Surabaya, 2 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Selam Jawa Timur mencatat sejarah dengan meraih hattrick juara umum pada tiga Pekan Olahraga Nasional (PON) berturut-turut. Di balik raihan tersebut, terdapat proses pembinaan yang berlangsung bertahun-tahun melalui Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) yang dijalankan secara konsisten, terukur, dan didukung secara menyeluruh.
Ketua Umum Pengprov POSSI Jawa Timur, Mirza Muttaqien, mengatakan prestasi di ajang multi-event nasional tidak dibangun dalam hitungan bulan menjelang pertandingan, melainkan melalui proses pembinaan jangka panjang yang dilaksanakan secara disiplin.
“Medali diraih saat PON, tetapi juara dibentuk setiap hari selama Puslatda,” ujar Mirza.
Menurutnya, Puslatda harus memiliki program latihan yang terukur, dilaksanakan setiap hari (day to day), disertai evaluasi berkala, serta didukung uji coba dan kompetisi secara periodik untuk mengukur perkembangan atlet.
“Prestasi di PON merupakan akumulasi dari ribuan jam latihan. Karena itu, pembinaan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan target dan evaluasi yang jelas pada setiap tahap,” katanya.

Sebagai contoh, pada persiapan PON sebelumnya, Puslatda cabang olahraga selam Jawa Timur dipusatkan di Kolam Renang Saigon, Pasuruan. Pelaksanaan Puslatda tidak hanya menyediakan tempat latihan, tetapi juga didukung pembiayaan yang komprehensif, meliputi sewa kolam, akomodasi, konsumsi dan asupan gizi atlet, peralatan latihan, transportasi, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Menurut Mirza, dukungan tersebut memungkinkan atlet dan pelatih menjalani program latihan secara penuh sehingga seluruh tahapan pembinaan dapat dilaksanakan sesuai rencana.
Ia menambahkan, tantangan pembinaan juga semakin besar bagi atlet yang telah berkeluarga.
“Bagi atlet yang telah berkeluarga, tantangannya bukan hanya meningkatkan performa untuk meraih prestasi, tetapi juga memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Dalam kondisi seperti itu, atlet sering dihadapkan pada pilihan antara menjaga fokus latihan atau membagi perhatian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena itu, Puslatda memerlukan dukungan yang komprehensif agar atlet dan pelatih dapat berkonsentrasi penuh menjalankan program latihan,” ujarnya.
Mirza menegaskan, keberhasilan mempertahankan prestasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas atlet dan pelatih, tetapi juga oleh keberlangsungan sistem pembinaan yang mampu memberikan kepastian selama proses latihan berlangsung.
“Juara tidak dibentuk pada hari pertandingan. Juara dibentuk setiap hari ketika atlet datang berlatih, menjalankan program dengan disiplin, dan memiliki ketenangan untuk fokus mengejar prestasi,” pungkasnya. (her)
