Surabaya, 15 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Sepuluh instrumen tradisional Nusantara berpadu dalam karya Tetabuhan yang mengantarkan Svara Pertiwi Ensemble Universitas Negeri Surabaya (Unesa) meraih juara 2 dalam kompetisi musik internasional di Jepang.
Prestasi tersebut diraih dalam ajang 27th Osaka International Music Competition 2026 kategori Folks Instruments Ensemble di Osaka, Jepang, pada 2–12 Oktober 2026. Tim yang berasal dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa ini merupakan bagian dari UKM Unesa Symphony Orchestra.
Keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk memperkenalkan keragaman instrumen tradisional Indonesia kepada masyarakat internasional melalui pertunjukan musik.
Dosen pembina, Harpang Yudha, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras, kedisiplinan, kreativitas, dan kolaborasi seluruh anggota. Menurutnya, kekuatan konsep musikal dan proses pembinaan menjadi faktor penting dalam mempersiapkan tim menghadapi kompetisi.
“Musik tradisional Indonesia memiliki kualitas artistik dan daya saing yang dapat diapresiasi di panggung internasional,” ujar dosen S-1 Musik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa tersebut.
Dalam kompetisi itu, Svara Pertiwi Ensemble membawakan Tetabuhan karya Moh. Sarjoko dengan durasi sekitar tujuh menit 45 detik. Pertunjukan tersebut memadukan calung, kentongan, bende, ceng-ceng, klunthung, kendang Banyuwangi, hasapi, suling Jawa berukuran kecil dan besar, serta slompret.
Perpaduan instrumen dengan karakter bunyi berbeda menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Mereka harus menjaga ketepatan ritme, tempo, dinamika, artikulasi, dan keseimbangan bunyi agar seluruh instrumen menyatu dalam komposisi yang harmonis.
Harpang menjelaskan, persiapan dilakukan melalui latihan bertahap, mulai dari penguasaan teknik setiap instrumen, latihan per kelompok, hingga latihan ansambel secara menyeluruh.
Proses tersebut turut membentuk karakter mahasiswa, terutama dalam hal tanggung jawab, manajemen waktu, kedisiplinan, dan komitmen terhadap target bersama.
Pengalaman tersebut dirasakan Ahmad Ivav Yunianto Putra, mahasiswa S-1 Musik FBS Unesa yang tergabung dalam tim. Ia menilai kompetisi di Osaka menjadi ruang pembelajaran untuk mengasah kemampuan musikal sekaligus memahami pentingnya kerja sama dalam sebuah ansambel.
“Pengalaman paling berkesan adalah saat menyajikan karya Tetabuhan di hadapan audiens internasional. Kami membawa misi kebudayaan untuk memperkenalkan keragaman instrumen tradisional Indonesia melalui bahasa musik yang dapat dipahami lintas budaya,” ungkapnya.
Tim ini terdiri atas empat dosen S-1 Musik, yakni Harpang Yudha K., Moh. Sarjoko, Marda Putra M., dan Radhitya Mukti,. Serta empat mahasiswa, yaitu Ahmad Ivav Yunianto Putra, Aurelia Putri Ramadhani, Neiza Chiquita Putri, dan Nabil Zahdiannur R.(her)
