Surabaya 6 Nopember 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Perubahan karakter peserta didik, pola pengasuhan orang tua, hingga pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan baru bagi profesi guru. Kondisi tersebut menuntut Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) tidak hanya menyiapkan pendidik yang menguasai materi dan teknologi, tetapi juga memiliki competence-set dan adaptif.
Itulah yang dibahas Workshop “Peran LPTK dalam Menyiapkan Guru Masa Depan” yang diselenggarakan Badan Pendidikan Profesi Guru (BPPG) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Verwood Hotel, Surabaya, pada Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini mempertemukan 24 LPTK penyelenggara Pendidikan Profesi Guru (PPG) Rayon Jawa Timur bersama pemerintah dan dinas pendidikan untuk merumuskan arah penyiapan guru masa depan.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia. Ia menyoroti tiga tantangan utama yang perlu diantisipasi, yakni karakter strawberry generation dengan pola belajar yang berbeda, pola pengasuhan orang tua yang cenderung hyper-parenting, serta kemudahan peserta didik memperoleh informasi mandiri melalui teknologi.
“Esensi mengajar adalah cinta dan kasih sayang. Jika guru kehilangan keduanya, guru kehilangan rohnya. Karena itu, guru masa depan harus tetap mengedepankan nilai kemanusiaan di tengah kecanggihan teknologi,” tegas guru besar Fakultas Vokasi (FV) tersebut.
Menjawab tantangan tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTK) Kemendikdasmen, Temu Ismail menjelaskan bahwa pemerintah mengembangkan tata kelola guru melalui tiga tahapan, yakni pre-service, in-service, dan post-service.
LPTK memiliki peran penting dalam menyiapkan calon guru masa depan sekaligus meningkatkan kompetensi guru yang telah bertugas. “LPTK berperan menyiapkan calon guru sekaligus meningkatkan kompetensi guru. Karena itu, sinergi pemerintah dan LPTK harus terus diperkuat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPPG Unesa Fatkhur Rohman Kafrawi menyampaikan bahwa forum ini menjadi wadah penyelarasan antara LPTK sebagai penghasil guru, pemerintah sebagai penentu regulasi, serta dinas pendidikan sebagai pengguna lulusan.
Guru masa depan tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan fasilitator pembelajaran, inovator, penggerak karakter, dan pembelajar sepanjang hayat.
“LPTK perlu melakukan transformasi kurikulum, metode perkuliahan, praktik lapangan, integrasi riset dan teknologi, serta penguatan kemampuan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris,” terangnya.
Inisiatif kolaborasi ini disambut positif peserta. Koordinator Prodi PPG STKIP PGRI Pacitan, Taufik Hidayat menilai koordinasi antarlembaga penyelenggara PPG sangat penting untuk memastikan lulusan yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan pendidikan nasional secara riil.
“Koordinasi dan kolaborasi antarlembaga penting untuk meningkatkan kualitas PPG dan mencetak guru-guru profesional bagi bangsa,” ungkapnya.(her)
