Surabaya, 30 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Muhammad Zhafran Prasatya, mahasiswa Program Studi Teknologi Hasil Perikanan (THP), Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), Universitas Airlangga (UNAIR), meraih juara 1 lomba Menulis Indah Aksara Jawa tingkat Provinsi Jawa Timur. Kompetisi yang berlangsung pada Minggu (25/10/2026) tersebut merupakan kolaborasi antara Komunitas Puri Aksara Rajapatni bersama Universitas Wijaya Kusuma.
Prestasi tersebut menarik perhatian, karena Satya, sapaan akrabnya, berasal dari bidang ilmu perikanan. Meski demikian, ketertarikannya terhadap seni, budaya, dan naskah kuno Jawa telah tumbuh sejak usia sekolah dasar.
Berawal dari Ketertarikan pada Naskah Kuno
Ketertarikan Satya terhadap aksara Jawa bermula sejak sekolah dasar (SD). Ketertarikan itu terus ia pertahankan hingga sekarang. Kesempatan mengikuti kompetisi muncul setelah pendiri Puri Aksara Rajapatni memberikan informasi mengenai perlombaan tersebut.
“Jadi sudah belajar menulis aksara Jawa itu sejak SD. Tapi untuk di jenjang SMP, kemudian baru suka dengan naskah kuno dan akhirnya dari situ kebiasaannya kalau ada jam kosong selalu bikin salinan naskah,” ungkapnya.
Mengasah Kemampuan Menulis Aksara Jawa
Menjelang perlombaan, Satya kembali mengasah kemampuan menulis yang sempat lama tidak ia latih. Ia mendapat bimbingan senior pegiat aksara Jawa dan masukan dari seorang peneliti sastra Jawa Universitas Indonesia (UI). Persiapan tersebut mencakup teknik membuat garis bantu, menyalin naskah, hingga mempelajari gaya tulisan dalam naskah klasik.
Dalam kompetisi tersebut, peserta menyalin beberapa tembang dari Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV, seperti Pupuh, Dhandhanggula, dan Pangkur. Penilaian mencakup keindahan tulisan, kelengkapan salinan, kebersihan, serta kreativitas penyajian.
Satya tidak hanya memperhatikan bentuk aksara, tetapi juga unsur estetika yang lazim ditemukan dalam naskah klasik. Ia memanfaatkan tanda baca sebagai elemen ragam hias untuk memperkuat tampilan hasil salinannya.
“Tanda bacanya itu saya buat sebagai tanda hias dan mengambil dari ragam-ragam hias yang ada di naskah klasik gitu,” jelasnya.
Pelestarian Budaya Perlu Tindakan Nyata
Bagi Satya, pelestarian aksara Jawa tidak cukup melalui slogan atau kampanye. Generasi muda perlu mengambil langkah nyata sesuai kemampuan dan bidang masing-masing. Ia menilai siapa pun dapat berkontribusi, termasuk mereka yang berasal dari luar bidang kebudayaan. “Karena untuk pelestarian ini bukan kita membuat poster kita lestarikan budaya Indonesia, tidak seperti itu. Kita harus bener-bener ada langkahnya. Harus ada action-nya,” pesannya.(naf)
