More
    BerandaTeknologiManfaatkan Kulit Singkong, Zeolit Alam, dan Slag Besi, Mahasiswa UNAIR Atasi Limbah...

    Manfaatkan Kulit Singkong, Zeolit Alam, dan Slag Besi, Mahasiswa UNAIR Atasi Limbah Logam Berat Tambang Nikel 

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 15 Juni 2026  | Draft Rakyat Newsroom – – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) kembangkan penelitian berbasi solusi terhadap pencemaran logam berat Cr(VI) yang kerap ditemukan di kawasan pertambangan. Hal itu berpotensi membahayakan kesehatan manusia maupun kelestarian lingkungan. Permasalahan ini semakin relevan seiring meningkatnya aktivitas pertambangan nikel sebagai bahan baku utama dalam produksi baterai untuk perangkat elektronik dan kendaraan listrik. 

    Untuk mengatasi limbah tersebut, mahasiswa yang lolos pendanaan skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Eksakta (RE) itu menawarkan metode adsorpsi magnetik dengan memanfaatkan kombinasi kulit singkong, zeolit alam dan Fe3O4 dari slag besi sebagai material adsorben. 

    Riset ini mengusung Komposit Zeolit Alam, Karbon Aktif Kulit Singkong, dan Fe3O4 Slag Besi Sebagai Adsorben Efektif Limbah Cr(VI) Tambang Nikel. Tim tersebut berasal dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Program Studi Teknik Lingkungan. Di antaranya, Sulaiman Fadhli, Muhammad Haris Afta Firdaus, Ahmad Soleh, Ahmad Zaydan Taqiyuddin, dan Layla Lubna Irwandy. 

    Trio Adsorben Magnetik 

    Ketua tim, Sulaiman mengatakan bahwa ide itu terbesit saat di bangku kelas berkat pelajaran salah seorang dosen Dr rer nat Ganden Supriyanto M Sc. “Pak Ganden bercerita mengenai aktivitas penghasil limbah cair yang mengandung logam berat Cr(VI) dari tambang nikel yang mengandung racun berbahaya bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya.

    Menurutnya, manfaat kulit singkong kurang menjadi sorotan. Sehingga mereka menyulapnya menjadi bagian yang bermanfaat sebagai karbon aktif adsorpsi polutan. 

    “Zeolit alam merupakan mineral yang sering digunakan sebagai adsorben yang berkontribusi dalam penyerapan Cr(VI). Kemudian Slag besi merupakan limbah yang mengandung Fe3O4 yang memberi sifat magnetis pada adsorben,” tutur Sulaiman.

    Proses Penelitian

    Sulaiman mengatakan bahwa saat ini riset tersebut dalam tahap penelitian. “Setelah adsorbennya kita uji di larutan Cr(VI) skala lab, selanjutnya diuji dengan menggunakan limbah asli tambang nikel. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apakah ada polutan lain selain Cr(VI) yang akan memengaruhi efisiensi penyerapan adsorben kami,” ujar Sulaiman.  Sulaiman berharap inovasi ini dapat dikembangkan dan direalisasi untuk menangani limbah Cr(VI) secara ramah lingkungan. Apalagi, limbah kulit singkong banyak berasal dari industri olahan singkong sehingga mendukung SDGs 6 (air bersih dan sanitasi layak), SDGs 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), SDGs 13 (penanganan perubahan iklim), SDGs 15 (ekosistem daratan), dan SDGs 17 (kemitraan untuk mencapai tujuan).(rin)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru