BerandaPendidikanWujudkan Indonesia Emas 2045, Guru Besar UNAIR Integrasikan AI dan Bedah Robotik...

Wujudkan Indonesia Emas 2045, Guru Besar UNAIR Integrasikan AI dan Bedah Robotik untuk Terapi Presisi Kanker Perempuan

Penulis

Tanggal

Kategori

Surabaya, 4 Nopember 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kemajuan teknologi medis membuka harapan baru bagi penanganan kanker pada perempuan, khususnya dalam bidang onkologi ginekologi. Menyongsong visi Indonesia Emas 2045,  Prof Dr dr Brahmana Askandar Tjokroprawiro SpOG Subsp Onk, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR), menggagas pemanfaatan dan integrasi kecerdasan buatan (AI), bedah robotik, dan terapi presisi untuk memperbaiki pelayanan medis sejak tahap diagnosis hingga pemantauan.

Prof Brahmana menegaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) memungkinkan sistem komputer mengenali pola dan mengolah informasi untuk mendukung berbagai tahap pelayanan kesehatan. Mulai dari deteksi dini, diagnosis, perencanaan pengobatan, dan prediksi prognosis hingga pengambilan keputusan klinis.

“Pengembangan Al multimodal memungkinkan pengolahan berbagai jenis data secara bersama, seperti teks klinis, hasil pencitraan, dan informasi molekuler, yang berpotensi memperkaya pertimbangan dalam menentukan pengobatan yang sesuai bagi pasien,” jelasnya saat pidato pada Pengukuhan Guru Besar UNAIR di Aula Garuda Mukti, Gedung Kantor Manajemen, Kampus MERR – C UNAIR.

Teknologi Bedah Robotik

Prof Brahmana menjelaskan bahwa bedah robotik menawarkan visualisasi tiga dimensi beresolusi tinggi serta instrumen berartikulasi yang menyerupai gerakan pergelangan tangan manusia, dengan rentang gerak yang lebih luas dibandingkan instrumen laparoskopi konvensional. “Keunggulan teknis tersebut dapat meningkatkan kualitas pembedahan, sementara manfaat bagi pasien perlu dinilai berdasarkan jenis kanker, prosedur yang dilakukan, dan bukti klinis yang tersedia,” imbuhnya pada Rabu (4/11/2026).

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa keberhasilan bedah robotik sangat bergantung pada kompetensi dokter bedah dan kesiapan tim yang mengoperasikan. Karena itu, pengembangan layanan bedah robotik harus disertai dengan pendidikan dan pelatihan yang terstruktur

“Proses pembelajaran dapat dimulai dari penguasaan teori dan latihan simulasi, dilanjutkan dengan observasi serta keterlibatan sebagai asisten di sisi pasien, kemudian pelaksanaan tahapan operasi di bawah pendampingan operator berpengalaman,” tegasnya.

Terapi Presisi

Selanjutnya, Prof Brahmana menjelaskan bahwa puncak dari pengolahan data AI akan bermuara pada penerapan terapi presisi yang maksimal. AI membantu memadukan seluruh informasi klinis dan hasil pemeriksaan untuk menentukan pengobatan yang paling sesuai dengan karakter biologis dan molekuler kanker pada masing-masing pasien. “Penguasaan dan keterpaduan inovasi teknologi medis ini diharapkan tidak hanya memperkuat kemandirian kesehatan nasional, tetapi juga memastikan setiap perempuan Indonesia mendapatkan akses pengobatan terkini secara merata demi mewujudkan generasi emas 2045,” pesannya. (rin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

Artikel Terbaru