Surabaya, 29 Oktober 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Penelitian tentang strategi pemulihan ekonomi warga Sudan yang kehilangan harta dan modal usaha akibat perang mengantarkan Yusra Ali Idris meraih gelar magister di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui skema Beasiswa KNB (Kemitraan Negara Berkembang) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Wisudawati asal Sudan tersebut mengembangkan model strategi bertahan hidup yang memadukan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), personal branding, dan kewirausahaan untuk membantu korban konflik membangun kembali kemandirian ekonomi.
Yusra dikukuhkan sebagai lulusan Program Studi S-2 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam Wisuda ke-123 di Graha Unesa pada Selasa (27/10/2026).
Dalam penelitiannya, ia berfokus pada masyarakat Sudan yang kehilangan sumber penghidupan akibat konflik, sekaligus merancang model strategi yang dapat menjadi panduan praktis bagi korban perang untuk memulai kembali aktivitas ekonomi dari kondisi terbatas, termasuk ketika mereka kehilangan modal usaha dan aset produktif.
“Fokus penelitian manajemen yang saya kembangkan merujuk pada model strategi bertahan hidup bagi warga Sudan yang kehilangan seluruh modal dan harta benda akibat konflik, dengan mengintegrasikan pemanfaatan kecerdasan buatan, personal branding, serta strategi kewirausahaan praktis. Model riset ini dirancang khusus sebagai panduan aplikatif agar para korban perang di Sudan dapat membangun kembali kemandirian ekonomi dari titik nol tanpa harus bergantung pada bantuan luar,” ungkap Yusra.
Gagasan tersebut menempatkan penelitian manajemen sebagai salah satu pendekatan untuk merespons persoalan kemanusiaan. Pemanfaatan AI dan penguatan identitas usaha diharapkan dapat membantu masyarakat mengembangkan peluang ekonomi.
Sedangkan strategi kewirausahaan menjadi landasan untuk membangun kembali usaha secara bertahap. Penerapan model tersebut tetap memerlukan penyesuaian dengan kondisi sosial, akses teknologi, dan kebutuhan masyarakat terdampak konflik.
Perjalanan Yusra menyelesaikan studi di Indonesia juga diwarnai dinamika bahasa dan perbedaan lingkungan akademik. Ia mengaku terbantu oleh pendampingan dosen, pimpinan fakultas, serta Unesa Global Engagement (UGE). Dukungan tersebut membantunya beradaptasi dan menyelesaikan studi hingga tahap kelulusan.
“Kelulusan ini memiliki arti personal bagi saya karena saya persembahkan untuk mendiang ayah yang wafat sepanjang konflik angkatan bersenjata di wilayah kami,” jelasnya dengan sendu mengenang sang ayah tercinta.
Keinginan Yusra untuk kembali menempuh pendidikan di Unesa pada jenjang doktoral mendapat respons langsung dari Cak Hasan. Rektor memberikan beasiswa penuh untuk studi S-3 di Unesa. Apresiasi tersebut membuka kesempatan bagi Yusra untuk melanjutkan pengembangan keilmuannya sekaligus memperluas penelitian yang berorientasi pada pemulihan ekonomi masyarakat terdampak perang.
Menurutnya, tantangan berikutnya ialah menerjemahkan hasil penelitian menjadi pendekatan yang dapat diuji dan diterapkan untuk membantu masyarakat membangun kembali penghidupan mereka setelah konflik. (her)
