BerandaUncategorizedBiosekuriti Adaptif jadi Kunci Jaga Kesehatan Ternak dan Tekan Kerugian Peternak

Biosekuriti Adaptif jadi Kunci Jaga Kesehatan Ternak dan Tekan Kerugian Peternak

Penulis

Tanggal

Kategori

Surabaya, 18 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mencegah jauh lebih murah berkali lipat daripada mengatasi.” Kalimat tersebut menjadi pembuka materi yang disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Wiwik Misaco Yuniarti drh MKes kepada masyarakat Desa Tejo, Kecamatan Kanor, Bojonegoro. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) yang ia ketuai, Prof Wiwik menekankan pentingnya penerapan biosekuriti adaptif bagi peternak skala keluarga.

Biosekuriti adaptif, jelasnya, merupakan upaya pencegahan penyakit pada hewan yang penerapannya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peternak. Melalui penerapan biosekuriti, peternak dapat menekan risiko penularan penyakit sekaligus mengurangi potensi kerugian ekonomi.

“Bapak dan Ibu sekalian harus punya kesadaran bahwa biosekuriti adalah faktor penting supaya peternakan, apa pun hewannya, bisa bertahan dan berjalan dengan baik,” ujarnya di Balai Desa Tejo, Sabtu (17/10/2026).

Penerapan Biosekuriti Adaptif

Prof Wiwik menjelaskan bahwa terdapat beberapa pilar penting dalam penerapan biosekuriti. Salah satunya adalah isolasi, yakni memisahkan hewan yang sakit dari hewan yang sehat, termasuk ternak yang baru dibeli. Menurutnya, ternak baru perlu ditempatkan di area terpisah terlebih dahulu untuk memastikan kondisi kesehatannya sebelum dicampur dengan ternak lainnya.

“Kalau sapi baru beli, jangan langsung dicampur dengan sapi sehat karena belum tentu sehat. Buat sekat atau sudut terpisah,” terangnya.

Selain pemisahan ternak, Prof Wiwik juga menjelaskan pentingnya mengatur urutan penanganan hewan untuk meminimalkan risiko penularan penyakit. Peternak sebaiknya menangani sapi yang sehat terlebih dahulu, kemudian beralih ke sapi yang sakit. Dengan demikian, risiko perpindahan agen penyakit dari hewan sakit ke hewan sehat dapat ditekan.

Pilar berikutnya adalah menjaga kebersihan dan sirkulasi udara di lingkungan kandang. Prof Wiwik mengingatkan peternak untuk membatasi aktivitas berkumpul atau mengobrol di dalam kandang serta mengontrol akses orang yang masuk ke area peternakan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kebersihan dan mencegah masuknya agen penyakit ke lingkungan ternak.

Selain isolasi dan kebersihan, pengendalian vektor, seperti tikus, lalat, dan nyamuk, juga menjadi aspek penting dalam penerapan biosekuriti. Prof Wiwik memaparkan sejumlah upaya sederhana yang dapat dilakukan peternak, di antaranya menggunakan pengasapan untuk membantu mengendalikan serangga serta memanfaatkan bahan alami, seperti serai, mimba, atau lengkuas, sebagai bagian dari upaya pengendalian vektor.

Komitmen dan Kerja Sama

Penerapan biosekuriti adaptif secara konsisten diharapkan dapat membantu peternak menjaga kesehatan ternak sekaligus menekan biaya yang timbul akibat penyakit. Kondisi ternak yang sehat juga berpotensi mendukung pertumbuhan hewan dan menjaga kestabilan produksi, termasuk produksi susu.

Kendati demikian, Prof Wiwik menegaskan bahwa keberhasilan penerapan biosekuriti adaptif membutuhkan komitmen dan kerja sama seluruh anggota keluarga. Sebab, peternakan skala keluarga memerlukan keterlibatan bersama agar langkah-langkah pencegahan dapat diterapkan secara konsisten. “Sekali lagi, mencegah lebih baik daripada mengobati. Seluruh anggota keluarga juga harus berkomitmen menerapkan biosekuriti adaptif. Tidak bisa bapak ibu sendirian, semuanya harus kompak melaksanakan biosekuriti adaptif,” tuturnya.(rin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Artikel Terbaru