Surabaya 13 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali unjuk diri melalui prestasi mengagumkan dari salah satu mahasiswanya. Kali ini, prestasi menakjubkan tersebut ditorehkan oleh Jefta Kenna Shalom Tarigan, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknologi Kedokteran ITS berhasil sabet juara 1 kategori Original Research dalam ajang The 43rd Fiesta Urology 2026 Scientific Competition, Sabtu (11/7) lalu, yang diselenggarakan di JW Marriott Hotel Surabaya.
Mahasiswa angkatan pertama di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS tersebut berhasil mengukir sejarah baru sebagai satu-satunya peserta dari kalangan non-medis yang berhasil menjuarai kompetisi urologi ini. Bersaing dengan puluhan peserta lain yang mayoritas dokter.
Dengan landasan multidisiplin keilmuan, Jefta mengusung riset bertajuk CAD (Computer Aided Diagnosis) System yang memanfaatkan algoritma deep learning ganda (nnU-Net). “Algoritma saya itu gunanya secara garis besar untuk mengotomatisasi penilaian kanker prostat berdasarkan citra Multiparametric Magnetic Resonance Imaging (mpMRI),” terangnya.
Sistem ini mengacu pada standar global dunia radiologi, yaitu Prostate Imaging-Reporting and Data System (PI-RADS), yang membagi tingkat risiko kanker prostat menjadi skala 1 hingga 5. Kendati sistem ini telah menjadi acuan utama para klinisi, pembacaan citra mpMRI secara konvensional masih memiliki kendala subjektivitas atau tingkat variabilitas yang tinggi antar-pemeriksa (intra/inter-reader variability).
Untuk mengatasi masalah tersebut, CAD besutan Jefta tidak hanya memberikan klasifikasi otomatis yang objektif, melainkan juga menyajikan peta probabilitas tumor untuk memvisualisasikan lesi intraprostatik secara jelas. Hal ini diharapkan mampu membantu klinisi meminimalisasi kesalahan diagnostik dan memandu tindakan biopsi prostat secara lebih presisi.
Jefta mengungkapkan bahwa kebaruan multidisiplin yang ia tawarkan menjadi daya tarik utama bagi para panelis. Ketika mayoritas peserta dari latar belakang medis murni membawakan kajian berupa systematic review ataupun laporan kasus (case report), Jefta tampil percaya diri membawa metodologi rekayasa teknologi yang solutif. “Jadi implementasi multi disiplin keilmuan yang masih terhitung baru yang menawarkan perspektif yang segar,” jelasnya.
Tak hanya mengembangkan sisi teknis dalam dunia medis, Jefta juga dituntut menerjemahkan bahasa teknik menjadi bahasa yang mudah dipahami kalangan medis. Tantangan tersebut menjadi pengalaman berharga yang membentuk cara berpikirnya dalam menyampaikan manfaat teknologi bagi dunia kesehatan.
Jefta mengaku bekal pembelajaran pencitraan medis di bangku kuliah menjadi fondasi penting dalam mengembangkan penelitian. Meski demikian, ia menyadari bahwa implementasi teknologi di bidang kesehatan membutuhkan validasi medis yang kuat. Karena itu, seluruh proses penyusunan penelitian hingga presentasi dilakukan bersama Dekan FKK ITS dr Lukman Hakim MKes SpU(K) PhD dan Kepala Prodi Teknologi Kedokteran ITS Dr Shoffi Izza Sabilla SKom.
Sejalan dengan hal itu, Dekan FKK ITS tersebut menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar kemenangan individu, melainkan penegasan identitas. Keberhasilan riset ini juga menjadi bukti nyata atas keberhasilan implementasi kurikulum multidisiplin di Teknologi Kedokteran ITS. Dengan demikian, meski lulusannya akan mendapatkan gelar sebagai Sarjana Teknik, akan tetapi mahasiswanya tetap memiliki pengetahuan tentang ilmu kedokteran dasar.
Dokter spesialis urologi tersebut menjelaskan bahwa kurikulum pada Prodi Teknologi Kedokteran ITS sengaja dirancang secara komprehensif. Mahasiswa dibekali fondasi ilmu kedokteran sebesar 30 persen sehingga akan lebih mudah untuk memahami konsep klinis.
Selain itu, lanjutnya, kurikulum juga disusun agar mahasiswa mampu melakukan validasi data secara mandiri, serta berkolaborasi langsung dengan para praktisi kesehatan di lapangan. “Dasar-dasar itu merupakan salah satu kekuatan dalam kurikulum Teknologi Kedokteran yang ada di ITS,” ungkap Lukman.
Melalui pembuktian ini, FKK ITS semakin menancapkan komitmennya untuk memperluas kolaborasi riset aplikatif bersama jaringan rumah sakit nasional demi memajukan kemandirian teknologi kesehatan Indonesia. Keberhasilan riset ini menjadi sinyal kuat bahwa fusi sains dan teknologi adalah kunci, sebab “Teknologi kedokteran tidak akan bisa berkembang apabila tidak dikemas dalam konsep multidisiplin,” tegasnya mengingatkan. Prestasi yang berhasil dicetak oleh Jefta tersebut merupakan langkah nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Selain itu, inovasi multidisiplin ini tidak hanya meningkatkan akurasi diagnostik medis yang objektif, tetapi juga berperan penting dalam capaian SDGs poin ke-9 soal Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.(naf)
