More
    BerandaPendidikanDari Anak Desa Penerima Bidikmisi hingga Manager QC QA di Industri Nasional

    Dari Anak Desa Penerima Bidikmisi hingga Manager QC QA di Industri Nasional

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 2 Juli 2026  | Draft Rakyat Newsroom -Tidak semua jalan menuju kesuksesan dimulai dari kondisi yang serba mudah. Bagi sebagian orang, justru keterbatasan adalah titik awal dari sebuah perjalanan luar biasa. Itulah kisah yang dialami salah satu alumnus program studi S1 Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) angkatan 2015, Fermanto. Ia berangkat dari desa ke kota berbekal beasiswa, tekad yang kuat, dan impian besar untuk mengubah nasib melalui pendidikan tinggi.

    Kini, perjalanan panjang Fermanto mengantarkannya pada posisi Wakil Manajemen sekaligus Manager QC QA di industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Capaian itu membuktikan bahwa latar belakang bukan penentu masa depan, melainkan pilihan dan kerja keraslah yang berbicara.

    Raih Beasiswa Bidikmisi

    Lahir di desa dengan kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, Fermanto memahami bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk mengubah hidup. Kesempatan emas itu akhirnya hadir ketika Fermanto diterima sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi dan resmi menempuh pendidikan di FPK UNAIR.

    Namun, baginya, beasiswa bukan sekadar bantuan biaya pendidikan. “Beasiswa tersebut bukan hanya bantuan biaya pendidikan. Tetapi juga amanah yang harus dijaga dengan kerja keras, semangat belajar, dan tekad untuk terus berkembang,” ungkapnya.

    Selama masa perkuliahan, Fermanto mendalami bidang keamanan pangan, analisis laboratorium, dan pengembangan produk, sekaligus aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kampus. Fermanto percaya bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dibangun melalui indeks prestasi akademik. Melainkan melalui pengalaman nyata, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi di berbagai situasi.

    Kerja Keras di Balik Bangku Kuliah

    Salah satu hal yang membedakan alumni ini dari kebanyakan mahasiswa pada umumnya adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengandalkan beasiswa. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menambah pengalaman hidup, Fermanto bekerja sambil kuliah mulai dari berjualan tahu bakso isi hingga menjadi admin Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan (JIPK) dengan Quartil 2 Scopus saat ini. Dari sana, Fermanto belajar tentang disiplin waktu, tanggung jawab, dan yang paling berharga yaitu menghargai setiap proses kehidupan sekecil apapun.

    Setelah lulus pada tahun 2019, perjalanan profesionalnya dimulai melalui program internship, sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja sebagai Analis Laboratorium di sebuah perusahaan pakan ternak di Mojokerto. Namun, ujian datang lebih cepat dari yang Fermanto perkirakan. Akibat pandemi Covid-19, ia terdampak pemutusan hubungan kerja. Namun, ia enggan menyerah. “Tantangan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk bangkit dan menemukan peluang baru,” ujarnya.

    Fermanto pun hijrah ke Situbondo. Ia memulai babak baru sebagai Supervisor QA QC di perusahaan tepung agar-agar pengalaman yang untuk pertama kalinya memperkenalkannya pada kepemimpinan tim, pembangunan sistem mutu, dan edukasi keamanan pangan kepada tenaga kerja di lapangan.

    Fermanto kemudian berkarier di industri perikanan sebagai Supervisor QC Proses, memperdalam penguasaannya dalam pengendalian kualitas produksi, peningkatan efisiensi proses, dan pengembangan kompetensi karyawan. Setiap perpindahan bukan sekadar perubahan tempat kerja, melainkan akumulasi keahlian dan kepercayaan diri yang terus bertumbuh.

    Dua Peran Sekaligus

    Kini, kerja keras dan konsistensi selama bertahun-tahun berbuah kepercayaan yang besar. Fermanto dipercaya memegang dua peran sekaligus, sebagai Wakil Manajemen dan Manager QC QA di industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Dalam kapasitas ini, tanggung jawabnya tidak lagi sekadar teknis Fermanto mengelola sistem mutu dan keamanan pangan secara menyeluruh. Lebih dari itu, ia juga memimpin pengembangan sumber daya manusia dan membangun budaya kualitas di dalam perusahaan. Kisah alumni FPK ini meninggalkan pesan, terutama mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu namun memiliki impian besar. “Perjalanan dari anak desa hingga menjadi seorang manajer membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian. Dengan pendidikan, kerja keras, kemauan belajar, dan keberanian menghadapi perubahan, setiap orang memiliki kesempatan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” pungkasnya. (rin)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru