yang adaptif juga masih terbatas.

    Melalui program ini, tim pengabdian Universitas Wijaya Putra memberikan pelatihan identifikasi dan penanganan awal ABK kepada guru. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengenali karakteristik perkembangan anak dan menentukan langkah awal yang dapat dilakukan di lingkungan sekolah.

    Aplikasi Deteksi Dini ABK Jadi Inovasi Teknologi

    Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah aplikasi deteksi dini ABK. Aplikasi tersebut diberikan sebagai alat bantu bagi guru untuk melakukan skrining awal perkembangan peserta didik secara lebih sistematis.

    Sebelum adanya kegiatan ini, proses identifikasi lebih banyak dilakukan berdasarkan pengamatan guru selama pembelajaran. Dengan adanya aplikasi, guru memperoleh alternatif alat bantu untuk memperoleh gambaran awal mengenai perkembangan anak.

    Tim pengabdian juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada guru mengenai cara menggunakan aplikasi serta memahami informasi yang diperoleh dari proses skrining. Aplikasi tersebut digunakan sebagai alat bantu deteksi awal dan bukan sebagai alat diagnosis, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar bagi guru untuk melakukan pemantauan dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

    Universitas Wijaya Putra Perkuat Pendidikan Inklusif di TK DWP Karangan melalui APE dan Aplikasi Deteksi Dini ABK

    APE Mendukung Pembelajaran yang Lebih Adaptif

    Selain teknologi digital, program PKM juga menghadirkan inovasi dalam bentuk Alat Peraga Edukatif (APE). Media ini dimanfaatkan untuk memberikan stimulasi melalui aktivitas yang konkret, interaktif, dan melibatkan anak secara langsung.

    APE digunakan untuk membantu guru memberikan stimulasi terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk motorik, kognitif, bahasa, serta sosial-emosional. Bagi peserta didik yang membutuhkan dukungan khusus, penggunaan media konkret memberikan alternatif pembelajaran yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kemampuan anak.

    “Guru membutuhkan media yang dapat membantu anak belajar melalui pengalaman yang konkret. APE memberikan alternatif bagi guru untuk membuat kegiatan pembelajaran lebih bervariasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan perkembangan anak,” ujar Aironi Zuroida, S.Psi., M.Psi., Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Wijaya Putra.

    Tidak Berhenti pada Teknologi

    Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada pemberian teknologi dan media pembelajaran. Wali murid turut dilibatkan melalui edukasi mengenai tumbuh kembang anak dan pentingnya deteksi dini. Keterlibatan orang tua ini menjadi bagian penting karena pemantauan perkembangan anak tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga perlu dilanjutkan di lingkungan keluarga.

    Menurut Aironi, pendekatan tersebut penting karena pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas.

    “Teknologi dan media pembelajaran akan lebih bermakna ketika diikuti dengan peningkatan kemampuan guru dan keterlibatan orang tua. Karena itu, program ini tidak hanya memberikan aplikasi atau APE, tetapi juga membangun kemampuan sekolah untuk menggunakannya secara tepat dan berkelanjutan.”

    Kepala TK DWP Karangan, Siti Nur Asiyah, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Universitas Wijaya Putra memberikan manfaat bagi sekolah, khususnya dalam meningkatkan pemahaman guru mengenai anak berkebutuhan khusus.

    “Kami mendapatkan pendampingan dalam proses skrining awal peserta didik, pemanfaatan alat peraga edukatif,  serta pengenalan aplikasi deteksi dini ABK. Kegiatan ini sangat membantu kami dalam meningkatkan kualitas layanan dan memberikan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak,” ungkapnya.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Universitas Wijaya Putra atas dukungan dan kerja sama yang diberikan kepada TK DWP Karangan.

    Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program PKM Universitas Wijaya Putra diharapkan tidak hanya memberikan manfaat selama kegiatan berlangsung, tetapi juga dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk membangun sistem layanan yang lebih responsif, adaptif, dan inklusif bagi seluruh peserta didik.(nis)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru