Surabaya, 4 September 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mendorong pelaku pemasaran dan dunia usaha untuk semakin adaptif memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin dinamis.
Hal tersebut disampaikan Emil saat menghadiri Surabaya Marketing Festival (SMF) 2026 pada sesi Corporate Day di Surabaya, Kamis (3/9/2026). Menurutnya, pemanfaatan AI dapat membantu dunia marketing memahami kebutuhan konsumen, membaca perubahan tren, hingga menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran.
“Di era AI seperti sekarang, dunia marketing tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Teknologi harus dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan konsumen, membaca tren, mengolah data, dan menghasilkan strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran,” ujar Emil.
SMF 2026 berlangsung pada 2–6 September 2026 dengan mengusung tema “Winning the Competition in the Age of AI”. Festival yang digelar MCorp tersebut mempertemukan pelaku bisnis, praktisi pemasaran, profesional, pemerintah, akademisi, hingga generasi muda untuk membahas perkembangan pemasaran dan bisnis di tengah transformasi teknologi.
Dalam kesempatan itu, Emil hadir pada agenda Corporate Day. Pada sesi ini, Wagub Jatim turut menyampaikan penghargaan kepada perusahaan dan pemasar berprestasi di Jawa Timur yang dinilai mampu menghadirkan inovasi serta memberikan dampak positif bagi dunia usaha.
Menurut Emil, perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam cara perusahaan berkomunikasi dan berinteraksi dengan konsumen. Karena itu, pelaku usaha perlu melihat AI bukan sekadar sebagai teknologi baru, tetapi sebagai instrumen yang dapat mendukung proses pengambilan keputusan dan meningkatkan efektivitas strategi pemasaran.
Pemanfaatan teknologi tersebut, lanjutnya, juga perlu diimbangi dengan kreativitas dan kemampuan manusia. AI dapat membantu mengolah data dan memberikan berbagai alternatif strategi, sementara keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan, pengalaman, dan pemahaman terhadap karakter konsumen.
“AI memberikan banyak kemudahan, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi kekuatan penting dalam membangun kepercayaan dan hubungan dengan konsumen. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan bersama kreativitas dan inovasi,” katanya.
Rangkaian SMF 2026 tidak hanya membahas strategi korporasi. Festival tersebut dikemas melalui sejumlah agenda yang menyasar berbagai kelompok dan kebutuhan, mulai dari Campus Day, Corporate Day, Knowledge Day, City Day, hingga Sport Day.
Pada Campus Day, peserta dari kalangan mahasiswa dan talenta muda mendapatkan wawasan mengenai perkembangan dunia digital dan kebutuhan kompetensi masa depan. Agenda tersebut juga menghadirkan Maxwell Salvador, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang dikenal melalui ajang Clash of Champions.
Sementara itu, Knowledge Day memberikan ruang pembelajaran lebih mendalam mengenai kepemimpinan di era AI. Salah satu konsep yang dibahas adalah Augmented Leadership, yakni bagaimana kemampuan kepemimpinan manusia dapat dipadukan dengan kapabilitas teknologi AI untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah.
Adapun City Day mengangkat isu inovasi pelayanan publik, pengembangan ekonomi lokal, serta penguatan daya saing daerah melalui pemanfaatan teknologi.
Rangkaian festival kemudian ditutup melalui Sport Day dengan berbagai kegiatan olahraga komunitas, seperti padel dan basket korporasi. Selain menjaga kebugaran, agenda tersebut menjadi ruang untuk memperluas jejaring dan membangun relasi antarpelaku usaha.
Bagi Jawa Timur, perkembangan teknologi dan transformasi digital menjadi bagian penting dalam memperkuat daya saing daerah. Penguasaan teknologi, termasuk AI, diharapkan dapat mendorong pelaku usaha untuk lebih inovatif, memperluas pasar, serta merespons perubahan kebutuhan konsumen dengan lebih cepat.
Melalui Surabaya Marketing Festival 2026, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, praktisi pemasaran, dan generasi muda diharapkan semakin kuat dalam membangun ekosistem bisnis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap menempatkan kreativitas dan kemampuan manusia sebagai kekuatan utama. (jal)
