More
    BerandaUncategorizedRumah Radio Bung Tomo dan Jejak Memori Nasionalisme Rakyat Surabaya

    Rumah Radio Bung Tomo dan Jejak Memori Nasionalisme Rakyat Surabaya

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 10 Maret 2026 | Draft Rakyat Newsroom  – Tidak banyak kota di Indonesia yang memiliki sejarah sekuat kota Surabaya. Kota ini tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan di Jawa Timur, tetapi juga sebagai ruang lahirnya keberanian rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.

    Namun di tengah hiruk-pikuk modernisasi kota hari ini, ada sebuah ironi yang jarang disadari: salah satu tempat yang pernah menjadi pusat gaung revolusi rakyat Surabaya justru telah hilang dari lanskap kota.

    Di sebuah sudut kota, tepatnya di Jalan Mawar nomor 10 dan 12, pernah berdiri sebuah rumah sederhana yang kelak menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa. Dari rumah itulah gaung perlawanan rakyat Surabaya dalam peristiwa Battle of Surabaya pada 10 November 1945 pernah disiarkan melalui sebuah radio perjuangan. Dari ruang kecil itulah suara Bung Tomo menggema membakar semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

    Menjelang hari-hari genting itu, Surabaya berada dalam suasana yang tegang. Pasukan Sekutu yang datang bersama kepentingan kolonial Belanda perlahan memasuki kota. Rakyat Surabaya yang baru saja merasakan kemerdekaan menolak kembali hidup di bawah bayang-bayang penjajahan.

    Di kampung-kampung, para pemuda berkumpul merancang perlawanan. Di pelabuhan dan pasar, percakapan rakyat dipenuhi oleh satu kata yang sama: mempertahankan kemerdekaan.

    Di tengah situasi itulah suara Bung Tomo menggema melalui radio perjuangan. Dengan retorika yang penuh emosi dan keyakinan, ia menyerukan kepada rakyat Surabaya untuk tidak menyerah kepada kekuatan kolonial.

    Dalam pidatonya yang kemudian menjadi legenda, ia berkata:
    “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu kita tidak akan mau menyerah kepada siapa pun juga.”

    Kata-kata itu melintasi ruang-ruang kota. Ia didengar oleh buruh pelabuhan, santri di pesantren, pedagang kecil, dan para pemuda kampung yang kemudian turun ke jalan dengan keberanian yang mungkin tidak mereka sadari sebelumnya. Radio itu menjadi medium yang menyatukan emosi kolektif rakyat Surabaya—kemarahan terhadap kolonialisme sekaligus harapan untuk mempertahankan kemerdekaan.

    Rumah radio itu pada akhirnya bukan sekadar tempat siaran. Ia menjelma menjadi ruang lahirnya nasionalisme rakyat—nasionalisme yang tidak lahir dari ruang diplomasi atau meja kekuasaan, tetapi dari keberanian rakyat biasa yang merasa tanah airnya sedang dipertaruhkan.

    Namun sejarah sering kali memiliki nasib yang tidak selalu ramah dengan perjalanan waktu. Rumah sederhana di Jalan Mawar itu kini tidak lagi menjadi bagian dari lanskap sejarah kota Surabaya. Ruang yang dahulu memancarkan semangat revolusi perlahan berubah wajah mengikuti arus modernisasi dan ekspansi ekonomi kota. Di tempat yang pernah menjadi pusat siaran radio perjuangan itu kini berdiri kawasan bisnis modern milik Jayanata.

    Perubahan ini tentu tidak dapat dipahami sekadar sebagai perubahan fungsi bangunan. Tapi ini mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah kota memperlakukan sejarahnya sendiri.

    Modernisasi kota sering kali berjalan dengan logika yang sederhana namun keras: ruang dihitung berdasarkan nilai ekonomi, bukan nilai sejarah.

    Tanah di tengah kota dinilai berdasarkan potensi bisnisnya, sementara bangunan yang menyimpan memori perjuangan sering dianggap sebagai peninggalan masa lalu yang tidak lagi relevan dengan dinamika pembangunan.

    Padahal bagi bangsa yang pernah dijajah, memori perjuangan bukan sekadar nostalgia romantik. Ia adalah fondasi moral yang menjaga kesadaran kolektif tentang arti kemerdekaan.

    Beberapa waktu lalu bahkan Presiden Prabowo Subianto secara terbuka menyinggung hilangnya rumah radio Bung Tomo dalam sebuah forum nasional. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa bangsa ini terkadang terlalu cepat melupakan ruang-ruang kecil yang pernah melahirkan keberanian besar dalam sejarahnya.

    Dalam perspektif yang lebih luas, hilangnya rumah radio itu juga memperlihatkan apa yang dapat disebut sebagai politik ingatan dalam pembangunan kota. Kota modern tidak hanya membangun jalan, gedung, dan pusat ekonomi, tetapi juga secara tidak langsung menentukan apa yang diingat dan apa yang dilupakan oleh masyarakatnya. Ketika ruang-ruang sejarah digantikan oleh ruang komersial, yang sesungguhnya sedang berlangsung adalah proses penyusutan memori kolektif.

    Kota menjadi semakin modern secara fisik, tetapi bisa saja semakin miskin secara historis.
    Sebagai warga yang hidup di kota Surabaya, kisah rumah radio Bung Tomo bukan sekadar cerita sejarah yang dibaca dalam buku pelajaran. Ia adalah bagian dari memori kota yang membentuk identitas Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Identitas itu tidak hanya hidup dalam monumen-monumen besar atau peringatan seremonial setiap 10 November. Ia juga hidup dalam ruang-ruang kecil yang pernah menjadi saksi keberanian rakyatnya.

    Hari ini, jika seseorang berjalan melewati Jalan Mawar nomor 10 dan 12, ia mungkin tidak lagi menemukan jejak rumah sederhana yang pernah menjadi tempat bergemanya suara perjuangan rakyat. Yang terlihat hanyalah wajah kota yang modern, rapi, dan sibuk dengan aktivitas ekonomi.

    Namun sejarah sejatinya tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya bisa dilupakan.

    Dan jika ruang-ruang sejarah terus hilang dari kota ini, maka yang perlahan ikut hilang bukan hanya bangunannya, tetapi juga kesadaran kita tentang bagaimana kemerdekaan pernah diperjuangkan.

    Surabaya, 11 Maret 2026

    M. Isa Ansori
    Kolumnis dan Dosen Pengajar Transaksional Analisis dan Psikologi Komunikasi, Wakil Ketua ICMI Jatim dan Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru