Surabaya, 29 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Berangkat dari Thailand dengan kekhawatiran terhadap kehidupan di Indonesia, Fameela Lateh justru menemukan pengalaman yang mengubah dirinya selama menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Wisudawati asal negeri gajah putih ini mengawali perjalanannya dengan kesulitan beradaptasi dengan bahasa dan lingkungan baru, hingga perlahan tumbuh lebih percaya diri dan berani tampil di depan kelas.
Pengalaman tersebut mengantarkan Fameela menyelesaikan studi di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa dan diwisuda di Graha Unesa pada periode ke-123 Selasa (27/10/2026).
Fameela menempuh pendidikan di Unesa melalui beasiswa dari Lembaga Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah yang memiliki kantor cabang di tanah kelahirannya. Keinginannya memperdalam bahasa Inggris dan pertimbangan jarak yang relatif dekat dari Thailand membuatnya memilih Indonesia sebagai negara tujuan studi.
Meski demikian, keputusan tersebut sempat diiringi kekhawatiran akibat informasi yang didengarnya sebelum berangkat. Ia mengaku orang tuanya sempat berpesan agar berhati-hati ketika berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.
Namun, pengalaman temannya yang pernah berada di Indonesia menguatkan tekadnya untuk tetap melanjutkan studi di luar negeri. Kekhawatiran itu perlahan sirna setelah ia tiba di Surabaya dan berinteraksi langsung dengan masyarakat kampus.
“Saat saya datang, saya melihat kampus Unesa besar dan luas. Orang-orangnya juga baik. Ada orang Unesa yang menjemput di bandara. Sejak itu, saya berpikir tidak perlu takut seperti yang kami bayangkan di Thailand. Saya juga bilang kepada keluarga bahwa di sini aman,” tuturnya.
Setelah beradaptasi dengan lingkungan baru, Fameela menghadapi tantangan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Meski memahami bahasa Melayu, ia masih kesulitan mengikuti percakapan teman-temannya yang menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pada tahun pertama, ia bahkan harus mengandalkan aplikasi penerjemah untuk memahami sejumlah percakapan.
Seiring waktu, pengalaman perkuliahan turut membentuk kepercayaan dirinya. Berbeda dengan sistem belajar di Thailand yang membuatnya terbiasa berada dalam kelompok belajar yang sama, perkuliahan di Unesa mempertemukannya dengan teman-teman berbeda. Interaksi tersebut mendorongnya lebih berani menyampaikan pendapat dan berbicara di depan kelas.
“Di Thailand, kami hanya belajar dan tidak duduk di depan. Di Indonesia berbeda karena kami berganti-ganti belajar dengan teman-teman. Awalnya saya takut tampil di depan kelas, tetapi setelah di sini saya menjadi lebih berani,” katanya.
Dukungan teman-teman selama kuliah menjadi pengalaman berharga bagi Fameela. Ia bahkan ingin mengajak mereka mengunjungi Thailand. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa mobilitas mahasiswa dapat memperluas pemahaman lintas budaya sekaligus membangun kepercayaan diri.(her)
