Surabaya , 1 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Puskesmas Sememi melakukan pemeriksaan kesehatan bagi Calon Jemaah Haji (CJH) untuk persiapan keberangkatan tahun 2027, Kamis (1/10/2026). Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kondisi kesehatan jemaah sebelum menjalankan ibadah haji.
Kepala UPT Puskesmas Sememi, dr. Ratih Sekar Ayu, M.Kes., menjelaskan pemeriksaan kesehatan CJH meliputi sejumlah tahapan. Di antaranya pemeriksaan fisik dan tanda vital, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan penunjang, hingga penilaian status istitha’ah kesehatan.
Pada pemeriksaan fisik, calon jemaah menjalani pengukuran tinggi dan berat badan, lingkar perut, serta tekanan darah. Sementara pemeriksaan laboratorium mencakup pemeriksaan darah, fungsi ginjal, kadar gula darah seperti HbA1c, serta analisis urine dan pemeriksaan dahak apabila diperlukan.

Selain itu, calon jemaah juga dapat menjalani pemeriksaan penunjang berupa elektrokardiogram (EKG) dan rontgen dada atau thorax. Seluruh hasil pemeriksaan tersebut menjadi bahan untuk menentukan kondisi kesehatan dan kemampuan jemaah dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.
Ratih menegaskan, ditemukannya penyakit tertentu pada calon jemaah tidak serta-merta berarti yang bersangkutan tidak dapat berangkat haji. Salah satunya pada calon jemaah yang terdiagnosis tuberkulosis (TBC).
Menurutnya, calon jemaah dengan TBC perlu menjalani pengobatan terlebih dahulu hingga kondisi penyakitnya tidak lagi menular. Setelah memenuhi persyaratan kesehatan, yang bersangkutan tetap dapat dipertimbangkan untuk berangkat sesuai ketentuan yang berlaku.
“Bukan berarti langsung tidak boleh berangkat. Masih ada waktu untuk menjalani pengobatan. Ketika sudah tidak menular, calon jemaah dapat berangkat dengan tetap menjalani pengobatan sesuai anjuran,” jelasnya.
Ratih mengatakan, pemeriksaan kesehatan juga bertujuan meningkatkan kesadaran jemaah mengenai pentingnya menjaga kondisi tubuh sejak sebelum keberangkatan.
Jemaah diharapkan mampu menjaga kesehatan secara mandiri, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis. Pengendalian gula darah bagi penderita diabetes, misalnya, perlu dilakukan secara rutin melalui pengobatan, pola makan, serta aktivitas fisik yang sesuai.

Kondisi tersebut menjadi penting karena selama pelaksanaan ibadah haji, jemaah akan menghadapi aktivitas fisik yang cukup padat, perubahan pola tidur, perjalanan panjang, serta kondisi lingkungan yang berbeda.
Selain kesehatan fisik, aspek psikologis juga menjadi perhatian. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh agar jemaah memiliki kesiapan yang memadai sebelum menjalani rangkaian ibadah.
Ratih juga mengingatkan calon jemaah untuk memperhatikan penyakit yang dapat menular melalui saluran pernapasan. Jemaah akan berada dalam lingkungan yang relatif padat, mulai dari perjalanan menggunakan pesawat hingga tinggal bersama jemaah lainnya.
“Karena nantinya jemaah berada dalam satu pesawat dan satu kamar dengan beberapa orang, penyakit saluran pernapasan yang menular melalui udara perlu diantisipasi,” katanya.
Ia berharap pemeriksaan kesehatan tidak sekadar menjadi tahapan administratif, tetapi benar-benar dimanfaatkan jemaah untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing dan melakukan persiapan sejak dini.
Dengan persiapan kesehatan yang baik, calon jemaah diharapkan dapat menjalankan ibadah haji secara lebih mandiri, aman, dan optimal.(her)
