Surabaya, 27 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) meraih Juara 3 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) dalam Historical Festival 2026. Akun Instagram Historical Fest mengumumkan prestasi tersebut pada Kamis (22/10/2026). Himpunan Mahasiswa (HIMA) Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar kompetisi tersebut dalam kategori artikel ilmiah.
Tim tersebut terdiri atas Izzul Islamy Buyung Agustian sebagai argumentator, Bahrul Ulum Assidiqi yang bertanggung jawab atas penelitian sejarah, serta Galih Dien Fu’adi yang berperan dalam penyusunan dan perbaikan karya ilmiah. Ketiganya mengangkat penelitian berjudul Analisis Perlawanan Kuli Tionghoa dalam Jaringan Arus Pelayaran Hindia Belanda, 1903-1931.
Mengangkat Perlawanan Kuli Tionghoa
Penelitian tersebut berangkat dari ketertarikan tim terhadap kajian historiografi perbudakan yang cenderung berpusat pada perkebunan. Tim berupaya memperluas sudut pandang dalam penulisan sejarah perbudakan pada masa Hindia Belanda. Pemilihan topik tersebut juga berangkat dari perhatian mereka terhadap persoalan eksploitasi tenaga kerja yang masih relevan hingga saat ini.
“Kami juga merefleksikan kondisi dewasa ini mengenai eksploitasi Anak Buah Kapal (ABK) yang masih kerap terjadi. Berangkat dari celah historiografi dan refleksi itulah yang mendorong kami untuk melakukan fokus penelitian tersebut,” ungkap Galih.
Merangkai Pola dari Sumber Sejarah
Dalam proses penelitian, setiap anggota mengusulkan fokus pembahasan berdasarkan temuan masing-masing. Mereka kemudian berdiskusi untuk menentukan topik, membagi tugas, dan menyusun linimasa penelitian. Sejumlah studi kasus mengenai pemberontakan kuli Tionghoa pada kapal dan waktu berbeda menjadi dasar untuk merumuskan pola kausalitas.
Keterbatasan sumber primer menjadi tantangan utama selama proses penelitian. Untuk mengatasinya, tim mensintesis sumber primer dengan literatur relevan agar dapat menemukan keterkaitan antartemuan sejarah.
“No document no history, istilah itulah yang menggambarkan keterbatasan kami dalam melakukan penelitian sejarah dikarenakan minimnya sumber primer yang kami dapati,” jelas Bahrul Ulum.
Belajar dari Pengalaman Kompetisi
Bagi tim, capaian tersebut terasa istimewa karena menjadi pengalaman pertama mereka mengikuti kompetisi penulisan ilmiah. Selain keunikan topik, kerapian tata bahasa, kemampuan presentasi, dan ketepatan menjawab pertanyaan turut menjadi aspek yang mereka upayakan selama kompetisi.
Ke depannya, tim berharap dapat memperbaiki kualitas penelitian sejarah melalui pemanfaatan sumber primer yang lebih banyak. Mereka juga berpesan agar mahasiswa berani memulai karya dari topik yang menarik perhatian, mengembangkannya melalui riset mendalam, serta membangun kolaborasi yang sehat. “U dont have to be perfect, just be brave,” pungkas Izzul.(naf)
