Surabaya 15 Juni 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) selalu berada di garis terdepan dalam hal terobosan. Pasalnya, mereka berhasil lolos pada Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dengan terobosan platform digital berupa layanan kesehatan mental freemium yang menggabungkan peer-support serta gamifikasi sebagai respon empati sekaligus membangun langkah preventif. Platform ini bernama Curhatorium yang lahir dari kepedulian mereka terhadap minimnya akses perawatan yang memadai terkait kesehatan mental di masa kini.
Terobosan kreatif itu dibawakan oleh lima orang. Di antaranya I Gede Arya Saputra (FV), Najlaa Prameswariputri Mahendra (FPsi), Maria Priscilla Chrysaningrum (FPsi), Kania Khansanadhifa Kallista (FEB), dan Zaskia Rania Zaini (FV). Mereka terus membangun dan mengembangkan platform ini agar dapat bermanfaat bagi generasi muda.
Fitur Lengkap Curhatorium
Saat ini, tersedia berbagai fitur dan diversifikasi produk dan pengguna yang sudah mencapai sekitar 650 akun pada Curhatorium. Fitur tersebut yaitu share and talk.
Pengguna dapat bercerita kepada psikolog profesional atau Rangers dari para mitra Curhatorium yang sudah terlatih pada Psychological First Aid (PFA). “Fitur ini digunakan dengan cara memesan sesi jadwal yang diinginkan dan pengguna bisa melakukan percakapan, entah itu berupa dukungan atau sekedar curhat,” ujar Arya.
Selanjutnya, terdapat fitur Support Group Discussion dengan konsep mengumpulkan anggota menjadi satu grup dan meet atau video call secara online yang dipandu oleh Rangers, tetapi tetap menjaga anonimitas pengguna. Diskusi itu berlangsung dengan menggunakan deep cards yang merupakan variasi pertanyaan singkat, sehingga pengguna dapat menjawabnya bersama-sama.
Inovasi Lanjutan Menuju Platform Global
Arya, selaku ketua tim juga mengungkapkan rencana keberlanjutan atau ekspansi terhadap kemampuan platform. Pengembangan ini terdiri dari Self-Healing Toolkit Series berupa e-book tematik interaktif, serta output berbentuk fisik. Yaitu, Reflection Card Deck berupa pengembangan yang ada pada deep cards dan Guided Journal dengan prompt harian dan pelacakan emosi yang dirancang untuk membangun kebiasaan self-healing.
“Kemudian, Curhatorium Class yang terdiri program pelatihan berbasis video dan modul PDF mengubah pengetahuan kesehatan mental menjadi keterampilan praktis,” ujar Arya. Pembaharuan ini diharapkan dapat memaksimalkan potensi Curhatorium sebagai sebuah platform yang adaptif, scalable, dapat bersaing di kancah global, serta semakin berdampak untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan mental generasi muda.(rin)
