BerandaUncategorizedDosen UNAIR Beberkan Rekayasa Fisik dan Solusi Jangka Panjang Kebakaran Hutan

Dosen UNAIR Beberkan Rekayasa Fisik dan Solusi Jangka Panjang Kebakaran Hutan

Penulis

Tanggal

Kategori

Surabaya, 27 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menjadi sorotan akibat dampaknya menyebar hingga ke pulau tetangga. Dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR), Danar Arifka Rahman ST MT menyebut pergerakan kabut asap lintas pulau hingga lintas negara ini dipicu oleh kombinasi dinamis antara angin monsun, stabilitas atmosfer, serta karakteristik unik kebakaran lahan gambut.

Danar menjelaskan bahwa faktor alam utama pembawa asap adalah pola angin pada lapisan atmosfer bawah hingga menengah. Kondisi udara yang stabil serta minimnya curah hujan membuat asap sulit terurai, sehingga asap bergerak menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer.

“Pada musim kemarau, angin monsun tenggara membawa asap dari Sumatra dan Kalimantan ke arah barat laut, menuju Semenanjung Malaysia, Singapura, atau sebagian Jawa,” paparnya.

Penyebab Partikel Asap Gambut Bertahan Lama

Selain faktor angin, sifat fisik dari kebakaran gambut membuat kabut asap bertahan sangat lama di udara. Ia menyebut bahwa proses pembakaran lambat pada suhu rendah menghasilkan partikel amat halus, seperti particulate matter 2.5 (PM2.5).

“Partikelnya sangat kecil, sehingga massanya ringan dan pengendapannya ke bawah sangat lambat. Api gambut juga bisa menjalar di bawah permukaan selama berminggu-minggu, sehingga sumber asapnya terus ada dan memproduksi debu secara berkelanjutan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Danar menekankan bahwa bentuk permukaan bumi atau topografi juga memegang peranan penting. Pegunungan bertindak sebagai penghalang aliran udara. Sementara itu, wilayah lembah atau cekungan cenderung menjadi tempat penumpukan asap, terutama saat malam hari ketika udara dingin berembus turun.

Peran El Niño dan Tantangan Pemodelan

Lebih lanjut, fenomena iklim ekstrem seperti El Niño semakin memperparah kondisi dengan memanjangkan durasi musim kemarau dan mengeringkan lahan gambut secara drastis. Danar menegaskan untuk mengantisipasi pergerakan asap, berbagai model komputer seperti HYSPLIT, WRF-Chem, CAMS, hingga AERMOD kerap digunakan.

“Akurasi terbaik biasanya diperoleh dengan menggabungkan model cuaca resolusi tinggi, data titik panas satelit, dan pengamatan lapangan. Namun, alat pemantau kualitas udara saat ini umumnya baru menampilkan tingkat pencemaran tanpa membedakan komposisi kimia spesifik dari biomassa kebakaran secara real-time,” imbuhnya.

Rekayasa Fisik dan Solusi Jangka Panjang

Danar memaparkan bahwa menangani kebakaran gambut secara jangka panjang dapat melalui langkah efektif. Seperti pembasahan ulang dengan sekat kanal, sumur bor, hingga pompa air. Ia menyebut bahwa pemadaman harus menjangkau lapisan di bawah permukaan, bukan hanya bagian atas.

Untuk jangka panjang dan perlindungan warga di kota-kota terdampak perlu adanya penyediaan fasilitas ruang aman berudara bersih di ruang publik seperti sekolah dan rumah sakit, serta ventilasi gedung yang terintegrasi filter udara. Teknologi semata, kata Danar, tidak akan mampu menyelesaikan masalah asap lintas pulau jika tidak menyentuh akar masalah utamanya, pengelolaan lahan.

“Teknologi yang paling menjanjikan adalah restorasi dan pembasahan gambut permanen, dipadukan dengan pemantauan satelit dan kecerdasan buatan untuk deteksi dini. Namun, teknologi hanya akan efektif bila ditopang penegakan hukum, tata kelola lahan yang jelas, dan kerja sama regional antarnegara,” pungkasnya.(rin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Artikel Terbaru