Lumajang, 2 Nopember 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kekaguman terhadap keindahan Jepang justru mengantarkan Shila Rahma untuk melihat potensi daerahnya sendiri. Saat berkunjung ke Negeri Sakura, ia melihat kemiripan lanskap Gunung Semeru dengan Gunung Fuji. Pengalaman itu kemudian menginspirasi lahirnya Sakura Garden, destinasi wisata bernuansa Jepang yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang sejak sekitar 2019.
Bagi Shila, gagasan menghadirkan suasana Jepang di Lumajang bukan sekadar menghadirkan konsep wisata yang berbeda. Lebih dari itu, ia ingin mengolah inspirasi dari luar menjadi peluang dengan memanfaatkan kekayaan alam dan potensi lokal yang ada di sekitarnya.
“Saya pernah berkunjung ke Jepang. Kebetulan, saya melihat potensi Lumajang, terutama Gunung Semeru, yang menurut saya mirip sekali dengan Gunung Fuji. Selain itu, potensi alam dan pertanian di kawasan Sumbermujur juga menjadi inspirasi saya,” ungkap Shila, Minggu (1/11/2026).
Berawal dari Kekaguman terhadap Jepang
Perjalanan ke Jepang menjadi titik awal munculnya gagasan Sakura Garden. Di sana, Shila mengamati bagaimana keindahan alam dapat berpadu dengan penataan kawasan dan konsep wisata yang menarik.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat Lumajang dari sudut pandang berbeda. Gunung Semeru dengan karakter lanskapnya, ditambah potensi alam dan pertanian di kawasan Sumbermujur, dinilai memiliki daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata.
Dari pemikiran itu, Shila mulai merintis Sakura Garden sekitar 2019. Ia mencoba mengadaptasi inspirasi dari Jepang dengan tetap memperhatikan karakter dan potensi daerah setempat.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas dalam membangun destinasi tidak selalu harus berangkat dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Inspirasi dari tempat lain dapat menjadi pemantik untuk menemukan nilai dari potensi yang sudah dimiliki daerah sendiri.
Menghadirkan Pengalaman Wisata Bernuansa Jepang
Sakura Garden dikembangkan dengan menghadirkan suasana taman bergaya Jepang atau Japanese Garden. Penataan taman menjadi salah satu identitas yang ditawarkan kepada pengunjung, sekaligus memberikan alternatif pengalaman wisata di Lumajang.
Daya tariknya tidak hanya terletak pada suasana taman. Pengelola juga menyediakan penyewaan pakaian bergaya Jepang yang dapat dikenakan pengunjung untuk mengabadikan momen di berbagai sudut kawasan.
Konsep tersebut memberikan pengalaman yang lebih interaktif. Pengunjung tidak hanya menikmati suasana taman, tetapi juga dapat merasakan nuansa wisata bertema Jepang melalui aktivitas berfoto dengan pakaian khas yang disediakan.
Respons pengunjung terhadap konsep tersebut menjadi bagian dari perjalanan Sakura Garden dalam memperkenalkan alternatif wisata dengan karakter tersendiri. Taman ini menawarkan pengalaman berbeda bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana bernuansa Jepang tanpa harus bepergian ke luar negeri.
Kreativitas Anak Muda Mengangkat Potensi Daerah
Sebagai bagian dari generasi milenial, Shila memandang pengembangan destinasi wisata sebagai salah satu ruang bagi anak muda untuk berkontribusi dalam memajukan daerah.
Baginya, potensi lokal membutuhkan kreativitas agar dapat dikemas menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik dan nilai tambah. Kekayaan alam, pertanian, maupun karakter lanskap daerah dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghadirkan gagasan usaha dan pengalaman wisata.
Sakura Garden menjadi salah satu gambaran bagaimana pengalaman perjalanan dapat berkembang menjadi sebuah inisiatif lokal. Kekaguman Shila terhadap Gunung Fuji dan suasana Jepang justru membawanya untuk melihat kembali keistimewaan lingkungan tempat tinggalnya.
Gagasan tersebut juga menunjukkan bahwa mengembangkan potensi daerah tidak selalu berarti meninggalkan identitas lokal. Inspirasi dari luar dapat diadaptasi, sementara kekuatan dan karakter daerah tetap menjadi bagian penting dari konsep yang dibangun.
Melalui Sakura Garden, Shila menghadirkan alternatif wisata bernuansa Jepang di Lumajang. Sebuah inisiatif yang berangkat dari pengalaman pribadi, kemudian tumbuh menjadi bentuk kreativitas anak muda dalam membaca peluang dan memperkenalkan potensi daerah melalui pengalaman wisata yang berbeda. (MC Diskominfo Kab. Lumajang)
