Surabaya 6 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kurnia Ramadhani membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan kapasitas akademik dapat berjalan beriringan. Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2005 itu meniti karier di bidang kesehatan masyarakat sembari terus meningkatkan kompetensi melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan internasional.
Lulus dari peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada 2009, Kurnia memulai karier sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di RSUD Waluyo Jati pada 2010. Sebagai penyuluh kesehatan masyarakat, ia terlibat langsung dalam berbagai upaya peningkatan kesehatan masyarakat di tingkat pelayanan.
Ikuti Program Pelatihan di Berbagai Negara
Komitmennya terhadap pengembangan ilmu membawanya melanjutkan studi Magister Promosi Kesehatan pada 2013–2015 melalui beasiswa unggulan. Penelitiannya berfokus pada pengaruh media terhadap kesehatan reproduksi remaja. Pada 2018, ia memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan Local Economic Development di Belanda melalui Nuffic Fellowship Programme (NFP) yang memperluas perspektifnya mengenai keterkaitan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Karier Kurnia terus berkembang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan dan Keperawatan RSUD Tongas pada periode 2017–2019 serta mengikuti program Global Change Leader di Kanada. Pada awal 2019, ia dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan studi doktoral atau menerima amanah sebagai Kepala Puskesmas Tongas. Kurnia memilih tetap mengabdi dan memimpin puskesmas tersebut.
Selama memimpin Puskesmas Tongas pada 2019–2025, Kurnia bersama tim mengembangkan berbagai inovasi kesehatan masyarakat. Program-program tersebut meliputi penguatan peran kader dalam pendampingan ibu hamil dan imunisasi, penyediaan makanan tambahan posyandu berbasis desa, pemberdayaan pedagang sayur keliling sebagai penyuluh gizi, peningkatan kepedulian terhadap pangan lokal, hingga pemberdayaan remaja dalam pencegahan anemia.
Pada masa pandemi COVID-19, ia turut mengembangkan layanan konsultasi kesehatan gratis. Setelah pandemi, inovasi berlanjut melalui pengembangan chatbot WhatsApp untuk edukasi pencegahan stunting.
Perhatian Kurnia terhadap kesehatan ibu melahirkan program “Mbakyu Sahabat Bumil” yang didukung Samya Stumo Fellowship for Global Health. Program tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas kader dalam mendampingi ibu hamil hingga masa nifas melalui edukasi, pemantauan, dan kunjungan rumah. Bersama berbagai pemangku kepentingan, program tersebut berkontribusi terhadap pencapaian nol angka kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas Tongas.
Atas inovasi tersebut, Kurnia berkesempatan mempresentasikan programnya pada Women’s Health Conference di Singapura pada 2024. Saat ini, ia tengah menempuh studi doktoral di Department of Health Sciences, University Medical Center Groningen, University of Groningen, Belanda, dengan fokus penelitian pada intervensi pencegahan anemia remaja di Indonesia. Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian, Kurnia terus menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan solusi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat.(naf)
