Surabaya 22 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Di tengah derasnya arus modernisasi, kemajuan teknologi, dan kompetisi yang semakin ketat, ada satu nilai yang tidak boleh hilang dari kehidupan anak-anak Indonesia: penghormatan kepada orang tua.
Ada langkah langkah kecil yang bisa dilakukan untuk memupuk rasa penghormatan itu kepada orang tua, disinilah Pemerintah Kota Surabaya memulai langkah itu untuk menumbuhkan rasa hormat anak kepada orang tua. Langkah kecil itu adalah gerakan membasuh kaki orang tua yang dilaksanakan hari Sabtu, 20 Juni 2026.
Gerakan membasuh kaki orang tua yang melibatkan puluhan ribu anak di Surabaya patut mendapatkan apresiasi yang tinggi. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, bukan pula hanya tentang pemecahan rekor. Lebih dari itu, gerakan ini merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi pembentukan karakter anak bangsa.
Saya mengapresiasi Wali Kota Surabaya yang berani menghadirkan pendidikan karakter dalam ruang publik melalui simbol yang sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Di tengah kecenderungan pendidikan yang sering berorientasi pada capaian akademik semata, Surabaya menghadirkan sebuah pelajaran penting bahwa kecerdasan tanpa adab tidak akan melahirkan peradaban yang kuat.
Basuh kaki orang tua bukanlah sekadar ritual. Ia adalah simbol kerendahan hati. Simbol penghormatan. Simbol pengakuan bahwa tidak ada keberhasilan seorang anak yang lahir tanpa pengorbanan ayah dan ibunya.
Di balik kaki yang dibasuh itu, ada perjalanan panjang seorang ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang tak pernah meminta balasan. Di sana pula ada sosok ayah yang bekerja dalam diam, memikul tanggung jawab keluarga, sering kali menyembunyikan kelelahan demi memastikan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Sebagai Pengurus Lembaga Perlindungan Anak Jawa Timur, saya memandang bahwa keluarga merupakan benteng pertama perlindungan anak. Ketika hubungan antara anak dan orang tua dibangun atas dasar kasih sayang, penghormatan, dan komunikasi yang sehat, maka anak akan tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Banyak persoalan yang menimpa anak-anak saat ini sesungguhnya berakar dari melemahnya hubungan dalam keluarga. Ketika penghormatan kepada orang tua mulai memudar, ketika komunikasi dalam keluarga semakin renggang, maka anak kehilangan salah satu sumber pembelajaran karakter yang paling penting dalam hidupnya.
Karena itu, gerakan membasuh kaki orang tua sesungguhnya merupakan investasi sosial yang sangat berharga. Ia mengajarkan anak-anak tentang rasa syukur. Ia mengajarkan tentang empati. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun oleh kecerdasan, tetapi juga oleh kemampuan menghargai jasa dan pengorbanan orang lain.
Sebagai Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan, saya meyakini bahwa pembangunan manusia harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter. Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan lulusan yang pintar, tetapi juga menghasilkan manusia yang berakhlak, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial.
Dalam konteks itulah, apa yang dilakukan Surabaya layak menjadi inspirasi bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Sebab pembangunan kota tidak cukup hanya diwujudkan melalui jalan yang baik, gedung yang megah, atau taman yang indah. Pembangunan yang paling mendasar adalah pembangunan manusia.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu menguasai teknologi, tetapi juga mampu menghormati orang tuanya. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya berani bermimpi besar, tetapi juga tidak melupakan tangan-tangan yang telah membimbingnya sejak kecil. Kita membutuhkan generasi yang memahami bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai puncak, tetapi juga tentang seberapa besar rasa hormatnya kepada mereka yang telah mengorbankan hidup demi keberhasilannya.
Mungkin air yang digunakan untuk membasuh kaki orang tua akan segera mengering. Namun nilai yang ditanamkan melalui kegiatan itu diharapkan tetap hidup dalam hati anak-anak kita. Menjadi kompas moral dalam perjalanan hidup mereka. Menjadi pengingat bahwa setiap langkah menuju masa depan selalu memiliki jejak pengorbanan orang tua di belakangnya.
Sebab pada akhirnya, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang cerdas, tetapi juga oleh generasi yang beradab. Dan adab yang paling pertama adalah menghormati ayah dan ibu.
Dari Surabaya, kita belajar bahwa membangun karakter anak bangsa dapat dimulai dari tindakan yang sederhana: menundukkan kepala di hadapan orang tua, membasuh kaki mereka dengan penuh hormat, lalu berjanji dalam hati untuk menjadi anak yang bertanggung jawab, bermanfaat, dan membanggakan keluarga, bangsa, dan negara.
Oleh: M. Isa Ansori
Pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur dan Wakil Ketua ICMI Jawa Timur Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan
