Surabaya 2 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Krisis energi dan degradasi lingkungan hidup menjadi dua tantangan krusial bagaikan dua sisi mata uang. Menyikapi permasalahan tersebut, Guru Besar ke-245 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Diah Susanti ST MT PhD menggagas inovasi material maju untuk teknologi penyimpanan energi dan pengendalian pencemaran lingkungan yang berkelanjutan.
Melalui penelitian dalam orasi ilmiah bertajuk Rekayasa Material Maju untuk Teknologi Penyimpanan Energi dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi (DTMM) ITS ini menyoroti pentingnya transisi energi. Emisi gas rumah kaca akibat bahan bakar fosil dinilai dapat ditekan lewat konversi limbah polusi. “Dengan teknologi fotokatalis berbahan semikonduktor layaknya komposit reduced Graphene Oxide dan tembaga oksida (rGO/CuO), gas buang CO2 dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif seperti metanol dan metana,” jelas Diah.
Lebih lanjut, teknologi fotokatalis penunjang reaksi kimia dengan bantuan cahaya ini turut dikembangkan untuk menguraikan limbah pewarna industri beracun layaknya Rhodamine-B (RhB) dan Methylene Blue (MB). Perempuan kelahiran Tulungagung tersebut memaparkan bahwa inovasi berbahan dasar rGO/ZnO ciptaannya mampu bekerja secara mutakhir. “Senyawa rakitan Laboratorium Kimia Material DTMM ITS ini sukses mendegradasi polutan cair RhB hingga 99,5 persen hanya dalam kurun waktu lima jam,” ungkapnya.
Dalam sektor penghematan daya, istri dari George Endri Kusuma ST MScEng ini juga menginovasikan alat penyimpan energi berwujud superkapasitor elektrokimia. Menjembatani fungsi kapasitor konvensional dan baterai, peranti ini menutupi kekurangan densitas energi lewat keunggulan pada densitas dayanya. “Kapasitansinya bahkan sanggup mencapai 10 ribu kali lipat lebih besar dibanding kapasitor konvensional biasa,” beber alumnus doktoral National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) tersebut.
Secara mendetail, Diah mengklasifikasikan instrumen tersebut ke dalam tiga jenis utama, yakni Electric Double Layer Capacitor (EDLC), pseudocapacitor, dan sistem hibrida (hybrid). Tipe EDLC memanfaatkan material karbon berpori untuk menyimpan muatan, sedangkan pseudocapacitor menyimpan daya melalui reaksi reduksi-oksidasi. Penelitian mutakhirnya pun sukses merakit ketiga model peranti tersebut menggunakan material rGO yang dipadukan dengan ragam oksida logam layaknya WO3, NiO, CuCr2O4, serta senyawa mangan oksida.
Guna mewujudkan sistem penyimpanan daya masif yang ramah lingkungan, Diah turut menyintesis limbah biomassa lokal Nusantara layaknya eceng gondok, tempurung kelapa, dan kluwak menjadi rGO berpori aktif. Pengaplikasian peranti tingkat tinggi ini nantinya akan diintegrasikan secara hibrida bersama sistem baterai atau fuel cell pada kendaraan listrik masa depan. Sistem cerdas tersebut memegang peran krusial layaknya sebuah tandon yang sanggup melakukan proses pengisian dan pelepasan daya secara kilat guna menstabilkan pasokan kelistrikan keseluruhan.
Ke depannya, perempuan yang mendedikasikan hidupnya pada riset akademik ini berharap terobosan nanoteknologinya tak sekadar mandek di skala laboratorium. Ia bertekad untuk terus memperluas jaringan kolaborasi bersama mitra industri global demi mewujudkan target Net Zero Emission pada tahun 2060 mendatang. “Selagi ada kesempatan, kaum perempuan juga harus terus berdaya dan berupaya memberikan kontribusi riset terbaiknya bagi kelestarian alam,” pesannya memotivasi. Langkah progresif melalui deretan inovasi rekayasa material ini sejatinya selaras dengan komitmen global dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). Pencapaian tersebut secara langsung mendukung poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, poin ke-12 mengenai Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta poin ke-13 terkait Penanganan Perubahan Iklim. Lewat pemanfaatan limbah biomassa dan konversi emisi karbon, riset ini menjadi wujud nyata komitmen ITS dalam menghadirkan teknologi cerdas yang pro terhadap keberlanjutan bumi.(naf)
