More
    BerandaPendidikanSempat Gagal Berkali-kali, Kenny Akhirnya Wujudkan Mimpi Studi di Eropa

    Sempat Gagal Berkali-kali, Kenny Akhirnya Wujudkan Mimpi Studi di Eropa

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 22 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Jauh sebelum menginjakkan kaki di Polandia, Kenny Simorangkir cukup akrab dengan kekecewaan. Ada berbagai aplikasi beasiswa yang tidak membuahkan hasil. Ada pula kesempatan untuk menempuh program sarjana terkait Music Business di New York University (NYU), yang pada akhirnya harus ia relakan karena keterbatasan finansial. Seperti kebanyakan anak muda lainnya yang memiliki impian untuk berkiprah di tingkat internasional, Kenny belajar bahwa jalan menuju pengalaman studi di luar negeri tidak selalu berjalan mulus. Kemudian datang sebuah kesempatan yang mengubah segalanya.

    Melalui Program Erasmus+ Student Mobility, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga tersebut menjalani satu semester pertukaran mahasiswa (Februari – Juni 2026) di Kraków University of Economics (UEK), Polandia. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan akademiknya, namun juga memperdalam pemahamannya tentang budaya, kreativitas, dan dirinya sendiri.

    “Saya selalu antusias untuk mencoba hal-hal baru, bertemu orang-orang baru, dan memulai kehidupan di tempat yang baru. Ketika menemukan peluang terkait Erasmus+, saya sangat bersemangat,” ujar Kenny.

    Ia pertama kali mengetahui program tersebut saat menjelajahi laman Airlangga Global Engagement, untuk membantunya mencari peluang studi di luar negeri. Rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi titik balik dalam hidupnya.

    Bagi Kenny, Erasmus+ lebih dari sekadar program pertukaran akademik. Program ini memberinya kesempatan untuk mewujudkan impian belajar di luar negeri sekaligus mendekatkan diri pada minat lamanya terhadap industri musik global.

    “Program mobilitas ini memberi saya kesempatan untuk belajar di luar negeri dan membangun koneksi dengan para profesional di industri musik Eropa,” tuturnya.

    Selama berada di UEK, Kenny mengambil berbagai mata kuliah yang ditawarkan, seperti Modern Business Management dan International Business. Salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya adalah International Market Research & Analysis, yang membuka perspektif baru tentang budaya memengaruhi perilaku konsumen.

    “Seseorang bisa saja memberikan rating lima dari lima untuk sebuah restoran meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya puas, sementara orang lain mungkin memberi nilai empat meskipun mereka menikmati pengalaman tersebut,” ujarnya.

    Pelajaran tersebut tidak hanya relevan dalam riset pasar. Bagi Kenny, hal itu menjadi pengingat bahwa orang sering kali menafsirkan pengalaman yang sama secara berbeda, tergantung pada konteks budaya yang mereka miliki.

    Mata kuliah lain yang memberikan kesan mendalam adalah Creativity Techniques in Project Management. Sebagai seorang musisi, Kenny tertarik pada bagaimana kreativitas dapat diintegrasikan secara sistematis ke dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek.

    “Mata kuliah ini membantu saya menjembatani kreativitas dengan eksekusi yang lebih teknis,” katanya.

    Lingkungan akademik di UEK juga terasa berbeda dibandingkan dengan yang selama ini ia kenal di Indonesia. Perkuliahan umumnya dibagi menjadi sesi kuliah dan workshop, sehingga mahasiswa dapat menghubungkan teori dengan praktik secara lebih efektif.

    “Pendekatan ganda ini sangat membantu saya dalam proses belajar,” jelasnya.

    Fleksibilitas sistem pembelajaran tersebut sesuai dengan gaya belajarnya yang mandiri, sementara tugas-tugas berbasis proyek mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi topik yang benar-benar mereka minati.

    Dalam salah satu mata kuliah, Kenny bahkan menulis policy paper mengenai Indonesia International Student Mobility Awards (IISMA) dengan dukungan dosen yang menurutnya sangat kolaboratif dan responsif.

    “Mereka sangat terbuka untuk berdiskusi dan selalu siap membantu,” kenangnya.

    Namun, beberapa pelajaran paling berharga justru ia peroleh di luar ruang kelas. Beradaptasi dengan kehidupan di Kraków ternyata lebih mudah dari yang ia bayangkan.

    “Pada hari ketiga, saya sudah merasa Kraków seperti rumah sendiri,” ujarnya.

    Hal-hal yang awalnya terasa asing perlahan berubah menjadi kesempatan untuk meninjau kembali berbagai asumsi yang selama ini ia miliki. Dibandingkan dengan budaya Indonesia yang dikenal ramah dan murah senyum, masyarakat Polandia cenderung terlihat lebih pendiam dan tertutup.

