Surabaya,17 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom –
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat mengantisipasi dampak banjir rob yang sempat menggenangi dua sekolah pada awal pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Respons cepat tersebut dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung aman dan tidak mengganggu aktivitas siswa.
Dua sekolah yang terdampak berada di kawasan pesisir, yakni satu sekolah negeri di Romokalisari dan satu sekolah swasta di Kalianak. Begitu menerima laporan adanya kenaikan air akibat rob, Pemkot Surabaya langsung mengerahkan armada penyedot air melalui koordinasi lintas perangkat daerah (PD) bersama camat dan lurah setempat.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan penanganan banjir rob di lingkungan pendidikan telah menjadi bagian dari prosedur tetap (SOP) yang selama ini dijalankan bersama kecamatan dan kelurahan. Karena itu, setiap potensi keadaan darurat langsung direspons tanpa menunggu genangan semakin tinggi.
“Begitu air mulai naik dan berpotensi mengganggu fasilitas pendidikan, petugas langsung disiagakan. Kami juga mengerahkan armada Damkar dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk mempercepat penyedotan air sehingga genangan tidak mengganggu kegiatan belajar,” kata Febri sapaan akrabnya, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, karakteristik rob di Surabaya umumnya berlangsung dalam waktu relatif singkat, berkisar satu hingga dua jam. Meski demikian, Pemkot tetap memilih melakukan tindakan cepat agar air tidak terus menggenang dan menghambat aktivitas sekolah.
“Rob memang akan surut dengan sendirinya, tetapi kami tidak menunggu. Begitu air mulai masuk, langsung kami sedot dan buang menggunakan armada tangki. Tujuannya agar genangan tidak sempat meninggi dan proses belajar mengajar tetap berjalan,” ujarnya.
Febri menjelaskan, di sekolah negeri kawasan Romokalisari, genangan hanya terjadi di halaman sekolah dan tidak memasuki ruang kelas. Sementara di sekolah swasta kawasan Kalianak, tinggi air diperkirakan mencapai mata kaki dan berhasil surut dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah jam setelah dilakukan penyedotan.
“Karena itu, sejak awal air yang masuk langsung disedot dan dibuang menggunakan armada agar ketinggiannya tetap terkendali hingga air laut kembali surut,” jelasnya.
Ia menegaskan, tidak ada siswa yang dipulangkan akibat rob sebagaimana informasi yang sempat beredar. Seluruh kegiatan MPLS tetap berlangsung sesuai jadwal karena kondisi genangan dapat segera ditangani.
“Tidak ada siswa yang dipulangkan karena rob. MPLS tetap berjalan seperti biasa. Kebetulan jadwal kegiatan juga memang selesai sebelum waktu zuhur, sehingga seluruh rangkaian pembelajaran tetap terlaksana sesuai rencana,” tegasnya.
Ia menambahkan, penanganan tidak dibedakan antara sekolah negeri maupun swasta. Selama berada di kawasan yang berpotensi terdampak rob, seluruh fasilitas pendidikan menjadi prioritas untuk mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang sama.
“Begitu ada laporan air mulai naik, kami langsung berkoordinasi dengan lurah, camat, kepala sekolah, Damkar, dan DLH agar armada segera bergerak. Sekolah adalah fasilitas pelayanan masyarakat yang harus kami pastikan tetap aman untuk kegiatan belajar,” imbuhnya.
Sementara itu, untuk penanganan jangka panjang di sekolah swasta kawasan Kalianak, Dispendik Surabaya menyebut perubahan konstruksi bangunan sekolah memerlukan kajian lebih lanjut karena menyesuaikan kondisi masing-masing lokasi, terutama bagi sekolah yang dikelola yayasan. Namun untuk saat ini, fokus utama Pemkot adalah memastikan kehadiran pemerintah melalui penanganan cepat agar genangan tidak berlangsung lama.
“Untuk saat ini, yang menjadi prioritas adalah memastikan respons cepat di lapangan agar genangan segera surut, sehingga aktivitas belajar mengajar tetap dapat berlangsung secara nyaman dan kondusif,” pungkasnya.(del)
