Jombang, 21 Agustus 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Pemerintah terus memperkuat upaya percepatan penemuan dan penanganan kasus Tuberkulosis (TB) melalui pendekatan jemput bola, khususnya di lingkungan pendidikan berasrama dan pondok pesantren. Langkah tersebut dilakukan dengan menghadirkan pemeriksaan rontgen dada secara langsung untuk mendeteksi potensi kasus TB lebih dini.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekaligus skrining TB menggunakan rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Kamis (20/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Budi menegaskan bahwa percepatan skrining menjadi salah satu kunci dalam menekan angka kematian akibat TB. Menurutnya, meskipun obat untuk TB telah tersedia, keterlambatan dalam menemukan penderita menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penyakit tersebut masih menimbulkan angka kematian yang tinggi.
“Ini penyakit yang kematiannya 120-140 ribu setahun. Lebih banyak dari Covid, dan kalau kita ngomong setiap lima menit dua orang meninggal,” ujar Budi.
Ia menjelaskan, Indonesia saat ini masih menjadi salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Karena itu, upaya menemukan penderita secara cepat perlu diperkuat, terutama di lingkungan yang memiliki interaksi dan kepadatan tinggi seperti sekolah berasrama, pondok pesantren, serta lembaga pemasyarakatan.
Budi mengatakan, proses pemeriksaan TB selama ini masih menghadapi tantangan karena membutuhkan pemeriksaan yang tidak sederhana. Kondisi tersebut membuat proses penemuan kasus terkadang membutuhkan waktu cukup panjang.
“Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketahuannya sering sangat-sangat lama,” katanya.
Untuk mempercepat deteksi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memperbanyak penggunaan perangkat rontgen yang dapat dibawa langsung ke berbagai lokasi. Pemerintah bahkan berencana menyediakan ribuan perangkat X-ray mobile untuk mendukung pelaksanaan skrining secara lebih luas.
“Sekarang dengan teknologi baru, X-ray itu bisa dibawa ke mana-mana. Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, agar bisa melakukan skrining atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, ke lapas-lapas,” jelasnya.
26 Santri Terindikasi TB
Pelaksanaan skrining di Pondok Pesantren Tebuireng menunjukkan pentingnya deteksi dini. Dari pemeriksaan yang dilakukan, sebanyak 26 siswa terindikasi mengalami TB.
Budi menilai temuan tersebut justru merupakan hal positif karena kasus dapat segera ditindaklanjuti dengan pengobatan.
“Tadi sudah dicek, sudah ketemu 26. Kalau ketemu tidak apa-apa. Justru dengan ketemu bisa diobatin. Dan kalau sudah diobatin sebulan, berhenti penularannya,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun menjauhi orang yang terindikasi TB. Menurutnya, penderita yang telah ditemukan dan mendapatkan pengobatan justru memiliki peluang untuk menghentikan penularan penyakit tersebut.
Pesan serupa disampaikan Hj. Lelly Lailiyah, istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Ia menyebut 26 siswa tersebut masih dalam kategori indikasi dan selanjutnya akan mendapatkan penanganan serta pengobatan secara gratis.
“Untuk semua santri-santri Tebuireng tidak perlu takut tertular. Teman-teman kalian yang terindikasi akan diberikan obat langsung selama kurang lebih satu bulan sampai tiga bulan. Gratis,” jelas Lelly.
Lelly juga meminta para santri agar tidak mengisolasi atau menjauhi teman yang terindikasi TB. Sebagai langkah perlindungan, para santri dapat menggunakan masker serta tetap mengikuti arahan tenaga kesehatan.
Ditargetkan Menjangkau 42 Ribu Pesantren
Kemenkes selanjutnya akan memperluas pelaksanaan skrining TB ke lingkungan pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut ditargetkan dapat menjangkau sekitar 42 ribu pesantren.
Budi menyampaikan, Pondok Pesantren Tebuireng menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan skrining berbasis komunitas tersebut. Ia berharap praktik serupa dapat diterapkan di pesantren-pesantren lainnya.
“Terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42 ribu pesantren lainnya,” tandasnya.
Menurutnya, lingkungan pesantren menjadi salah satu lokasi strategis untuk penguatan deteksi dini karena banyak santri tinggal dalam lingkungan bersama dengan aktivitas dan interaksi yang intensif.
Melalui pendekatan jemput bola tersebut, pemerintah berharap semakin banyak kasus TB dapat ditemukan lebih awal, segera mendapatkan pengobatan, sekaligus memutus mata rantai penularan.
Upaya ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, lembaga pendidikan, pondok pesantren, keluarga, dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang sehat serta bebas dari stigma terhadap penderita TB. (jal)