    Alih-alih menganggap hal tersebut sebagai hambatan, Kenny belajar melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. “Saya belajar untuk tidak mengartikan sikap netral sebagai sesuatu yang dingin atau tidak ramah. Itu hanyalah bentuk ekspresi sosial yang berbeda.”

    Kesadaran tersebut menjadi salah satu pelajaran paling penting selama program pertukaran berlangsung. Melalui interaksi dengan mahasiswa Polandia dan sesama peserta Erasmus, ia menyadari bahwa cara berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah sangat dipengaruhi oleh budaya.

    Ada yang lebih menyukai komunikasi yang langsung dan efisien. Ada pula yang lebih nyaman dengan diskusi panjang dan proses membangun konsensus.

    “Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa apa yang selama ini kita anggap ‘normal’ sebenarnya sering kali merupakan konstruksi budaya, bukan sesuatu yang universal,” refleksinya.

    Selain menjelajahi Polandia, Kenny juga memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi berbagai negara di Eropa. Selama satu semester tersebut, ia berhasil mengunjungi enam negara.

    Salah satu pengalaman yang paling berkesan membawanya ke Aarhus, Denmark, tempat ia menjadi relawan dalam sebuah konferensi musik. Di sana, ia memperoleh gambaran langsung mengenai berbagai aktivitas di balik layar industri musik, bidang yang sangat dekat dengan cita-cita kariernya.

    “Yang paling berkesan bagi saya adalah betapa kolaboratif dan terbukanya lingkungan tersebut, meskipun semua orang berasal dari negara dan latar belakang profesional yang berbeda,” ujarnya.

    Seperti pengalaman bermakna lainnya, semester tersebut tentu tidak sepenuhnya bebas dari tantangan.

    Kenny harus beradaptasi dengan ekspektasi akademik yang berbeda, norma sosial yang baru, serta berbagai situasi yang penuh ketidakpastian. Membangun hubungan yang lebih dekat dalam lingkungan yang awalnya terasa lebih tertutup membutuhkan kesabaran dan inisiatif.

    “Solusinya sederhana yakni tetap penasaran dan terus belajar. Jika ada sesuatu yang tidak jelas, saya akan langsung bertanya, mengonfirmasi, atau mencoba sendiri daripada hanya ragu-ragu,” jelasnya.

    Pendekatan tersebut membantunya membangun rasa percaya diri dalam menghadapi situasi yang tidak familiar sekaligus memperkuat kemampuan adaptasinya. Dari sisi akademik, pengalaman ini juga menumbuhkan minat yang lebih besar terhadap pemasaran internasional dan strategi budaya, khususnya dalam industri kreatif seperti musik dan penyelenggaraan acara.

    “Pengalaman ini semakin menguatkan minat saya untuk bekerja di lingkungan global, tempat saya dapat menghubungkan berbagai audiens melalui storytelling dan strategi pemasaran,” katanya.

    Secara pribadi, semester tersebut menjadi periode pencarian jati diri. Berbeda dengan semester-semester sebelumnya yang dipenuhi berbagai aktivitas, Kenny memilih untuk lebih fokus pada studi dan pengembangan diri. Ia melakukan perjalanan seorang diri, bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara, bahkan membawakan lagu ciptaannya sendiri dalam sebuah acara Erasmus.

    Setiap pengalaman mendorongnya sedikit lebih jauh keluar dari zona nyaman. “Saya belajar bahwa saya mampu menghadapi tantangan secara mandiri, bahkan ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai rencana,” ujarnya.

    Sekembalinya ke Indonesia, Kenny berharap dapat membawa pola pikir yang lebih terbuka dan kolaboratif, terutama dalam menghadapi perbedaan budaya. Berangkat dari pengalamannya sebagai mahasiswa Batak yang menempuh pendidikan di Jawa, ia percaya bahwa pemahaman lintas budaya dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan dan beradaptasi.

    “Program mobilitas ini membantu saya menghadapi berbagai perbedaan tersebut dengan kesadaran dan kemampuan adaptasi yang lebih baik,” tuturnya.

    Bagi mahasiswa yang tertarik mengikuti program Erasmus+ di masa depan, nasihat Kenny cukup sederhana. “Terbukalah terhadap ketidaknyamanan dan ketidakpastian, karena di situlah sebagian besar proses belajar terjadi.”

    Menurutnya, nilai utama Erasmus+ bukan hanya kesempatan untuk belajar di luar negeri. Lebih dari itu, program ini memberikan kesempatan untuk melihat dunia, dan diri sendiri, dari perspektif yang berbeda.

    Ketika menoleh ke belakang, Kenny menyadari bahwa semester di Polandia bukanlah perjalanan yang awalnya ia rencanakan. Namun, perjalanan itulah yang ternyata ia butuhkan. Terkadang, kesempatan yang datang setelah serangkaian penolakan justru menjadi kesempatan yang paling mengubah hidup kita. (naf)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru