Surabaya 27 April 2025 | Draft Rakyat Newsroom – “Ibnu Sina pernah berkata, Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Oleh karena itu, amalkan ilmu dengan sepenuh jiwa dan cinta, agar UNAIR dapat memberikan kebermanfaatan dan kehebatannya kepada masyarakat luas.” Kalimat ini menjadi pembuka dari sambutan oleh Tri Nurhadi Sasono, wisudawan S3 UNAIR dari Fakultas Keperawatan (FKp) pada gelaran Wisuda 251 UNAIR, Sabtu, (26/5/2025) di Airlangga Convention Centre (ACC) UNAIR, Kampus MERR-C.
Menurutnya, wisuda bukan hanya sebuah perayaan, melainkan menjadi refleksi bahwa disekitar masih banyak terjadi masalah sosial. Oleh karena itu, perlu ketahanan, kebermanfaatan, dan martabat hingga dapat menjadi alumni UNAIR yang hebat, yang tidak hanya meneliti, tetapi juga memberi makna.
Pada wisuda UNAIR sesi 2 kali ini, UNAIR mewisuda 866 wisudawan dari total 2782 wisudawan. Wisuda ini meluluskan mahasiswa dari 5 fakultas, yakni Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Keperawatan (FKp), dan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FKP).
Aksi Nyata
Sebagai seorang wisudawan pendidikan doktor di bidang keperawatan, Tri menegaskan bahwa ilmu bukan hanya berguna untuk menjawab persoalan akademik. “Ilmu adalah panggilan nurani yang menyumbangkan pengetahuan untuk menjawab persoalan nyata yang ada di masyarakat,” tegasnya.
Wisuda bukan menjadi akhir dari perjalanan menuntut ilmu yang bermanfaat, tetapi menjadi awal dari perjalanan dalam mengamalkannya. “Sebagai wujud meneruskan harapan Indonesia Emas 2045, kita harus banyak menyumbangkan pengetahuan dan jawaban nyata kepada masyarakat,” lanjut wisudawan yang juga menjadi Rektor Universitas Kepanjen Malang.
Tri menceritakan, tema dari disertasinya mengenai pengembangan model keperawatan khususnya pada orang-orang yang menderita HIV-AIDS di Kota Malang. Selain itu, ia memiliki yayasan sosial di Malang yang menaungi para penyintas HIV-AIDS. Hal ini menjadikannya ingin terus mengamalkan ilmunya dan menjadi semangatnya untuk menempuh pendidikan dengan baik di UNAIR.
“Ilmu yang saya amalkan ini harapannya dapat menumbuhkan harapan baru, kesembuhan, dan semangat baru kepada para penyintas HIV. Apalagi saat ini kasus HIV-AIDS semakin banyak, bersamaan dengan kasus lainnya,” ungkapnya. Ia menekankan kepada para wisudawan untuk menjadikan wisuda sebagai momentum untuk melanjutkan karya dan memberikan sumbangsih dan aksi nyata.
Di akhir sambutannya, Tri mengajak kembali wisudawan untuk melakukan aksi nyata dan kepedulian sosial yang berangkat dari empati dan tekad untuk berkontribusi, sebab, pendidikan dan nilai akademik tidaklah cukup, tetapi menjadi lulusan berdampak-lah wujud alumni UNAIR yang seharusnya.
Resmi Menjadi Bagian dari IKA UNAIR
Senada dengan yang disampaikan oleh Tri, Sekretaris Pengurus Pusat Ikatan Alumni (PP IKA) UNAIR, Noer Sidik SS MHum, juga menegaskan kepada wisudawan yang kini resmi menjadi bagian dari IKA UNAIR untuk terus menebarkan kebermanfaatan. “Bahwa di ruangan ini, semua tentu merasakan sukacita dan bahagia karena momen ini adalah yang ditunggu-tunggu setelah menempuh pendidikan di UNAIR. Sebagai seorang alumni UNAIR, jangan lupa dengan janji-janji wisudawan yang telah kalian lantangkan. Janji itu harus Anda ingat, aksanakan, dan implementasikan pada masyarakat,” ucapnya. Sebagai penutup, Noer Sidik juga mengucapkan terimakasih dan dukungannya kepada seluruh wisudawan. “Selamat menempuh terjalnya kehidupan yang menuntut kalian harus kerja keras dan ikhlas serta fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan masyarakat,” tutupnya.(naf))
