Surabaya, 28 Juli 2026 | Draft Rakyat Newsroom – Kinerja intermediasi perbankan di Jawa Timur pada triwulan I 2026 menunjukkan tren yang semakin menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Penguatan tersebut didorong oleh membaiknya penyaluran kredit, terutama pada sektor korporasi, dengan kondisi likuiditas dan permodalan perbankan yang tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, Selasa (28/7/2026), mengatakan bahwa fungsi intermediasi perbankan di Jawa Timur terus menunjukkan perbaikan dengan tetap menjaga kualitas aset dan ketahanan sektor keuangan. “Perkembangan intermediasi perbankan di Jawa Timur pada triwulan I 2026 menunjukkan penguatan. Perbaikan penyaluran kredit mulai terlihat, khususnya pada sektor korporasi, sementara stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan likuiditas dan permodalan yang kuat,” ujar Rifki.
Ia menjelaskan, penguatan kredit korporasi didorong oleh membaiknya pembiayaan pada sektor perdagangan dan industri pengolahan. Selain itu, penurunan suku bunga kredit korporasi turut memberikan ruang bagi dunia usaha untuk kembali meningkatkan aktivitas pembiayaan, meskipun sebagian pelaku usaha masih menerapkan sikap wait and see akibat ketidakpastian global, termasuk dampak rambatan konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, risiko kredit korporasi masih berada pada level yang terkendali sehingga tetap mendukung fungsi intermediasi perbankan. Sementara itu, kredit rumah tangga masih mencatatkan pertumbuhan, namun dengan laju yang lebih moderat. Perlambatan terjadi pada hampir seluruh komponen pembentuk kredit, kecuali kredit untuk peralatan rumah tangga dan kredit multiguna.
Menurut Rifki, kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih lemahnya daya beli masyarakat terhadap barang tahan lama (durable goods) serta menurunnya minat masyarakat untuk membeli properti maupun kendaraan bermotor. Hal ini tercermin dari melambatnya realisasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), Kredit Pemilikan Ruko/Rukan, dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), meskipun BI Rate berada dalam tren penurunan.
Pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penyaluran kredit masih mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh tekanan terhadap daya beli masyarakat, walaupun suku bunga kredit UMKM terus mengalami penurunan. “Kendati demikian, pangsa kredit UMKM di Jawa Timur masih berada di atas 30 persen. Hal ini menunjukkan sektor UMKM tetap menjadi perhatian penting dalam penyaluran pembiayaan perbankan,” katanya.
Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) masih mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya simpanan rumah tangga, terutama pada komponen giro dan tabungan. Selain itu, DPK korporasi juga mengalami peningkatan yang terutama berasal dari pertumbuhan simpanan dalam bentuk giro. Kondisi tersebut turut memperkuat likuiditas perbankan di Jawa Timur.
Rifki menambahkan, tingkat intermediasi perbankan tetap berada pada level yang optimal. Hal itu tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 94,01 persen, yang berada di sekitar rentang intermediasi optimal sebagaimana ditetapkan Bank Indonesia melalui Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). Dari sisi ketahanan perbankan, kualitas kredit masih terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) pada triwulan I 2026 tercatat 3,27 persen, relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,23 persen, sehingga menunjukkan risiko kredit masih berada dalam batas aman.
Sementara itu, permodalan perbankan semakin kuat. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 32,93 persen, jauh melampaui ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 8 persen. “Tingginya CAR mencerminkan bahwa industri perbankan di Jawa Timur memiliki kapasitas permodalan yang sangat kuat untuk menyerap berbagai potensi risiko serta tetap mendukung pembiayaan bagi dunia usaha dan masyarakat,” jelas Rifki.
Ia menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan OJK, pemerintah daerah, serta industri perbankan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, memperkuat fungsi intermediasi, dan mendorong penyaluran kredit yang produktif. “Dengan kondisi likuiditas yang memadai, kualitas kredit yang terjaga, serta permodalan yang kuat, kami optimistis sektor perbankan Jawa Timur akan tetap resilien dan mampu menjadi motor penggerak pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika perekonomian global,” pungkas Rifki. (jal
