More
    BerandaUncategorizedSAGAVET 2026 Bahas Ancaman Newcastle Disease terhadap Dunia Peternakan Indonesia

    SAGAVET 2026 Bahas Ancaman Newcastle Disease terhadap Dunia Peternakan Indonesia

    Penulis

    Tanggal

    Kategori

    Surabaya 24 Mei 2026  | Draft Rakyat Newsroom – Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan SAGAVET 2026 dengan tema Dampak Penyakit Newcastle dan Kualitas Pakan terhadap Ketersediaan Pangan, serta Peningkatan Kesehatan bagi Pemilik Hewan Kesayangan sekaligus Peluncuran Buku 55 Tahun FKH UNAIR pada Sabtu (23/05/2026) di Rama Ballroom Lt.1, Hotel Wyndham Surabaya. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Suwarno drh MSi sebagai narasumber dalam sesi bertajuk One Hundred Years Newcastle Disease in Indonesia, What Happened?

    Dalam pemaparannya, Prof Suwarno menjelaskan bahwa Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu ancaman global bagi dunia peternakan yang hingga kini masih sulit dikendalikan. Penyakit tersebut telah menjadi endemis di berbagai negara dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi sektor peternakan unggas.

    Evolusi Newcastle Disease dan Tantangan Pengendaliannya

    Ia menjelaskan bahwa perjalanan 100 tahun Newcastle Disease (ND), sejak 1926 hingga 2026, menunjukkan berkembangnya virus yang mengalami mutasi dari waktu ke waktu. Menurutnya, evolusi virus ND menjadi salah satu tantangan utama dalam pengendalian penyakit karena virus mampu beradaptasi dengan lingkungan serta inang yang berbeda.

    “ND hingga saat ini masih menjadi ancaman global bagi sektor peternakan unggas. Selain bersifat endemis dan sulit dikendalikan, penyakit tersebut juga menyebabkan kerugian ekonomi yang besar akibat tingginya angka kematian unggas dan penurunan produktivitas peternakan,” ungkapnya.

    Dalam pemaparannya, Suwarno juga menyoroti adanya keragaman reservoir atau organisme penyimpan virus yang membuat penyebaran ND semakin sulit dikendalikan. Jika sebelumnya virus ND lebih banyak menyerang ayam, kini penyebarannya mulai ditemukan pada berbagai jenis burung lain, termasuk burung pemakan biji, pemakan daging, hingga burung penghasil madu.

    Menurut Suwarno, perubahan pola penyebaran tersebut menunjukkan bahwa virus ND terus mengalami perkembangan yang perlu diwaspadai oleh dunia peternakan maupun kesehatan hewan secara global. Ia menilai mobilitas hewan dan interaksi antarpopulasi burung turut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran virus di berbagai wilayah.

    Dampak Newcastle Disease terhadap Peternakan dan Kesehatan

    Dalam sesi berikutnya, Suwarno menjelaskan bahwa pandemi ND menjadi tantangan serius karena dampaknya tidak hanya mempengaruhi kesehatan hewan, tetapi juga ketahanan pangan dan kondisi ekonomi peternak. Wabah ND dinilai dapat mengganggu produksi unggas nasional sehingga berpotensi mempengaruhi ketersediaan pangan berbasis protein hewani di masyarakat.

    Selain membahas ancaman penyakit, Suwarno turut menyinggung adanya sisi positif virus ND bagi kesehatan yang hingga kini masih terus diteliti lebih lanjut dalam dunia medis dan veteriner. “Penelitian terkait virus ND dinilai memiliki potensi untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan pada masa mendatang.” Melalui kegiatan SAGAVET 2026, FKH UNAIR berharap dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak Newcastle Disease terhadap dunia peternakan sekaligus mendorong pengembangan riset kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat kolaborasi akademisi dan praktisi dalam menghadapi tantangan penyakit hewan yang terus berkembang secara global. (rin)

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini
    Captcha verification failed!
    Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!

    Artikel Terbaru